Trenz Film|Meski menjadi dasar Negara, namun begitu sulitkah nilai nilai PANCASILA untuk diterapkan dalam keseharian hidup? Padahal para founding father bersama sama menyepakati bahwa penerapan nilai nilai luhur dari PANCASILA tak hanya digunakan sebagai dasar untuk mengatur penyelenggaraan Negara, namun juga harus diterapkan untuk menyelesaikan masalah masalah yang terjadi dalam keseharian hidup warga Negara Indonesia demi terjaganya sebuah kehidupan yang adil, beragam dan demokratis.
Rumitnya, PANCASILA kini tampak hanya sebagai slogan, dipahami tapi tanpa sadar seperti ogah direalisasikan dalam kehidupan, bahkan masih ada yang kesulitan menghafal dengan lima sila dari PANCASILA.
Hal tersebut juga menjadi problem Negara Indonesia kini, terlebih kala polarisasi politik semakin menimbulkan gesekan dan kecurigaan sosial yang cukup tinggi di semua lapisan masyarakat. Sebuah kondisi yang bisa membuat nilai nilai PANCASILA semakin menjadi tak bermakna, bahkan menyuarakan PANCASILA untuk mempersatukan dan mendamaikan keberagaman kini seolah tak bisa bebas dilantangkan. Padahal diam itu emas kini bukan menjadi satusatunya pilihan, namun kini untuk menjadi emas ternyata tak harus diam.,
Realitas itu yang diangkat di Film “LIMA”, sebuah film keluarga yang berjuang menanamkan dan mengajarkan nilai nilai luhur PANCASILA dalam kehidupan sehari hari.
Dan LIMA merupakan sebuah film yang menjadi cermin bagaimana krisis penghayatan PANCASILA yang kini banyak dialami oleh generasi muda itu memang terjadi di keluarga, li ngkungan dan masyarakat lainnya.
Idenya adalah Bhineka Tunggal Ika atau mempersatukan keberagaman. Hal seperti itu pula yang tampak dari proses penggarapan film “LIMA” yang diproduksi Lola Amaraia Production yang bekerjasama dengan Forum Nasional Bhineka Tunggal Ika.
Film “LIMA” yang akan tayang di bioskop mulai 31 Mei 2018, merupakan cermin nilai nilai PANCASILA yang harusnya menjadi pilihan terbaik untuk diterapkan dalam kehidupan bersosial yang penuh keberagaman. Merupakan kreatifitas yang sukses ditali temalikan menjadi sebuah film utuh yang dari sebuah proyek penggarapan film dari masing masing sila Pancasila yang masing masing sila dibesut oleh satu sutradara dengan ciri khasnya masing masing.
Adalah Salahhuddin Siregar yang menggarap film bertema ‘Tuhan’ yang menjadi Sila Pertama PANCASILA. Ada pula Tika Pramesti yang menggarap film bertema ‘Kemanusiaan’ yang menjadi inti dari Sila Kedua PANCASILA. Sedangkan Lola Amaria menggarap film seputar dunia olah raga renang demi menggambarkan tema ‘Persatuan’ yang menjadi inti sila ketiga PANCASILA. Giliran Harvan Agustriyansyah yang mengangkat persoalan waris dalam sebuah keluarga guna menggarap film bertema ‘Musyawarah’ yang menjadi inti sila keempat PANCASILA. Sementara Adriyanto Dewo menggarap film bertema ‘Keadilan’ yang menjadi inti dari sila kelima PANCASILA.
“Proyek film LIMA yang dikerjakan mulai Oktober 2017, merupakan film keluarga dengan membicarakan PANCASILA. Film ini digarap bareng berlima dengan masing masing menggarap satu tema dari sila PANCASILA yang kemudian dijadikan utuh dalam sebuah film”, ujar Lola Amaria, di Djakarta Theater, Jakarta Pusat, Kamis (24/5).
Dijajaran pemain, Film “LIMA” melibatkan kemampuan acting dari Prisia Nasution, Yoga Pratama, Baskara Mahendra, Tri Yudiman, Dewi Pakis, Ken Zuraida, Ravil Prasetya, Kiki Narendra, Raymond Lukman, Aji Santosa, Eliza, Ella Hamid, Gerdi Zulfitranto, Alvin Adam, Willem Bevers, Rangga Djoned, Ade Firman Hakim,dan Sapto Soetarjo.
Lima tema film “LIMA” yang ceritanya ditulis oleh kolaborasi Sinar Ayu Massie dan Titien Wattimena serta digarap lima sutradara ini berhasil dijahit apik menjadu satu kesatuan film utuh Aaron Hasim selaku Film Editor.
Selain menjadi sutradara untuk cerita sila ketiga di Film LIMA, Lola Amaria juga merangkap sebagai Producer. Sementara Executive Produser dijabat oleh Julian Foe dan Gomulia Oscar. Ada pula keterlibatan Sari Mochtan sebagai Co Producer, Ariel Raditya Iman sebagai Line Producer serta Amalia Ts selaku Director of Photography.
“Ini untuk pertama kali saya terlibat di proyek film. Anehnya masyarakat melihat PANCASILA sebagai politik, bukan sebagai dasar Negara”, jelas Julian Foe
“Saya harap film ini bisa menginspirasi generasi generasi LIMA, yaitu generasi yang mengatasi persoalan dengan sila sila PANCASILA untuk membuat Indonesia lebih maju”, harap Julian Foe, lebih lanjut.
Peran Indra Perkasa selaku Music Director semakin mewarnai atmosfir film LIMA menjadi #Indonesia Banget ,terlebih dengan pilihan lagu “Rumah Bhineka Indonesia” yang diaransemen oleh Purwacaraka sementara liriknya ditulis oleh Titien Wattimena. Untuk Film “LIMA’, lagu “Rumah Bhineka Indonesia” dinyanyikan oleh Kikan, Syaharani, Isa Raja, Taifik Hidayat dan Dea Ranendra.
Yang tak bisa dikesampingkan pula adalah keterlibatan peran Ichsan Rachmadita (Sound Recordist), Khikmawan Santosa (Sound Designer), Asep Suryaman (Art Director), Sally Aninditha (Wardrobe), Ucok Al Basirun (Make Up) dan Meirina Alwie (Casting Director).
“Sudah seharusnya film tentang PANCASILA yang seperti ini dibuat, karena PANCASILA itu refleksi kehidupan sehari-hari” tegas Prisia Nasution.
Dan memang menjadi Pancasilais itu sulit, namun ditengah kemajemukan dan keberagaman, semua bisa dipersatukan melalui lima hal paling dasar yang menjadi akar kehidupan manusia Indonesia Tuhan, Kemanusiaan, Persatuan, Musyawarah dan Keadilan. (Fajar) | Foto Fajar & Dok. Lola Amaria Production
