Trenz Indonesia
News & Entertainment

51 Tahun YHK & 33 Tahun YDGRK. Mbak Tutut: Siapapun Nahkoda Biarkan Perahu Berlayar

“Artinya kita tak akan pernah lelah bersama Yayasan Harapan Kita dan Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusian untuk berbagi kebahagiaan. Nantinya siapapun nahkodanya biarkan perahu ini terus berlayar,” ucap Mbak Tutut kepada Agus Asianto dari Trenzindonesia.com serius.

226

Oleh: Agus Asianto *

Jakarta, Trenz News I Jumat (23/8) siang lalu, Gedung Granadi, terletak di Jalan HR. Rasuna Said Blok X 1 No.Kav. 8-9, Jakarta Selatan, suasana nampak berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Perbedaan ini, khususnya auditorium Paramitha yang memiliki luas 871.88 meter persegi, lantaran tengah di gelar tasyakuran menyambut Milad 51 tahun  Yayasan Harapan Kita (YHK) & 33 tahun Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan (YDGRK), kedua yayasan yang lekat dengan misi kemanusiaan tidak saja diperuntukan bagi warga Indonesia, lebih jauh berskala internasional.

Mbak Tutut bilang, Siapapun nahkoda, biarkan perahu berlayar terus. Foto: Agus Asianto / Trenzindonesia.com

Karena itu, Sekretaris Jenderal YDGRK Mohamad Yarman mengungkapkan, setahun sebelum pendirian YDGRK, bertepatan 40 tahun berdirinya Food and Agriculture Organization (FAO) di tahun 1985, Presiden Soeharto berkunjung ke markas organisasi naungan PBB itu, di Roma, Italia. Beliau membawa bantuan dari para petani Indonesia, berupa hasil pertanian kita yang saat itu berlimpah ruah. Pak Harto mengantarkan langsung sebagian hasil pertanian yang melimpah itu untuk disampaikan FAO kepada saudara-saudara kita di Afrika yang sakit dan meninggal akibat kelaparan.

“Jadi dari sejarah adanya kemarau yang kelewat panjang, utamanya bayi dan anak-anak yang ak mampu untuk bertahan hidup. Dunia tergugah, termasuk Indonesia yang turut meluncurkan berbagai program besar yang terkait kemanusiaan. Sampai hari ini, kalau mendengar lagu yang monumental ‘We Are The World’ bisa kita rasakan getar kemanusiaannya,” ungkap Yarman.

Berawal dari rasa kesetiakawanan tersebut, putra putri Presiden Soeharto atas didikan Ayahanda dan Ibunda sebagai ujung tombak pengantar Sila ke-5 Pancasila, yakni Kemanusiaan yang adil dan beradab, melahirkan Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan ini.

Gerak dari YDGRK menyasar berskala internasional dengan pemberian santunan untuk korban musibah di Saudi Arabia, korban perang Teluk Persia, dan lainnya. Ibu Tien Soeharto sendiri seringkali mengantarkan langsung kebutuhan mendasar perkotaan di daerah seperti gerobak sampah dan merehabilitasi banyak perkampungan kumuh.

Kendati Ayahanda dan Ibunda dari Hj. Siti Hariyanti Rukmana telah mangkat, Presiden kedua Indonesia, menjabat dari tahun 1967 – 1998, H.M Soeharto (Minggu, 27 Januari 2008) dan Raden Ayu Siti Hartinah (Minggu, 26 April 1996). Namun kedua yayasan, yakni YHK dan YDGRK tidak serta merta turut padam. Sebaliknya di bawah komando Ibu Siti Hardiyanti Rukmana yang lebih populis dengan sebutan Mbak Tutut ini, YDGRK terus melanjutkan bakti sosialnya.

