Kementerian Pemuda dan Olahraga menetapkan tema peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 Tahun 2026, yakni “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia”. Penetapan itu tertuang dalam Surat Edaran Menteri Pemuda dan Olahraga Nomor 10.14.19 Tahun 2026 tentang Penyelenggaraan Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 Tahun 2026. Menurut laporan KapanLagi.com, versi tema yang beredar tanpa kata “Gigih” merupakan versi yang tidak lengkap.
Arti tiga nilai dalam tema
Dalam laporan tersebut, “Gigih” disebut sebagai kata yang baru masuk ke tema tahun ini dan paling dekat dengan keseharian anak muda, misalnya revisi skripsi, lamaran kerja yang ditolak, atau usaha kecil yang belum balik modal.
Ketiga nilai dijelaskan sebagai berikut. Patriotik berarti memiliki rasa cinta tanah air, kebanggaan terhadap bangsa, serta kesediaan menjalankan tanggung jawab sebagai warga negara. Gigih menggambarkan ketangguhan, kerja keras, dan kemauan untuk terus berjuang menghadapi tantangan. Sementara berempati menekankan pentingnya kepedulian terhadap sesama dan kemampuan bekerja sama untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.
Nilai berempati juga ditegaskan sebagai pengingat agar kekuatan yang dimiliki generasi muda hadir untuk menyinari dan menghangatkan masyarakat, bukan untuk mendominasi.
Filosofi logo “Besi yang Menjadi Cahaya”
Seperti diberitakan Liputan6.com, logo peringatan tahun ini mengusung filosofi “Besi yang Menjadi Cahaya”, yang menggambarkan perjalanan bangsa Indonesia yang ditempa sejarah dan waktu untuk menghasilkan kekuatan, ketangguhan, serta harapan bagi masa depan.
Setiap nilai dalam tema memiliki unsur visualnya sendiri. Unsur patriotik digambarkan melalui bentuk melingkar yang menyerupai sayap Garuda, nilai empati ditampilkan pada bagian tengah logo, sedangkan kegigihan divisualisasikan lewat bentuk menyerupai panah yang mengarah ke kanan.
Dua pesan resmi menyertai makna logo tersebut. Untuk nilai gigih: “Gigih bukan sekadar bertahan, tapi terus menyala ketika yang lain padam.” Untuk nilai patriotik: “Patriot sejati bukan yang menguasai tanah, tapi yang menjaga cahayanya tetap hidup.”
Kutipan tentang kegigihan
Konsep kegigihan atau grit dari psikolog Angela Duckworth dikenal luas lewat ceramahnya di TED Talks Education pada April 2013 dan kemudian dikembangkan dalam bukunya. Inti buku itu menyebut grit memiliki dua komponen, yaitu gairah dan ketekunan.
“Antusiasme itu biasa. Daya tahan itu langka,” kata Duckworth, sebagaimana dikutip dari Goodreads. Ia juga menyatakan, “Grit adalah menjalani hidup seperti maraton, bukan lari cepat,” yang dirujuk dari Passiton.com.
Duckworth turut mengutip pendiri Amazon, Jeff Bezos, untuk menjelaskan bahwa kegigihan tumbuh dari minat yang ditemukan sendiri: “Salah satu kesalahan besar yang dilakukan orang adalah mencoba memaksakan minat pada diri mereka sendiri.”
Dari tokoh lain, Nelson Mandela mengatakan, “Segala sesuatu selalu tampak mustahil sampai berhasil dikerjakan.” Tan Malaka menyebut, “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda.” Pramoedya Ananta Toer mengingatkan bahwa orang boleh pandai setinggi langit, tetapi bila tidak menulis ia akan hilang dari masyarakat dan sejarah. Mohammad Hatta menegaskan bahwa kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar dan kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman, namun tidak jujur sulit diperbaiki. Ada pula pepatah Jepang, “Nana korobi ya oki”, yang berarti jatuh tujuh kali, bangkit delapan kali.
