Air hujan yang turun deras kerap membuat halaman rumah tergenang, terutama bila kondisi tanah tidak lagi mampu menyerap air dengan baik. Genangan yang dibiarkan dapat mengganggu kenyamanan penghuni dan menambah risiko banjir di lingkungan sekitar. Salah satu cara sederhana untuk meredam masalah itu adalah membuat lubang biopori, yaitu lubang vertikal di dalam tanah yang menjadi jalur masuk air hujan sekaligus membantu menjaga cadangan air di dalam tanah.
Pembuatan lubang resapan biopori tidak menuntut lahan luas maupun bahan yang rumit. Sampah organik dari dapur dan dedaunan kering di sekitar rumah pun bisa dimanfaatkan sebagai isi lubang.
Ukuran lubang dan isinya
Mengacu panduan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Buleleng, lubang biopori dibuat dengan diameter sekitar 10 cm dan kedalaman kurang lebih 100 cm. Jarak antara satu lubang dan lubang lainnya berkisar 50 sampai 100 cm.
Lubang tersebut dapat diisi berbagai jenis sampah organik, seperti sisa sampah dapur, dedaunan kering, dan sisa tanaman. Bahan-bahan itu akan mengalami pelapukan secara alami dengan bantuan organisme tanah.
Lima langkah pembuatannya
- Buat lubang berbentuk silinder dengan posisi tegak lurus ke dalam tanah. Gunakan diameter sekitar 10 cm dengan kedalaman kurang lebih 100 cm. Jika tanah memiliki permukaan air tanah yang dangkal, kedalaman lubang bisa disesuaikan hingga melewati muka air tanah.
- Perkuat mulut lubang menggunakan semen dengan lebar sekitar 2 sampai 3 cm dan ketebalan 2 cm. Lapisan ini menjaga tepi lubang agar tidak mudah rusak atau longsor sehingga biopori dapat dipakai dan dirawat lebih lama.
- Isi lubang dengan sampah organik yang mudah terurai, misalnya sisa dapur, potongan tanaman, atau dedaunan kering.
- Periksa kondisi lubang secara berkala dan tambahkan sampah organik ketika isinya mulai menyusut akibat proses pelapukan. Langkah ini menjaga ketersediaan bahan organik untuk mendukung aktivitas organisme tanah.
- Ambil kompos atau humus yang sudah terbentuk. Kompos dapat diambil setiap akhir musim kemarau bersamaan dengan kegiatan pemeliharaan lubang, lalu dimanfaatkan untuk menyuburkan tanah dan tanaman di halaman.
Dicetuskan ahli ilmu tanah IPB
Lubang resapan biopori merupakan metode sederhana untuk meningkatkan kemampuan tanah menyerap air hujan. Teknik ini dicetuskan oleh Dr. Kamir R. Brata, ahli ilmu tanah sekaligus mantan dosen Fakultas Pertanian IPB University yang pensiun pada 2014. Melansir laman Alumni IPB, ia mulai mengembangkan teknologi lubang resapan biopori (LRB) sejak 1976, tetapi baru disebarkan secara massal pada 2007.
Bentuknya berupa lubang silindris yang dibuat vertikal ke dalam tanah. Lubang kemudian diisi sampah organik untuk memicu aktivitas organisme tanah, seperti cacing, rayap, dan semut, yang membantu membentuk rongga-rongga alami sebagai jalur peresapan air.
Selain mengurangi genangan, biopori disebut memberikan manfaat lain:
- Meningkatkan penyerapan air hujan sehingga genangan dan risiko banjir berkurang, sekaligus mendukung penambahan cadangan air bersih di dalam tanah.
- Membantu menurunkan risiko erosi dan longsor karena aliran air di permukaan yang lebih deras dapat ditekan.
- Mengolah sampah organik menjadi kompos yang bisa dipakai menyuburkan tanah.
- Menjaga aktivitas organisme tanah yang membentuk rongga-rongga alami sebagai saluran peresapan air.
Setelah kompos dikeluarkan dari lubang, lubang dapat kembali diisi dengan sampah organik agar fungsinya sebagai peresapan air dan pengolah sampah tetap berjalan.
