Trenz Indonesia
News & Entertainment

Komunitas Tari Jadi Alternatif Pengembangan Seni Tari di Indonesia

Jakarta Dance Meet Up 2019

32

Jakarta, Trenz Edutainment | Meski gempuran tarian asing kian merangsek dikalangan milenial, namun komunitas tari tetap tumbuh subur. Tumbuhnya berbagai komunitas, termasuk komunitas tari, menjadi salah salah satu titik penting dalam jejaring kesenian di Indonesia. Ketika banyak negara lain masih berkutat dalam sekolah seni, Indonesia ternyata sudah jauh lebih maju dengan banyaknya komunitas kesenian yang bisa menjadi pendidikan alternatif dalam berkesenian.

Demikian informasi yang mengemuka dari diskusi tari yang diselenggarakan pada perhelatan tahun ketiga Jakarta Dance Meet Up (JDMU) yang dihadiri oleh 16 komunitas tari dari beberapa genre yakni Muda Move, Unit Seni Budaya Trisakti, Jakarta Dance Art Education 17, EKI On Call, Swargaloka, Bidar Dance Community, Last Team, KIG Dance Community UPI Bandung, Kreativität Dance – Indonesia, DMP Project, Noken Lab, Bahasa Dance Project, Indonesia Dance Company, Citra Istana Budaya, Lentera Fannani Dance, dan Daun Gatal.

Aiko Senosoenoto

“Kita memang masih tetap mengakui bahwa eksistensi komunitas tari masih tetap diperhitungan, “ kata Aiko Senosoenoto dari Eki Dance Company sebagai salah satu pembicara dalam diskusi tari bertema ‘Komunitas Tari sebagai Sekolah Alternatif” di Graha Bakti Budaya (GBB), Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, Jumat (23/8/2019)

Perempuan kelahiran Jakarta, 26 Mei 1966 itu mengungkapkan pengalamannya dalam mengelola Eki Dance Company. “Sebagai pengelola Eki Dance Company sejauh ini saya menilai kalau komunitas lebih bebas dalam kreasi karena tidak terikat kurikulum sebagaimana yang terjadi di sekolah formal.”,  katanya.

Diakui Aiko, dalam komunitas tari yang dikelolanya tidak perlu ada gelar apa pun. “Karena yang terpenting kita terus berkreasi menciptakan karya.“, Aiko menegaskan.

Aiko mengkisahkan bahwa komunitas tari yang dibangunnya bersama sang suami, Rusdy, bahkan menjadi semacam therapy penyembuhan bagi banyak anggotanya. “Ketika memulai dulu, anggota saya ada yang pecandu narkoba, pecandu seks bebas, anak broken home, anak yang putus asa karena gak tak mau ngapain dam akhirnya semua punya tujuan. Yakni berkarya lewat tari.”, kenang Aiko.

Sementara itu Ruri Nostalgia, pembicara lainnya menyoroti tentang komunitas tari Padanecwara yang sejak 2003 dirinya diangkat menjadi manager program. “Dari dulu kita sudah menerapkan kalau komunitas kita tidak hanya terikat pada satu orang yang jadi patron, meski masyarakat masih tetap melihat sosok orang yang paling berpengaruh dalam komunitas, tapi kita ingin Ruri sebagai Ruri dan mandiri menjadi sosok Ruri dengan karyanya sendiri, “ terang Ruri.

Ruri juga menyorot tentang komunitas tidak hanya belajar tari tapi berbagai aspek kehidupan di dalamnya. “Itulah yang membedakan kita di komunitas tari dibanding sekolah formal, “ tegasnya.

Adapun, Farid Alfaruqi sebagai pengamat tari dan kesenian lainnya, melihat seniman tari Indonesia tumbuh dalam lingkungan sekolah seni formal dan komunitas informal. “Kedua institusi itu dengan caranya masing-masing telah melahirkan dan membesarkan seniman tari di Indonesia, “ terangnya.

Farid mengingatkan agar komunitas tari tidak terjebak dalam satu patron saja yang berakibat kalau satu patron itu meninggal maka komunitas tari akan mati atau terhenti kegiatan berkeseniannya.

Diskusi yang dipandu Heru Joni Putra ini menjadi bagian dari gelaran Jakarta Dance Meet Up (JDMU) dengan tema “Perempuan, Seni dan Kodrat” yang digelar dalam rentang waktu 23-26 Agustus 2019 di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki Jakarta.

Program yang digagas Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) ini menghadirkan beragam kegiatan, antara lain: pameran dan bazar tari, diskusi, sharing session, dan pertunjukan serta peluncuran buku “Unboxing Tari”. (Buyil/Fjr) | Foto: Buyil & Google.co.id

Leave A Reply

Your email address will not be published.