Trenz Indonesia
News & Entertainment

Seruni Bodjawati Gelar Pameran Tunggal Perempuan-Perempuan Menggugat

58

 

Jakarta, Trenz Edutainment | Ternyata seni lukis juga menjadi catatan sejarah perjalanan perjuangan kaum perempuan. Momen ini dibuktikan oleh Seniman muda Indonesia, Seruni Bodjawati dengan menggelar pameran tunggal bertajuk “Perempuan Perempuan Menggugat”, di Galeri Cemara 6, Menteng Jakarta Pusat, yang berlangsung mulai 21- 31 Agustus 2019.

Lewat pameran tunggalnya, Seruni Bodjawati menampilkan 26 lukisan yang menggambarkan 29 tokoh pejuang perempuan yang pernah hidup di tahun 833 – 2019. Ke-26 lukisan itu dikategorikan ke dalam 9 zaman, yakni pra kolonial, VOC, Hindia Belanda, Jepang, Masa Perang Kemerdekaan, Liberal, Orde Lama, Orde Baru, dan Reformasi. Kesemua tokoh dilukis Seruni dalam semangat menghidupkan yang terlupakan.

Karena itu lukisan karya Seruni lebih menampilkan sosok dalam bentuk narasi dengan simbol dan latar belakang yang ditangkap oleh Seruni dalam studi yang dilakukan sendiri dan melalui dialog dengan kurator kontennya.

Yang paling menarik dari karya rupa Seruni Bodjawati adalah ia menjadi pencipta wajah Rainha Boki Raja. Ratu-Ternate yang hidup di-awal kolonialisme Nusantara di mana Ternate dan Tidore sebagai pintu gerbang kolonial di Nusantara. Ratu yang sama sékali terlupakan. Ia mulai dihidupkan oleh lbu Paramita Abudrrachman, peneliti LIPI yang merujuk dokumen yang ada di Portugal. Lalu lbu Toeti Heraty melanjutkan dengan menerbitkan buku tentang Rainha Boki Raja dalam bentuk prosa lirik.

Penghidupan sosok ini menyadarkan tentang soal masa lalu yang belum selesai dipecahkan. Sosok ini seharusnya juga diepikkan seperti Cut Nyak Dhien.

“Kami ingin memperkenalkan pada generasi Milenial, kalau banyak wanita Indonesia yang hebat yang menjadi pionir dalam perjalanan bangsa dari tahun 833 tahun. Jadi bukan hanya Kartini saja wanita Indonesia,” ujar Seruni Bodjawati saat ditemui di Galeri Cemara 6, Menteng Jakarta Pusat. Rabu (21/8)

Pelukis berusia 27 tahun ini merasa prihatin, dari begitu banyak perempuan wanita hebat baru 14 orang yang dijadikan Pahlawan Nasional. Sementara Pahlawan laki-laki ada 165 orang lebih.

Dipilihnya 29 sosok Perempuan Indonesia Hebat, lebih karena masalah alokasi tempat pameran. “Masih banyak perempuan hebat yang bisa kami lukis dan ditampilkan. Tapi kalau baru 29, karena masalah tempat saja,” ujar Seruni.

Seruni mengungkapkan, untuk melukis 29 Perempuan Hebat dibutuhkan waktu satu setengah tahun. “Dalam perjalanan melukis tentu banyak dinamika dan masukan dari para tokoh yang mengenal sosok yang tengah saya lukis,” jelas Seruni.

Karya Buku yang berjudul ”Perempuan-Perempuan Menggugat, Literasi Rupa Sejarah Perempuan lndonesia” ditulis Esthi Susanti Hudioni melalui studi literatur dan dialog dengan orang yang paham tentang tokoh perempuan Indonesia. Yang tak terduga dari kerja intensif Esthi sejak Oktober 2017 hingga April 2019 dalam melakukan studi adalah begitu banyak temuan yang mengejutkan.

ESTHI Susanti Hudioni penulis Buku Perempuan Menggugat (Baju pink) dan Seruni Bodjawati pelukis (Baju hitam)

Temuan reflektif tersebut antara lain pertama adalah feminisme justru ada di tatanan lama Nusantara. Pengkritik yang menyatakan bahwa feminisme berasal dari barat dan bukan berasal dari budaya lokal telah melakukan kesalahan. Mereka bicara di atas struktur patriarki Eropa dan Timur Tengah yang beroperasi dalam sistem Indonesia modern. Temuan tatanan kuno yang bercorak matriarki ini berasal dari temuan sejarawan Oxford ahli Diponegoro bernama Peter Carey. Temuan Peter dilanjutkan oleh Esthi yang menemukan ide yang sama. Hal ini bisa dilihat dari cerita Panji dan Sekartaji dan Jawa masa lalu tidak punya nama keluarga, artefak lingga yoni yang memberi keseimbangan feminitas dan maskulinitas.

Temuan kedua ibuisme yang bertransformasi mulai jaman KOWANI ke jaman Orde Baru yang kemudian diambil oleh jaman reformasi menjadi kunci adanya kemajuan parsial pada isu perempuan. Perempuan kontemporer nampak telah mencapai kemajuan pesat namun sesungguhnya kemajuan yang dicapai baru di tataran fungsional. Perempuan Indonesia belum menemukan jalan yang lazim untuk bisa melakukan transendensi untuk menjadi perempuan utuh yang merdeka. Kemajuan yang setengah hati yang dicapai perempuan ini menjelaskan mengapa perempuan bisa menjadi agen dari nilai-nilai fundamentalisme yang sekarang sejak menanjak terus jumlahnya. Studi yang ada menunjukkan bahwa guru perempuan ternyata menjadi agen dari nilai-nilai konservatisme tersebut. Pendidikan untuk perempuan yang mempunyai lubang yang menggerogoti potensinya untuk ménjadikan perempuan sebagai agen kemajuan dalam sistem demokrasi yang ada.

Karya ketiga yang bukan berupa bendawi adalah kolaborasi dengan begitu banyak orang, Kolaborasi yang dimulai dari generasi senior ke generasi yunior dalam nilai kesetaraan, keadilan dan martabat dari perupa dan penulis. Lalu kolaborasi berlanjut dengan ilmuwan aktivis Jurnal Perempuan dan lembaga seni budaya bernama Cemara Galeri 6 Museum dan Sea Junction. Semuanya berproses dalam kolaborasi yang kemudian mengajak tokoh kontemporer yang dilukis terlibat termasuk intelektual dan aktivis perempuan muda dilibatkan untuk memberi respon di acara pameran dan peluncuran. Setelah acara ini dialog akan dilanjutkan. Dialog ditujukan kepada generasi muda agar mereka mengenali sejarah perempuan yang selama ini dilupakan dalam penulisannya. Dan melalui pengenalan diri sebagai bangsa diharapkan mereka bisa membangun diri dan masa depan. (Buyil/Fjr) | Foto: Buyil & Google.co.id

Leave A Reply

Your email address will not be published.