Indonesia tidak hanya dikenal lewat destinasi seperti Bali, Labuan Bajo, atau Raja Ampat. Sejumlah desa di berbagai daerah berhasil meraih penghargaan Best Tourism Villages dari UN Tourism, yakni Nglanggeran (2021), Penglipuran (2023), Wukirsari dan Jatiluwih (2024), serta Pemuteran (2025). Pengakuan itu diberikan kepada desa yang menjadikan pariwisata sebagai salah satu penggerak pembangunan berkelanjutan.
Daya tarik setiap desa berbeda-beda, mulai dari gunung api purba, rumah adat, sawah terasering, kerajinan batik, hingga konservasi terumbu karang. Desa wisata kelas dunia sendiri dipahami sebagai desa yang memiliki daya tarik wisata sekaligus pengelolaan yang memenuhi standar dan kriteria internasional, dengan perhatian pada aspek budaya, lingkungan, keberlanjutan, dan keterlibatan masyarakat.
Nglanggeran, Gunungkidul
Desa Wisata Nglanggeran di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, lebih dulu mendapat pengakuan internasional. Desa ini dikenal melalui Gunung Api Purba Nglanggeran, bentang alam berbatu yang terbentuk dari aktivitas geologi jutaan tahun lalu. Pemandangannya menarik bagi wisatawan yang menyukai kegiatan luar ruang seperti trekking, menikmati panorama perbukitan, dan wisata edukasi.
Selain keindahan alam, Nglanggeran mengembangkan pariwisata berbasis masyarakat. Warga terlibat dalam pengelolaan destinasi, penyediaan homestay, hingga pengembangan produk lokal, sehingga wisatawan bisa lebih dekat dengan kehidupan masyarakat desa dan tidak sekadar menikmati pemandangan.
Penglipuran, Bangli
Desa Wisata Penglipuran merupakan salah satu desa adat di Bali yang dikenal karena tata ruang tradisional dan lingkungannya yang tertata. Deretan rumah dengan gerbang khas Bali, jalan desa yang rapi, serta penggunaan unsur arsitektur tradisional membuat kawasan ini memiliki karakter yang mudah dikenali.
Masyarakatnya masih menjaga adat dan tradisi yang diwariskan antargenerasi. Wisatawan dapat melihat bentuk rumah tradisional, mengenal kehidupan sosial masyarakat Bali, serta memahami bagaimana aturan adat turut memengaruhi kehidupan sehari-hari di desa tersebut. Keunikan budaya dan upaya menjaga lingkungan menjadi bagian dari daya tarik Penglipuran.
Wukirsari, Bantul
Desa Wisata Wukirsari di Kabupaten Bantul dikenal sebagai salah satu pusat kerajinan batik tulis, terutama melalui kawasan batik Giriloyo. Pengunjung dapat mengenal proses pembuatan batik lebih dekat, mulai dari menggambar pola menggunakan canting hingga pewarnaan kain.
Batik bukan sekadar produk kerajinan bagi masyarakat setempat, tetapi juga bagian dari identitas dan warisan budaya yang terus dijaga. Wisatawan dapat mengikuti kegiatan belajar membatik, melihat hasil karya perajin, serta membeli produk lokal sebagai buah tangan. Aktivitas itu turut membuka peluang ekonomi bagi warga dan membantu menjaga keterampilan tradisional agar tetap diwariskan. Selain batik, Wukirsari memiliki potensi wisata alam dan sejumlah tempat menarik di sekitarnya.
Jatiluwih, Tabanan
Desa Wisata Jatiluwih di Kabupaten Tabanan terkenal dengan hamparan sawah terasering yang membentuk pola berundak mengikuti kontur perbukitan. Pemandangan hijau yang membentang menjadi daya tarik utama, terutama bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana pedesaan dan berjalan menyusuri kawasan persawahan.
Keistimewaannya tidak hanya terletak pada lanskap. Desa ini menjadi bagian dari kawasan lanskap budaya Bali yang berkaitan dengan sistem irigasi tradisional subak, yang mencerminkan kerja sama masyarakat dalam mengatur pembagian air untuk pertanian sekaligus memperlihatkan hubungan antara budaya, alam, dan kehidupan warga. Kawasan lanskap budaya Bali yang mencakup sistem subak telah masuk daftar Warisan Dunia UNESCO pada 2012.
Pemuteran, Buleleng
Desa Wisata Pemuteran di Kabupaten Buleleng menawarkan pengalaman yang berbeda. Berada di kawasan Bali Utara, desa pesisir ini dikenal dengan keindahan pantai dan ekosistem bawah lautnya. Wisatawan dapat menikmati suasana pantai, snorkeling, serta melihat keanekaragaman kehidupan laut di perairan sekitarnya.
Yang membuat Pemuteran menonjol adalah upaya warga memulihkan dan melestarikan terumbu karang melalui program konservasi Biorock, yakni metode restorasi yang memanfaatkan struktur buatan dan teknologi arus listrik bertegangan rendah untuk mendukung pertumbuhan karang. Inisiatif itu menjadi bagian dari perjalanan masyarakat menjaga lingkungan laut sekaligus mengembangkan wisata berkelanjutan. Pada 17 Oktober 2025, desa ini resmi meraih predikat Best Tourism Village 2025 setelah bersaing dengan ratusan kandidat desa dari berbagai negara.
Bukan sekadar panorama
Penghargaan Best Tourism Villages bukan hanya penilaian terhadap keindahan suatu tempat. Program ini turut memperhatikan bagaimana pariwisata dikelola dan memberi manfaat bagi masyarakat setempat, antara lain melalui pelestarian warisan budaya, perlindungan lingkungan, keberlanjutan ekonomi, keterlibatan masyarakat, serta pengembangan infrastruktur dan kualitas pengalaman wisata. Karena itu, desa yang memiliki panorama indah saja belum tentu memenuhi seluruh kriteria yang ditetapkan.
