Trenz Indonesia
News & Entertainment

Wartawan Tindas Wartawan

188

Oleh: Isson Khairul*

Sepintas, para wartawan nampak kompak. Tapi, sesungguhnya, profesi wartawan punya jejak sejarah tindas-menindas. Ketika Majalah Tempo dibredel pada 12 April 1982, Departemen Penerangan masih ada. Saat itu, yang menjadi Menteri Penerangan adalah Ali Moertopo.

Dan, surat pembredelan itu diterbitkan oleh Menteri Penerangan Ali Moertopo. Dalam surat pembredelan itu disebutkan, Majalah Tempo dianggap telah melanggar Kode Etik Pers. Ide pembredelan itu sendiri datang dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), yang saat itu dipimpin oleh Harmoko, wartawan Pos Kota.

Kita tahu, Pos Kota didirikan oleh Harmoko pada 16 April 1970. Ia menjadi Pemimpin Redaksi Pos Kota dari tahun 1970 hingga tahun 1983. Pada saat itu, Pemimpin Redaksi Majalah Tempo adalah Goenawan Mohamad. Saat dibredel pada 12 April 1982 itu, usia Majalah Tempo sekitar 12 tahun.

Harmoko dan Goenawan Mohamad pastilah sama-sama anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), satu-satunya asosiasi wartawan masa itu. Kenapa saya sebut pasti? Karena, untuk menjadi Pemimpin Redaksi media pada masa itu, seseorang haruslah anggota PWI. Bahkan, yang bersangkutan juga harus mendapat rekomendasi dari PWI.

Artinya, Harmoko dan Goenawan Mohamad sama-sama wartawan. Keduanya juga sama-sama Pemimpin Redaksi. Keduanya pun sama-sama anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Tapi, kenapa “Ide pembredelan itu sendiri datang dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), yang saat itu dipimpin oleh Harmoko.”

Pertanyaan saya, apakah sebelum pembredelan, Harmoko selaku Ketua PWI, pernah memanggil Goenawan Mohamad? Apakah ada dialog antar mereka? Apakah PWI memiliki mekanisme, sebelum merekomendasikan pembredelan suatu media? Saya telah mencoba menelusuri untuk mencari jawaban ketiga pertanyaan tersebut, dan saya tidak mendapatkannya.

Bagi saya, jawaban ketiga pertanyaan itu, penting. Kenapa? Pertama, untuk memastikan, apakah PWI sebagai asosiasi wartawan, berfungsi mengayomi anggotanya sesama wartawan? Kedua, untuk memastikan, apakah “ide pembredelan itu” datang dari PWI sebagai lembaga atau dari ambisi berkuasa Harmoko untuk menindas Goenawan Mohamad, Majalah Tempo, dan puluhan wartawan di Majalah Tempo?

Seingat saya, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) belum pernah memberikan klarifikasi mengenai hal tersebut kepada publik. Saya pikir, ini perlu diklarifikasi. Kalau tidak, PWI akan tercatat dalam sejarah pers, sebagai asosiasi wartawan yang menindas para wartawan. Mari kita mulai dari sini dulu, sebelum ada yang memplesetkan P di singkatan PWI, sebagai Penindas.

Salam dari saya Isson Khairul
Persatuan Penulis Indonesia

(*) Sumber: https://rb.gy/c4jkzi

Leave A Reply

Your email address will not be published.