Bahkan generasi ketiga keluarga Pak Harto dan Ibu Tien tampak sangat bersemangat mengikuti jejak langkah eyang, ayah dan bundanya tercinta. Danty Rukmana, Eno Sigit, Gendis Trihatmojo telah menjadi bagian pasukan terlatih YDGRK Siti Hartinah Soeharto. Mereka kini ujung tombak pelanjut pengabdian Presiden RI ke-2 Bapak Mohamad Soeharto dan Ibu Negara Tien Soeharto, di ranah kemanusiaan tanah air Indonesia.

Dalam pidato sambutan, Mbak Tutut menyampaikan, tahun ini, tanpa terasa 33 tahun berkiprah YDGRK telah menyalurkan bantuan sekitar Rp 64 miliar. Selama itu pula YDGRK telah menyalurkan bantuan di 1.099 lokasi bencana, pada 899 kejadian bencana di 34 Provinsi di Indonesia serta beberapa titik bencana dunia.

“Jadi saya sampaikan lagi, saat itu dengan modal awal Rp 100.000 yang disisihkan ibu Tien dan ibu Zaleha Ibnu Sutowo, dari kas rumah tangga, beliau menggerakkan Yayasan Harapan Kita dan alhamdulillah dalam perjalanan 51 tahun, kita bersama bisa menyaksikan sendiri perkembangan yangterjadi atas dedikasinya,” ungkap Mbak Tutur kepada Trenzindonesia.com usai sesi pemotretan, di auditorium Paramitha, Gedung Granadi, Jumat (23/8) siang lalu.

Selanjutnya Sekretaris Jenderal YHK Tb. Mohammad Sulaeman menambahkan, pendirian YHK didirikan Almarhumah Ibu Hj. Siti Hartinah Soeharto buat dengan tujuan luhur meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia dalam arti seluas-luasnya. Ibu Tien mengelola Yayasan Harapan Kita bersama para wanita enerjik dizamannya, sebut saja; Siti Zaleha Ibnu Sutowo, Sri Dewanti Muhono, Kartini Widya Latief, Siti Maemunah Alamsjah, Wastuti Ali Murtopo dan Soetamtitah Soedjono Humardani.

Sebagai karya nyata sampai kini yang masih bisa dinikmati warga Indonesia, Legacy dan Heritage Ibu Tien Soeharto ini, salah satunya adalah;

  1. Taman Mini Indonesia Indah (TMII), diresmikan Minggu, 20 April 1975.
  2. Rumah Sakit Anak dan Bunda Harapan Kita, berganti nama menjadi Rumah Sakit Anak dan Bersalin Harapan Kita (RSAB Harapan Kita), didirikan pada hari Minggu, 22 Desember 1979.
  3. Perpustakaan Nasional RI yang terletak di Jalan Salemba Raya 28A, Jakarta Pusat, dicanangkan pendirian pada hari Sabtu, 17 Mei 1980.
  4. Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita yang diresmikan pada hari Sabtu, 9 Nopember 1985.
  5. Taman Anggrek Indonesia Permai (TAIP) yang diresmikan pada hari Selaa, 20 April 1993.

Menyinggung inti dari isi pidato “Melanjutkan Membangun Harapan Dan Melaksanakan Bakti Untuk Indonesia”, sambil melangkah meninggalkan gedung Granadi dalam doorstop kepada Trenzindonesia.com Mbak Tutut menyampaikan, perahu akan terus berlayar,  sepanjang air lautan masih membasahi dinding perahu. “Artinya kita tak akan pernah lelah bersama Yayasan Harapan Kita dan Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusian untuk berbagi kebahagiaan. Nantinya siapapun nahkodanya biarkan perahu ini terus berlayar,” ucap Mbak Tutut berfilosofi.

Berikut isi lengkap pidato “Melanjutkan Membangun Harapan Dan Melaksanakan Bakti Untuk Indonesia” menyambut Milad 51 tahun Yayasan Harapan Kita & 33 tahun Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan, Ketua Umum YHK dan YDGRK, Hj. Siti Hardiyanti Rukmana, dari Gedung Granadi.

Bismillahirrahmanirrahiim
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Salam sejahtera untuk kita semua.

Yang saya hormati ………
Para tamu undangan dan adik-adik wartawan dari berbagai media, serta para hadirin sekalian yang berbahagia.

