Trenz Indonesia
News & Entertainment

Diastika Lakoni Profesi Sebagai Arsitek Dan Biduan

99
Diastika

Jakarta, Trenz Music | Seperti pribahasa ‘Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui’; artinya satu kali melakukan pekerjaan, mendapatkan beberapa hasil (atau keuntungan) sekaligus. Peribahasa tersebut nampaknya sangat tepat, jika disematkan pada gadis manis bernama Diastika Lakesworo, yang kini sedang melanjutkan studi S2 Arsitektur di Harvard University, Amerika Serikat.

Pasalnya, Dias yang sukses menorehkan karya desainnya untuk sebuah gedung baru milik rumah produksi film Hollywood, Warner Brothers Studio, serta Karma Kandara Hotel and Resort di Nusa Dua, Bali, ternyata juga memiliki kebisaan lain, yakni menulis lagu serta menyanyikannya.

Hal ini dibuktikan oleh dara cantik yang lahir di San Diego, AS, 11 April 1994, dengan debut Jazz album yang di aransemen oleh produser Yance Manusama dan Otti Jamalus.

Dias yang kini sudah mampu hidup nyaman dan mapan di Negeri Paman Sam ini coba mewujudkan keinginannya untuk menjalankan dua profesi yang ditekuninya agar bisa dilakoni bersamaan atau sejalan seiring, yakni sebagai arsitek yang mumpuni maupun juga sebagai biduan.

“Banyak yang bisa di jadikan contoh, para musisi atau penyanyi yang sukses menjalani dua profesi sekaligus. Misal, Tompi sebagai dokter dan penyanyi, atau singing lawyer Kadri Mohamad,” pungkas Dias, Jumat (21/12) di Crumble Crew Jakarta.

Keseriusannya di dunia tarik suara kembali dibuktikannya, tanggal 13 Agustus 2018 lalu, sebelum dirinya ke Amerika untuk melanjutkan S2 Arsitektur di Harvard University. Dias meninggalkan sebuah karya project Live Recording untuk EP (Extended Playlist) yang berisikan 3 lagu yaitu ’Dreamer’, ‘Hasrat’ dan ‘Under the Influence’ dari album sebelumnya. Menariknya, ketiga karya lagu yang ditulis oleh dirinya ini, dibuat dalam 2 versi. Satu versi jazz original dan satu lagi versi baru yang di aransemen ulang oleh produser Ari Renaldi.

Dalam versi barunya, suara Diastika yang jazzy lebih terdengar Pop dan R&B. Dengan Live EP ini, Diastika ingin memperlihatkan kejujuran dalam musik dan karya nya. Lirik yang Diastika tulis terinspirasi oleh kisah nyata yang ia alami. Live recording berarti tak ada ruang untuk auto-tune atau re-edit. Dan cover art dari album ini adalah Diastika tanpa make-up. Dia ingin memberi contoh pentingnya kepercayaan diri dan tidak perlu menyembunyikan siapa kita sebenarnya.|Edo (TrenzIndonesia)

Leave A Reply

Your email address will not be published.