Trenz Indonesia
News & Entertainment

Laporan WWF Mengungkap Luasnya Dampak Aktivitas Manusia di Planet Bumi

Penggerak terbesar hilangnya keanekaragaman hayati saat ini adalah eksploitasi berlebihan dan agrikultur, keduanya terkait dengan konsumsi manusia yang terus meningkat.

262

Trenz News, Jakarta I Pola hidup manusia dan cara konsumsi, penggunaan bahan bakar dan pembiayaan pergerakan ekonomi yang menopang kehidupan kita telah mendorong alam ke ambang kehancuran. Laporan yang dirilis, Rabu (30/10) tertuang dalam Living Planet Report 2018 WWF menyajikan gambaran dampak aktivitas manusia pada satwa liar, hutan, lautan, sungai, dan iklim dunia yang memprihatinkan. Hal ini menyadarkan kita untuk segera bertindak untuk secara bersama mendefinisikan kembali bagaimana kita menghargai, melindungi dan memulihkan alam.

The Living Planet Report 2018 sajikan gambaran yang komprehensif tentang keadaan alam saat ini, dua puluh tahun setelah laporan utama pertama kali diterbitkan. Melalui indikator seperti Living Planet Index (LPI), yang disediakan oleh Zoological Society of London (ZSL), Indeks Habitat Spesies (SHI), Indeks Daftar Merah IUCN (RLI) dan Indeks Keutuhan Keanekaragaman Hayati (BII), juga Batas Planet dan Jejak Ekologis (Planetary Boundaries and the Ecological Footprint), laporan menunjukkan salah satu gambaran yang menyedihkan, bahwa aktivitas manusia mendorong tata alam, yang telah mendukung kehidupan di bumi menuju ke tepi kehancuran.

“Ilmu pengetahuan menunjukkan kepada kita kenyataan pahit yang dialami oleh hutan, lautan dan sungai kita yang disebabkan oleh tangan kita sendiri. Inci demi inci dan spesies demi spesies, penyusutan jumlah satwa liar dan habitat alam liar sebagai indikator dari dampak dan tekanan luar biasa yang kita sebabkan di planet ini, meruntuhkan tata kehidupan yang menopang kita semua, alam dan keanekaragaman hayatinya,” papar Marco Lambertini, Direktur Jenderal, WWF Internasional.

Sementara LPI yang melacak tren satwa liar dunia, menunjukkan bahwa populasi ikan, burung, mamalia, amfibi dan reptil menurun secara global, rata-rata sebesar 60 persen antara tahun 1970 dan 2014. Ancaman utama untuk spesies yang diidentifikasi dalam laporan secara langsung terkait dengan aktivitas manusia, termasuk hilangnya habitat dan degradasi serta eksploitasi berlebihan satwa liar.

“Dari sungai dan hutan hujan, bakau dan gunung, pekerjaan kami di seluruh planet ini menunjukkan bahwa satwa liar telah menurun secara drastis sejak 1970. Statistiknya menakutkan, tetapi tidak semua harapan hilang. Kita memiliki kesempatan untuk merancang arahan baru ke depan yang memungkinkan kita untuk hidup berdampingan secara berkelanjutan dengan satwa liar utama. Laporan kami secara ambisius menetapkan agenda untuk perubahan. Kami akan membutuhkan bantuan Anda untuk mencapainya,” kata Prof. Ken Norris, Direktur Sains di ZSL (Zoological Society of London).

Aktivitas manusia menurunkan kemampuan alam untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia

Selama beberapa dekade terakhir, aktivitas manusia juga telah berdampak buruk terhadap habitat dan sumber daya alam satwa liar dan manusia tergantung padanya, seperti lautan, hutan, terumbu karang, lahan basah dan bakau. 20 persen dari Amazon telah hilang hanya dalam 50 tahun sementara bumi diperkirakan telah kehilangan sekitar setengah dari karang air dangkal dalam 30 tahun terakhir.

Sambil menyoroti sejauh mana dampak kegiatan manusia di alam, Living Planet Report 2018 juga berfokus pada pentingnya dan nilai alam untuk kesehatan dan kesejahteraan manusia serta perekonomian dunia. Secara global, alam menyediakan kebutuhan yang bernilai sekitar AS $ 125 triliun per tahun, kemudian juga membantu memastikan pasokan udara segar, air bersih, makanan, energi, obat-obatan dan produk dan bahan-bahan kebutuhan lainnya.

