Menanam terung hijau di pot kini jadi kegiatan yang digemari banyak penghuni rumah urban yang ingin memetik sayur sendiri dari teras. Berdasarkan panduan dari sejumlah sumber berkebun, keberhasilannya bergantung pada wadah yang lapang, cahaya matahari yang melimpah, dan penyiraman yang konsisten.
Pot 5 galon, satu tanaman, dan media tanam gembur
Terung tergolong tanaman berukuran besar dengan perakaran dalam, jadi wadahnya tidak bisa dipilih sembarangan. Almanac menyarankan pot berwarna gelap karena menyerap lebih banyak panas matahari, dengan volume sekitar 5 galon atau 18-20 liter serta diameter dan kedalaman minimal 30 sentimeter untuk satu tanaman. Wadah yang lebih besar menyimpan lebih banyak air, sehingga tanaman tidak lekasan kekeringan.
Tanaman sebaiknya diletakkan di luar ruangan agar bisa diserbuki, dengan media tanam berkualitas baik untuk menekan risiko penyakit. Untuk wadah, varietas ringkas dan cepat panen lebih ideal, misalnya Slim Jim, Long Purple, White Star, Thai Long Green, dan Mini Lebanese. Terung hijau lokal disebut cukup adaptif di pot karena tidak menuntut ruang akar terlalu luas.
Lubang drainase di dasar pot wajib ada karena terung tidak tahan bila akarnya terendam. Tanah kebun murni sebaiknya dihindari lantaran memadat setelah sering disiram sehingga akar kekurangan oksigen. Campuran gembur dengan perbandingan sekitar 1:1:1 antara tanah, kompos atau pupuk kandang matang, dan sekam bakar atau cocopeat bisa jadi patokan, dengan pH media di kisaran 6,0-6,5.
Pot terakota memang cantik, tetapi cepat kering, sehingga bagian dalamnya bisa dilapisi sealant atau diganti wadah plastik dan pot berglasir. Di iklim panas, pot berwarna terang membantu menjaga suhu area akar tetap lebih sejuk.
Pam Brown, agen penyuluhan UF/IFAS Pinellas County Extension, menyatakan, “Pot tanam, ember, kaleng, atau keranjang berukuran lima galon akan cukup besar untuk satu tanaman tomat, cabai, atau terung.”
Cahaya 6-8 jam dan air yang konsisten
Terung menyukai matahari. Pot perlu ditempatkan di balkon, teras, atau sudut halaman yang terkena sinar langsung minimal 6-8 jam setiap hari, dengan matahari pagi hingga tengah hari sebagai pilihan terbaik menurut Epic Gardening. Ketika suhu melewati sekitar 32 derajat Celsius, tanaman cenderung menggugurkan bunga daripada membentuk buah. Karena ditanam di pot, wadah bisa digeser ke tempat yang sedikit teduh pada sore hari, dan sebaiknya diputar seminggu sekali agar seluruh sisi tanaman tumbuh seimbang.
Pada minggu pertama setelah bibit dipindah, penyiraman dilakukan dua kali sehari agar tanaman cepat beradaptasi. Setelah itu, kelembapan media diperiksa setiap hari dan penyiraman dilakukan begitu permukaannya mulai kering, dengan frekuensi dikurangi saat musim hujan. Di musim kemarau, penyiraman harian umumnya diperlukan karena media di pot lebih cepat kering dibanding tanah kebun.
Menyiram pada pagi hari dan mengarahkan air ke pangkal tanaman, bukan ke daun, membantu menekan risiko jamur. Lapisan mulsa seperti jerami atau daun kering di permukaan pot menahan kelembapan, sementara pot dengan sistem self-watering memberi waktu tambahan satu atau dua hari bagi yang sering bepergian.
Phil Dudman, dikutip dari Gardening Australia, menuliskan, “Media tanam yang kering menghasilkan buah berkualitas buruk, jadi periksa terung Anda setiap hari untuk melihat apakah butuh air tambahan.”
Pupuk, ajir, dan waktu panen
Terung rakus nutrisi. Kompos atau pupuk kandang matang dicampurkan ke media sebelum bibit ditanam karena melepas nutrisi secara perlahan dan aman bagi akar muda. Pupuk berimbang diberikan kira-kira setiap dua minggu selama masa pertumbuhan, dimulai sekitar sepekan setelah tanam. Begitu bunga muncul, pupuk diganti dengan yang kandungan fosfor dan kaliumnya lebih tinggi untuk mendukung pembentukan dan pembesaran buah.
Batang terung bisa roboh saat sarat buah, sehingga ajir perlu dipasang sebelum buah terbentuk. Bonnie Plants menyarankan satu tanaman per wadah berukuran 18 hingga 24 inci, dengan batang diikat memakai tali lunak yang menyisakan sedikit ruang agar batang tetap bisa membesar.
Tunas air yang tumbuh dari ketiak daun di bawah bunga pertama serta daun tua atau rusak sebaiknya dibuang agar tanaman lebih rapi dan sirkulasi udara tetap lancar. Jika ingin tanaman lebih bercabang, tunas di titik tumbuh paling ujung bisa dicubit. Penyerbukan juga dapat dibantu dengan mengguncang batang perlahan saat bunga mekar, terutama di lokasi yang minim serangga.
Terung umumnya mulai bisa dipanen sekitar 60-90 hari atau dua sampai tiga bulan setelah tanam, bergantung pada varietas, cuaca, dan perawatan. Buah dipetik saat kulitnya masih halus dan mengilap agar teksturnya tetap lembut ketika dimasak.
Masalah yang perlu diwaspadai
- Busuk ujung buah: muncul bercak gelap dan cekung di bagian bawah buah yang sedang berkembang, hampir selalu dipicu penyiraman yang tidak konsisten.
- Kumbang loncat: gigitannya membuat daun berlubang kecil seperti tusukan jarum. Pot bisa dijauhkan dari bedengan atau tanah terbuka, lalu kumbang diambil secara manual.
- Bunga rontok tanpa jadi buah: biasanya terjadi saat suhu terlalu panas atau tanaman kekurangan air; memindahkan pot ke lokasi yang sedikit teduh pada sore hari dan menjaga kelembapan media bisa membantu.
- Kutu daun dan tungau: kutu daun menghisap cairan daun sampai tanaman lemas, sedangkan tungau membuat daun keriting. Periksa bagian bawah daun secara rutin dan semprot dengan pestisida nabati bila mulai muncul.
- Ulat daun dan ulat buah: ulat grayak memakan batang dan daun, sementara ulat buah merusak terung yang masih muda. Pengecekan rutin sejak dini adalah cara termudah mencegah kerusakan meluas.
- Akar busuk akibat genangan: drainase buruk jadi penyebab paling umum masalah terung di pot, jadi pastikan lubang pot tidak tersumbat dan media tidak terlalu padat.
- Jamur pada daun: udara lembap dan minim sirkulasi memudahkan jamur berkembang, karena itu beri jarak antara pot dengan dinding maupun pot lainnya.
- Pertumbuhan lambat: daun menguning dan tanaman kerdil bisa menandakan kurang nutrisi. Media tanam bekas masih bisa dipakai beberapa musim asalkan ditambah kompos dan pupuk setiap kali tanam ulang.
Menanam terung di pot disebut lebih jarang menghadirkan penyakit yang menular lewat tanah dibanding berkebun di lahan langsung, karena media tanamnya lebih terkontrol. Bagi yang sebelumnya kesulitan menghadapi layu verticillium, menanam dalam wadah disebut bisa menjadi solusi sebab media tanam baru membuat penyakit tersebut tidak muncul kembali.
