Trenz Indonesia
News & Entertainment

Damai Dalam Kardus Kampiun Eagle Awards Documentary Competition 2018

EADC 2018 Antologi Film Dokumenter Menjadi Indonesia

36

Trenz Film |Untuk ke 14 kalinya, kompetisi film dokumenter Eagle Awards Documentary Competition (EADC) 2018 digelar oleh Eagle Institute bekerjasama dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) pada Rabu (31/10) di bioskop CGV, Grand Indonesia Mall, Jakarta Pusat.

Kali ini panitia mengangkat tema “Menjadi Indonesia”, EADC 2018 kali ini ingin menemukan sineas-sineas muda film dokumenter yang bisa memunculkan sebuah program dan gagasan mengenai keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tema ini dianggap tepat waktu untuk digunakan kembali di tengah masa politik seperti saat ini.

“Sudah 73 tahun kita merdeka, Indonesia masih dalam proses menjadi ‘Indonesia’. Kita harus tahu identitas kita, melihat apa yang terjadi di tengah-tengah kita, sedang apa kita berjalan, dan apa yang harus kita isi untuk memperkuat ke-Indonesia-an,” tegas Suryopratomo, Direktur Utama Metro TV.

Dari 5 film dokumenter yang diadu pada malam penghargaan tersebut, “Damai Dalam Kardus” tampil sebagai kampiun. Film ini menampilkan kisah nyata seorang pria yang keutuhan keluarganya terpecah akibat konflik agama di Poso, Sulawesi Tengah beberapa tahun silam. Ia yang ikut ibunya yang beragama Islam, sejak kecil tidak pernah bertemu lalu berusaha mencari ayahnya yang beragama Kristen.

“Lewat film ini, kami merepresentasikan kepada masyarakat Indonesia, melihat sebuah konflik harus melihat Poso. Poso semacam laboratorium perdamaian Indonesia. Anak muda di Poso berperan sebagai aktor perdamaian,” ucap Andi Ilmi Utami dan Suleman Nur, sutradara dokumenter tersebut.

“Damai Dalam Kardus” berhasil mengalahkan empat film dokumenter lainnya, yaitu “Menabur Benih di Lumpur Asmat” sebagai juara kedua, “Pusenai The Last Dayak Basap” sebagai juara ketiga, “Bioskop Kecil Harapan Besar”, dan “Menulis Mimpi di Atas Ombak”.

Berbeda dengan tahun sebelumnya, tahun ini EADC 2018 mengusung konsep Master Class dimana para peserta dipandu oleh mentor film dokumenter internasional asal India, Supriyo Sen.

“Para peserta ini sangat menjanjikan. Mereka punya cerita dan energi yang luar biasa. Mereka harus terus belajar dengan melihat banyak lagi film-film dokumenter dan belajar lebih mengenai teknik ekspresi sinematik,” tuturnya memberikan masukan. Selain Sen, dewan juri EADC 2018 ini terdiri dari Nia Dinata dan diketuai oleh Garin Nugroho. (Boeyil/TrenzIndonesia) |Foto: Boeyil & Google.co.id

Leave A Reply

Your email address will not be published.