Kutipan tentang empati
Brene Brown membedakan empati yang hadir bersama orang lain dari simpati yang melihat dari jauh: “Empati memperkuat koneksi. Simpati justru mendorong keterputusan.” Sekretaris Jenderal PBB ke-7, Kofi Annan, menyatakan, “Masyarakat yang memutus diri dari pemudanya sedang memutus urat nadinya sendiri.”
Martin Luther King Jr. menyebut pertanyaan hidup yang paling mendesak adalah apa yang sedang dilakukan seseorang untuk orang lain. Muhammad Ali menggambarkan pelayanan kepada orang lain sebagai uang sewa atas tempat di bumi, sedangkan Helen Keller mengingatkan bahwa sendirian kita hanya bisa berbuat sedikit dan bersama-sama bisa berbuat banyak.
Herbert Hoover, Presiden ke-31 Amerika Serikat, menyampaikan kalimat yang cukup provokatif: “Orang-orang tua menyatakan perang. Tapi pemudalah yang harus bertempur dan mati.” Mengacu pada catatan Shmoop, pernyataan itu disampaikan dalam pidato di Konvensi Nasional Partai Republik ke-23 pada Juni 1944.
Dari dalam negeri, Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menegaskan bahwa agama atau suku tidak menjadi persoalan bila seseorang berbuat baik untuk semua orang. Ki Hajar Dewantara mewariskan semboyan “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani”, yang berarti di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, dan di belakang memberi dorongan.
Kutipan tentang patriotisme
Penulis dan aktivis perdamaian asal Inggris, Vera Brittain, menulis dalam “Youth and War” pada 13 Desember 1934 bahwa hidup untuk negeri adalah bentuk patriotisme yang lebih baik daripada mati untuknya. Tulisan itu lahir dari pengalaman generasinya yang kehilangan banyak orang terdekat dalam Perang Dunia I.
Theodore Roosevelt menilai patriotisme berarti berdiri bersama negara, bukan berdiri bersama presiden atau pejabat publik mana pun. Pesepak bola Prancis Antoine Griezmann menyebut ia berusaha membantu tim dan negaranya sebaik mungkin. Presiden ke-35 Amerika Serikat, John F. Kennedy, dalam pidato pelantikan 1961 meminta warganya tidak bertanya apa yang bisa negara lakukan untuk mereka, melainkan apa yang bisa mereka lakukan untuk negara.
Ir. Soekarno meninggalkan dua kalimat yang kerap muncul setiap 28 Oktober: “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” Ia juga berpesan, “Kita jangan pernah mewarisi abunya Sumpah Pemuda, tetapi kita harus mewarisi apinya Sumpah Pemuda.” Dari khazanah sastra, Mpu Tantular dalam Kakawin Sutasoma menuliskan “Bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa”, sedangkan Chairil Anwar menutup puisi “Diponegoro” dengan “Sekali berarti, sudah itu mati.”
Panduan memakai kutipan
Laporan itu juga memberi sejumlah langkah agar kutipan yang dipilih benar-benar mengena. Pertama, tentukan medianya, karena caption Instagram atau TikTok lebih cocok memakai kutipan satu kalimat, sedangkan amanat upacara membutuhkan kutipan yang lebih panjang. Kedua, pilih satu dari tiga nilai tema sebagai fokus agar pesannya lebih kuat. Ketiga, tambahkan konteks pribadi supaya kutipan terasa lebih dekat. Keempat, cantumkan nama tokohnya sebagai bentuk kejujuran intelektual. Kelima, padukan dengan twibbon atau logo resmi Hari Sumpah Pemuda 2026.
Untuk kutipan berbahasa Inggris, pembaca disarankan menyertakan terjemahannya. KapanLagi.com juga menyertakan sejumlah kata-kata orisinal yang ditulis khusus untuk peringatan tahun ini dan bebas dipakai untuk status maupun caption media sosial.
