Aksi di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, Rabu (28/10/2026), diwarnai gestur tiga jari yang diangkat serempak ke udara. Unjuk rasa yang bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda itu dipelopori Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) bersama Komite Selamatkan Daulat Rakyat (SADAR), dengan menyanyikan lagu perjuangan dan membentangkan spanduk.
Lima tuntutan dan barikade di Sudirman
Gerakan bernama Indonesia Sadar ini digelar untuk menyuarakan kritik terhadap dua tahun pemerintahan serta sejumlah persoalan nasional. Perwakilan BEM UI menyatakan aksi tersebut bukan hanya ruang bagi mahasiswa, tetapi juga bagi buruh, petani, dan unsur masyarakat lain.
Massa mengawal lima tuntutan utama: penetapan status bencana nasional, evaluasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), penurunan biaya pendidikan, reformasi hukum, serta perlindungan hak asasi manusia (HAM) dan demokrasi. Sebelum mencapai Bundaran HI, sebagian rombongan mahasiswa sempat tertahan barikade polisi di Jalan Jenderal Sudirman.
Figur publik berbaur dengan massa
Sejumlah figur publik terlihat di tengah massa. Zaskia Adya Mecca datang bersama aliansi ibu-ibu dengan membawa ambulans, perlengkapan medis, makanan, dan minuman. Ia menuturkan baru kembali dari Kalimantan untuk menyalurkan bantuan bagi warga terdampak kebakaran hutan dan lahan, sehingga merasa membawa amanah dari masyarakat di sana. Zaskia juga memakai media sosialnya untuk menyebarkan kabar situasi di lapangan.
“Karena aku gelisah, aku memilih untuk enggak diam, aku harus turun,” ujarnya.
Kehadiran Zaskia di Bundaran HI bukan yang pertama. Pada 12 Juni 2026, ia mendatangi lokasi yang sama dengan membawa tiga ambulans saat mahasiswa menggelar aksi. Hamidah Rachmayanti hadir bersama suaminya dan menulis di Threads bahwa alam pun mendukung perjuangan hari itu, sambil menyebut bantuan logistik dari Aliansi Ibu Indonesia. Aktris Wanda Hamidah juga tampak turun langsung.
Berdasarkan unggahan warganet, aktor Reza Rahadian dan penyanyi Eva Celia turut membaur dengan massa. Andovi da Lopez membagikan video dari Bundaran HI pada pukul 17.54 WIB, sementara Shahnaz Soehartono, host Insert, mengunggah rekaman dari dekat kerumunan. Chika Fawzi juga terlihat dalam aksi tersebut.
Dari Bangkok hingga Yangon
BEM UI menyebut salam tiga jari kini menjadi bahasa universal gerakan sosial yang mewakili nilai-nilai Revolusi Prancis: liberte (kebebasan), egalite (kesetaraan), dan fraternite (persaudaraan). Penafsiran serupa pernah disampaikan sebagian demonstran Thailand pada 2014. Bagi peserta aksi di Indonesia, simbol itu menjadi identitas bersama bagi mereka yang menolak represi dan menginginkan ruang demokrasi kembali terbuka.
Gestur tersebut pertama kali menjelma simbol prodemokrasi di dunia nyata setelah kudeta militer Thailand pada Mei 2014. Para penentang junta mengacungkannya sebagai perlawanan tanpa suara. Militer Thailand memantau gerakan itu dan menyatakan akan menangkap kerumunan besar yang tak menurunkan tangan setelah diperingatkan.
Sorotan dunia menguat ketika film THE HUNGER GAMES MOCKINGJAY PART 1 tayang pada November 2014. Polisi menahan tiga mahasiswa di Bangkok saat pemutaran perdana pada 20 November 2014, di tengah aksi yang mengacungkan tiga jari di sekitar bioskop.
Dari Thailand, gestur ini menyeberang ke Hong Kong. Para demonstran memakainya dalam Gerakan Payung 2014, lalu menghidupkannya kembali pada unjuk rasa 2019–2020 yang terinspirasi penggunaan ulang di Thailand. Demonstran Thailand sendiri kembali memakainya dalam gelombang protes 2020.
Setelah kudeta Myanmar pada 1 Februari 2021, salam tiga jari juga menjadi pemandangan umum. Reuters melaporkan puluhan ribu pengunjuk rasa berkumpul di sekitar Pagoda Sule, Yangon, pada 10 Februari 2021 sambil mengacungkan salam tersebut. Sebagian penentang kudeta terhubung secara daring lewat tagar #MilkTeaAlliance, jejaring yang mempertemukan aktivis Thailand dan Hong Kong.
Dari Distrik 12 ke jalanan
THE HUNGER GAMES adalah rangkaian novel dan film karya Suzanne Collins tentang perlawanan masyarakat terhadap kekuasaan otoriter. Dalam ceritanya, salam dilakukan dengan menempelkan tiga jari tengah tangan kiri ke bibir, lalu diangkat ke udara.
Adegan paling dikenal muncul di buku dan film pertama ketika warga Distrik 12 memberi hormat kepada Katniss Everdeen setelah ia mengajukan diri menggantikan adiknya dalam turnamen maut. Pada seri kedua, Catching Fire, gestur tersebut berkembang menjadi lambang revolusi. Melalui akun Instagram resminya, BEM UI menjelaskan salam tiga jari sebagai simbol penghormatan, solidaritas, dan perlawanan terhadap sistem yang menindas. Bentuknya mirip tanda Scout yang dipakai sejak 1908, meski Collins tidak menyebutnya sebagai inspirasi.
Dukungan lewat media sosial
Tidak semua figur publik bisa hadir di lokasi. Sebagian menyalurkan dukungan lewat media sosial, mulai dari mengingatkan peserta aksi agar menjaga keselamatan hingga membagikan kontak darurat.
Vokalis dan gitaris Barasuara, Iga Massardi, menulis, “Panjang umur perjuangan.” Musisi Kunto Aji memilih ungkapan Jawa, “Sluman slumun slamet. Tiga jari.” Ungkapan pertama lazim diucapkan sebagai harapan agar selamat dan lancar, sedangkan dua kata terakhir menyiratkan simbol yang ramai dipakai massa.
Ernest Prakasa, yang sedang berada di luar negeri, membagikan kontak Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD). Di Instagram ia menulis, “Saya bukan antek asing, bukan juga buzzer. Saya tidak perlu bujukan apalagi bayaran untuk melawan.”
Komika Bintang Emon mengaku sungkan memposting dukungan saat tidak bisa ikut ke lapangan, namun memutuskan tetap bersuara. Ia juga berterima kasih kepada peserta aksi yang rela bermacet-macetan. “Buat yang udah rela macet-macetan juga tengkyu berat, berkah kerjanya, semoga meningkat kualitas hidupnyaaaa. Aamin ya allaahh,” tulisnya. Sebelumnya, Bintang Emon tercatat ikut aksi di depan gedung DPR pada 22 Agustus 2024 yang menolak revisi UU Pilkada.
Yunita Siregar membagikan salam tiga jari, sementara Sherina Munaf, Maudy Ayunda, dan Baskara Putra alias Hindia membagikan ulang unggahan tentang aksi tersebut. Efek Rumah Kaca menulis, “Selamat berdemonstrasi di manapun teman-teman berada!”