Laporan tersebut secara khusus melihat pentingnya para spesies yang menaburi serbuk yang bertanggung jawab atas produksi tanaman sebesar US $ 235-577 miliar per tahun, dan bagaimana perubahan iklim, praktik perkebunan intensif, spesies invasif dan banyak penyakit yang muncul telah berdampak pada kekayaan, keragaman serta kesehatan alam.

Lantas Lambertini mengatakan, Alam secara diam-diam mendukung dan memperkuat kehidupan sosial dan ekonomi kita selama berabad-abad, dan terus melakukannya hingga hari ini. Di sisi lain, masyarakat terus mengambil dan memanfaatkan alam begitu saja tanpa menghargai ataupun menjaganya, sehingga gagal bertindak terhadap hilangnya kekayaan alam yang semakin cepat.

“Jadi sudah saatnya kita menyadari bahwa masa depan yang sehat dan berkelanjutan untuk semua hanya mungkin ada di planet di mana alam tumbuh subur dimana hutan, lautan dan sungai dipenuhi dengan keanekaragaman hayati dan kehidupan,” papar Lambertini.

“Kita perlu segera memikirkan kembali bagaimana kita menggunakan dan menghargai alam – secara budaya, ekonomi dan agenda politik. Kita perlu berpikir bahwa alam itu indah dan inspiratif, tetapi juga sangat diperlukan. Kami – dan planet – membutuhkan kesepakatan baru secara global untuk alam dan generasi saat ini,” imbuhnya.

Kebakaran hutan. © WWF-Indonesia/Tantyo Bangun

Peta Perjalanan Aksi Untuk Alam – Pada Tahun 2020 dan Seterusnya

Bukti menunjukkan bahwa dua agenda – untuk lingkungan dan pembangunan manusia – harus konvergen jika kita ingin membangun masa depan yang berkelanjutan untuk semua. The Living Planet Report 2018 menyoroti peluang komunitas global untuk melindungi dan memulihkan alam menjelang tahun 2020, tahun yang kritis ketika para pemimpin diharapkan untuk meninjau kemajuan yang dibuat pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, Perjanjian Paris dan Konvensi Keanekaragaman Hayati (CBD).

Untuk itu, WWF menyerukan kepada masyarakat, pelaku bisnis dan pemerintah untuk memobilisasi dan mewujudkan kesepakatan kerangka kerja yang komprehensif untuk alam dan masyarakatnya sesuai dengan CBD, yang menggugah tindakan publik dan swasta untuk melindungi dan memulihkan keanekaragaman hayati alam global serta menurunkan tren buruk yang disoroti.

Dalam The Living Planet Report 2018, pada Bab 4 dari laporan ini terinspirasi makalah ‘Aiming higher to bend the curve of biodiversity loss’ yang menunjukkan peta perjalanan untuk menentukan target, indikator dan metrik yang dimiliki oleh 196 negara anggota CBD untuk mengarahkan pada hal yang mendesak serta secara ambisius dan efektif untuk membuat perjanjian global untuk alam, seperti yang dilakukan dunia untuk iklim saat Perjanjian Paris, ketika mereka bertemu di Conference of the Parties ke 14 di Mesir pada November 2018 ini.

CBD CoP14 akan menyatukan para pemimpin dunia, pelaku bisnis dan masyarakat sipil untuk mengembangkan kerangka kerja pasca-2020 untuk aksi keragaman hayati global dan dengan demikian menandai momen penting untuk menetapkan dasar bagi kesepakatan global yang sangat dibutuhkan untuk alam dan manusia saat ini.

Living Planet Report 2018 adalah edisi dua belas dari publikasi dua tahunan WWF. Laporan ini termasuk temuan terbaru yang diukur oleh Living Planet Index melacak 16.704 populasi dari 4.005 spesies vertebrata dari tahun 1970 hingga 2014. (Agus Blues Asianto / TrenzIndonesia) I Foto: ©WWF-Indonesia/Tantyo Bangun – Foto: ©Piyaset/WWF

Leave A Reply

Your email address will not be published.