Trenz Indonesia
News & Entertainment

Perusahaan Biskuit Oreo Masih Gunakan Minyak Sawit Kotor

Minyak sawit yang berasal dari perusakan habitat orangutan di Indonesia, masih digunakan, untuk itu Mondelez harus membuktikan minyak sawit yang digunakannya berasal dari penanam yang tidak menghancurkan hutan atau mengeksploitasi orang.

178

Trenz News,  Jakarta I Pemasok minyak sawit untuk makanan ringan raksasa Mondelez telah terkait perusakan hampir 25.000 hektar habitat orangutan di Indonesia hanya dalam dua tahun, berdasarkan analisis pemetaan baru oleh Greenpeace International.

Mondelez adalah salah satu pembeli minyak sawit terbesar di dunia, yang digunakan di banyak produknya yang paling terkenal, termasuk cokelat batangan Cadbury, biskuit Oreo dan Ritz. Investigasi Greenpeace International menemukan bahwa antara tahun 2015 dan 2017, 22 pemasok minyak sawitnya telah menggunduli hutan lebih dari 70.000 hektar – bahkan lebih luas dari kota Chicago di Amerika Serikat, tempat kantor pusat Mondelez berada.

Pemasok minyak sawit untuk Mondelez juga tertuduh perkerjakan anak-anak, eksploitasi pekerja, penebangan ilegal, hingga maalah kebakaran hutan dan perampasan tanah. Mondelez mendapatkan banyak minyak sawit kotor ini dari Wilmar International – pedagang minyak sawit terbesar dan terkotor di dunia.

“Ini sangat memalukan, sepuluh tahun lalu Mondelez berjanji membersihkan pasokan kelapa sawit mereka terbebas dari perusakan hutan, namun belum terlaksana. Padahal, minyak  sawit dapat dibuat tanpa merusak hutan, namun penyelidikan kami menemukan bahwa pemasok Mondelez masih merusak hutan dan menghancurkan habitat orangutan, mendorong makhluk-makhluk cantik dan cerdas ini ke jurang kepunahan. Mereka terancam karena biskuit, ”kata Kiki Taufik, Kepala Kampanye Hutan Global Greenpeace Indonesia, dalam siaran pers Selasa (13/11) lalu.

Para ilmuwan telah memperingatkan bahwa deforestasi berasal dari sektor kelapa sawit merupakan ancaman serius bagi orangutan dan spesies terancam punah lainnya. Tahun lalu, sebuah studi meta komprehensif menyimpulkan bahwa jumlah orangutan Borneo telah berkurang separuh selama 16 tahun terakhir. Studi terbaru juga menunjukkan bahwa orangutan Sumatera dan orangutan Tapanuli yang baru ditemukan telah kehilangan lebih dari separuh habitat mereka antara tahun 1985 dan 2007. Ketiga spesies ini diklasifikasikan sebagai Terancam Parah, bersama dengan Harimau Sumatera dan Badak Sumatera.

“CEO Mondelez, Dirk Van de Put, berjanji untuk menawarkan konsumen ‘cemilan yang baik.’ Tapi tidak ada yang benar jika minyak sawit yang digunakan berasal dari perusakan hutan yang mengancam orangutan dan memicu perubahan iklim, “kata Kiki.

“Ini harus menjadi peringatan bagi Mondelez dan merek rumah tangga lainnya agar bertindak menghentikan suplai dari Wilmar hingga terbukti minyak sawitnya bersih dari deforestasi. Pada akhirnya, jika perusahaan merek besar tidak dapat menemukan minyak sawit yang cukup bersih untuk membuat produk mereka, maka mereka harus mulai menguranginya.”

Deforestasi di kawaan tropis telah menghasilkan lebih banyak emisi gas rumah kaca setiap tahun daripada seluruh Uni Eropa, mengungguli setiap negara kecuali Amerika Serikat dan Tiongkok. Pada bulan Oktober 2018, Panel Antar pemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) menyerukan penghentian segera deforestasi untuk membatasi suhu global yang meningkat menjadi 1,5 °C.

Pekan lalu, Sekretaris Eksekutif PBB dari Sekretariat Konvensi Keanekaragaman Hayati, Cristiana Pașca Palmer, memperingatkan bahwa hilangnya keanekaragaman hayati adalah ‘pembunuh diam-diam’ dan sebagai ancaman serius seperti perubahan iklim. (SP-GI/Asa) I Foto-foto: Greenpeace Indonesia.

Leave A Reply

Your email address will not be published.