Alhamdulillah, puji syukur ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, atas berkah dan perkenan-Nya — yang membuat kita semua bisa bertemu. Berkumpul di tempat yang baik ini dalam keadaan sehat wal’afiat. Amiin ya robbal alamiin.

Bapak, ibu dan hadirin sekalian.
Jauh sebelum orang-orang di Indonesia membicarakan antropolog terkemuka Marcell Maus, dengan teori ‘The Gift’ -nya, seorang ibu rumah tangga yang tak pernah sekalipun meraih gelar PhD, apalagi profesor dalam hidupnya, justru ia telah lama percaya akan kekuatan ”tolong menolong”. Telah lama yakin bahwa “semangat memberi” akan menerangi kehidupan manusia yang menjalani laku tersebut.

Hal yang patut disyukuri, ibu rumah tangga itu sedikit lain dari sekedar ibu-ibu arisan.‘Si Ibu’ punya sedikit akses untuk membicarakan ide tolong-menolong itu menjadi nyata. Paling tidak karena ia istri seorang presiden pada masanya. Ibu rumah tangga itu tak lain, adalah ibu saya tercinta. Ibu kita semua, almarhumah Ibu Tien Soeharto.

Ibu Tien saat itu, melihat bahwa bencana seolah menjadi bagian dari takdir kehidupan manusia. Bila datang musim kemarau, maka potensi kekeringan segera membesar, membawa peluang terjadinya paceklik (minus) yang ujung-ujungnya meluas menjadi bencana kelaparan.

Di musim kemarau pula, angin yang kering dengan gampang membawa bara terbang, menyulut kebakaran lahan dan hutan. Sementara manakala musim penghujan tiba, bencana tanah longsor, banjir bandang, dan banjir yang merendam pemukiman menjadi fenomena yang kian biasa. Di sisi lain, di saat kemarau bisa jadi tak ada kekeringan dan waktu penghujan tak ada banjir, tetapi letak geografis Indonesia di wilayah cincin api atau ring of fire , masih memungkinkan datangnya bencana lain, yakni; gunung meletus ataupun gempa bumi.

Jika tidak dihadapi dengan keyakinan iman, seakan dengan gampang orang akan pasrah dan menyatakan bahwa memang manusia hidup ke dunia untuk menderita. Penderitaanlah yang menjadi ujian, apakah manusia bisa lulus dalam keimanannya atau tidak, yang berujung pada kemungkinan di akhirat ia akan menerima pahala atau bala.

Sikap pesimistis tersebut tidak saja menjadi perangai buruk. Padahal dari sisi ajaran agama, pesimistis bisa dianggap mata air dari dosa. Dalam al- Quran Surat Yusuf 87, dikisahkan Nabi Ya’qub AS berkata kepada putra-putranya, “…… dan janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya tidaklah ada yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali orang-orang kafir.”

Sikap mulia justru ditunjukkan nelayan tua Santiago dalam novel ‘The Old Man and The Sea’ Ernest Hemingway. Si Nelayan tua itu bilang, “Orang bisa saja dihancurkan, tapi orang seharusnya jangan pernah bisa dikalahkan.” Dan bagi Santiago tua, seorang yang hancur sekali pun bukanlah orang yang kalah, manakala ia tak menyatakan diri menyerah.

Jadi manakala melihat penderitaan akibat sekian banyak bencana yang terjadi seakan tak ada habisnya, almarhumah ibu Tien tidak menyerah. Dalam keterbatasan langkah sebagai seorang ibu rumah tangga, bahkan beliau maju berkiprah. Itulah ibu Tien Soeharto.

Bapak/Ibu hadirin yang saya hormati.
Pada hari ini, 51 tahun lalu almarhumah ibu Tien mendirikan Yayasan Harapan Kita (YHK). Di hari ini pula, 33 tahun lalu, beliau mendirikan Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan (YDGRK). Tekad beliau tegas, jangan pernah kita dikalahkan oleh penderitaan tanpa berupaya melawannya sekuat tenaga.

