Ajang Puteri Batik Cilik dan Remaja Indonesia 2026 telah digelar dengan melibatkan 44 peserta dari sejumlah daerah. Pada malam Grand Final kategori Remaja, Erinne Graciana Pricilla asal Jawa Timur keluar sebagai Winner. Penyelenggaraan tahun ketujuh ini menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan potensi diri sekaligus memperkenalkan batik sebagai warisan budaya bangsa.
Daftar Lima Besar Puteri Batik Remaja Indonesia 2026
Kompetisi dibagi ke dalam dua kategori, yaitu Puteri Batik Cilik untuk peserta berusia 10 hingga 13 tahun dan Puteri Batik Remaja untuk usia 14 hingga 18 tahun. Penilaian tidak hanya menyorot kemampuan di atas panggung, tetapi juga pengetahuan budaya, kepribadian, kreativitas, serta kecintaan terhadap batik. Berikut lima besar kategori Remaja:
- Winner: Erinne Graciana Pricilla (Jawa Timur)
- Runner Up 1: Anak Agung Sagung Gita Nareswari (Bali)
- Runner Up 2: Haura Gazala Tsabit (Lampung)
- Runner Up 3: Keizha Ivania Letricia Br Sembiring (Sumatera Utara)
- Runner Up 4: Christable Catherine (DKI Jakarta)
Lima Pilar Penilaian
Masa karantina berlangsung 28 Oktober-1 November 2026 di Yello Hotel Harmoni, Jakarta. Selama periode itu, para finalis mengikuti sejumlah kegiatan pembekalan dan penilaian untuk mengasah kemampuan sebelum tampil di malam puncak. Grand Final sendiri digelar pada 31 Oktober 2026 di Gedung Pusat Perfilman H. Usmar Ismail, Kuningan, Jakarta.
Penyelenggara memakai lima pilar penilaian utama, yakni Cultural Knowledge, Public Speaking dan Advocacy, Catwalk dan Performance Batik, Attitude dan Personality, serta Social Media dan Voting Engagement. Kelima aspek itu mencakup pemahaman peserta terhadap filosofi dan asal-usul motif batik, kemampuan menyampaikan pesan pelestarian budaya, penampilan di panggung, kepribadian selama karantina, hingga keterlibatan masyarakat melalui media sosial.
Berawal dari Keprihatinan
Founder Puteri Batik Cilik dan Remaja Indonesia, Derry Dahlan, menyatakan ajang ini lahir dari keprihatinan melihat anak-anak lebih akrab dengan budaya asing. “Berawal dari keprihatinan kami melihat anak-anak lebih mengenal budaya luar. Akhirnya kami membuat ajang ini agar anak-anak bangga memakai batik sebagai jati diri bangsa,” ujarnya.
Ia menegaskan penilaian dalam kompetisi tidak semata berorientasi pada penampilan fisik. Kecerdasan, perilaku, dan pemahaman peserta terhadap budaya Indonesia ikut menentukan pemenang. “Jadi pemenang yang kami nobatkan adalah mereka yang memiliki Beauty, Brain, Behavior, dan jiwa budaya yang kuat,” jelasnya.
Kepada para pemenang, Derry berpesan agar gelar yang diperoleh tidak berhenti sebagai kebanggaan pribadi, melainkan menjadi tanggung jawab untuk memperkenalkan dan melestarikan batik. Menurutnya, mahkota dan selempang yang dikenakan hanyalah simbol amanah untuk membawa pesan budaya Indonesia kepada masyarakat luas. “Gelar ini bukan akhir, tetapi awal dari sebuah tanggung jawab. Mahkota dan selempang itu hanya atribut. Kalian adalah Duta Batik Indonesia. Pakailah batik dengan bangga di mana pun kalian berada,” pesannya.
Derry menyatakan bangga melihat para finalis tampil percaya diri dan membawa batik ke atas panggung dengan penuh kebanggaan. “Perasaan saya campur aduk, haru, bangga, dan bersyukur. Melihat anak-anak sudah berani di panggung membawakan batik dengan penuh percaya diri, itu bayaran yang tidak ternilai. Lelah selama berbulan-bulan persiapan terbayar,” ungkapnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para orang tua, sponsor, media, serta seluruh tim yang mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut. Lewat ajang ini, diharapkan semakin banyak anak dan remaja yang mengambil bagian dalam menjaga eksistensi batik agar tetap dikenal dan dibanggakan oleh generasi mendatang.