Dengan modal awal Rp. 100.000,00 (seratus ribu rupiah) pada masa itu, yang disisihkan ibu Tien dan ibu Zaleha ibnu Sutowo, dari kas rumah tangga, mereka menggerakkan Yayasan Harapan Kita. Kini setelah 51 tahun, kita bisa menyaksikan sendiri perkembangan yang terjadi atas dedikasi mereka.

Tidak hanya mengenai yayasan ini telah berhasil membangun sekian banyak rumah sakit, seperti, Rumah Sakit Anak dan Bersalin Harapan Kita, Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, dan sebagainya. Juga bukan karena yayasan sukses membangun berbagai sarana kebudayaan, pendidikan hingga kesehatan seperti Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Perpustakaan Nasional, hingga Taman Anggrek Indonesia Permai.

Namun kita dapat menjadi saksi bagaimana Yayasan Harapan Kita (YHK) berhasil mengurangi ketergantungan warga Indonesia berobat ke luar negeri. Yayasan Harapan Kita bertekad kuat sebagaimana keinginan ibu Tien sebagai pendirinya membela kesehatan rakyatnya. Sejak awal berdirinya, Yayasan Harapan Kita menegaskan bahwa bagi yang ekonominya tidak mampu, meskipun mengalami gangguan jantung, tetap harus diselamatkan dengan mekanisme cross subsidi.

Sementara Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan (YDGRK), rentang waktu 33 tahunnya telah menunjukkan berbagai pengabdian kepada warga negara yang terkena bencana. Kami selalu hadir di mana rakyat menderita karena bencana. Tak hanya sekali. Pada bencana yang baru saja terjadi, yakni tsunami di pesisir Banten dan Lampung, akhir tahun 2018 hingga awal 2019 lalu, saya sendiri terlibat. Sedikitnya dalam dua kali kedatangan.

Kami datang bukan hanya memberi apa yang bisa kami berikan. Namun kami datang untuk memberi harapan sekaligus menegaskan masih kuatnya tali persaudaraan kita sebagai anak bangsa. Lebih jauh lagi, sebagai sesama manusia, makhluk Allah yang diikat dengan rachmaan dan rachiim -Nya.

Bapak/Ibu hadirin yang saya cintai.
Selama 33 tahun berkiprah, Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan (YDGRK) telah menyalurkan bantuan sekitar Rp. 64 miliar. Semua untuk korban bencana, meliputi korban bencana banjir, tanah longsor, banjir bandang, tsunami, gunung meletus dan bencana sejenisnya. Selama itu, yayasan juga telah menyalurkan bantuan di 1.099 lokasi bencana, pada 899 kejadian bencana di 34 Provinsi di Indonesia.

Semua itu kami lakukan melalui kerja sama luar biasa dengan semua pihak. Semua yang percaya bahwa kehidupan yang lebih baik, yang lebih sejahtera itu bisa kita raih bersama melalui tolong-menolong di antara kita. Subhanallahu.

Akhirnya, kami atas nama Keluarga Besar Yayasan Harapan Kita dan Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan, menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kehadiran Bapak/Ibu tamu undangan.

Berbagai sumbangsih kedua yayasan ini pada gilirannya kita harapkan turut memberi kontribusi bagi kemajuan bangsa dan Negara Indonesia.

Kami percaya, tak ada yang sempurna. Demikian pula dengan berbagai upaya yang telah kami lakukan. Namun di dalam kenaifan ini setidaknya Allah SWT Yang Maha Tahu, apa yang menjadi nawaitu , dan bersemayam di dalam lubuk hati kami terdalam. Semoga Allah SWT melimpahkan taufiq dan hidayahnya kepada kita semua, amiin ya robbal’alamiin.

(*) Tulisan ini, khusus diikutsertakan dalam lomba penulisan berita feature YHK & YDGRK – ‘Dari Wartawan, Oleh Wartawan Untuk Indonesia‘.

Leave A Reply

Your email address will not be published.