Kata-kata kehilangan seseorang yang disayang kerap dipakai untuk mengungkapkan isi hati ketika bercerita terasa berat. Kehilangan bisa datang melalui kematian orang tua, pasangan, atau sahabat. KapanLagi.com merangkum 56 kutipan dari penulis, penyair, psikolog, tokoh dunia, pepatah Nusantara, serta untaian kata baru yang jarang diterjemahkan ke bahasa Indonesia.
Banyak orang kini mengenang orang tercinta lewat unggahan memorial di Instagram, jurnal duka, atau status WhatsApp sederhana. Kumpulan kutipan itu memuat kalimat asli dan terjemahannya, sehingga pembaca bisa memakai versi yang paling sesuai dengan suasana hati.
Grief is the price we pay for love
Salah satu kalimat yang paling sering dikutip adalah “Grief is the price we pay for love” dari Ratu Elizabeth II. Menurut Marie Claire, kalimat itu ditulis dalam pesan belasungkawa untuk keluarga korban serangan 11 September 2001 dan dibacakan dalam kebaktian doa di New York. Dua hari setelah serangan, Ratu juga meminta lagu kebangsaan Amerika, The Star-Spangled Banner, dimainkan saat Pergantian Pengawal di Istana Buckingham, seperti dilaporkan Hello Magazine.
Dua dekade kemudian, Presiden Joe Biden mengingatnya lagi. Dalam peringatan 9/11 tahun 2022, ia mengenang bahwa duta besar Ratu membacakan doa di Gereja St. Thomas, New York, yang mengingatkan bahwa “Grief is the price we pay for love”, merujuk transkrip pidato yang diarsipkan Gedung Putih.
Duka tidak selalu melewati lima tahap
Model lima tahap Kubler-Ross populer, tetapi American Psychological Association (APA) memberi gambaran yang lebih longgar. Menurut APA, sebagian besar orang bisa pulih dari kehilangan seiring waktu jika memiliki dukungan sosial dan kebiasaan sehat. APA juga menyatakan tidak ada jangka waktu “normal” untuk berduka dan sebagian besar orang tidak melewati tahap-tahap duka secara berurutan.
Kutipan viral dan pepatah Nusantara
Di media sosial, kutipan Jamie Anderson sering muncul: “Duka, yang kupelajari, sebenarnya hanyalah cinta. Cinta yang ingin kamu berikan, tapi tak bisa.” Kalimat itu beredar di Tumblr, Pinterest, dan Instagram karena menjelaskan duka dengan bahasa sederhana. Dari serial WandaVision, tokoh Vision yang diperankan Paul Bettany mengatakan, “Apa itu duka, kalau bukan cinta yang terus bertahan?” Ada pula kalimat tanpa nama penulis, “Seandainya cinta bisa menyelamatkanmu, kamu pasti akan hidup selamanya,” yang banyak dipakai di kartu duka dan unggahan mengenang orang tua.
Kearifan lokal juga menyimpan cara pandang menenangkan. Pepatah Jawa “Urip iku mung mampir ngombe” mengingatkan bahwa hidup hanya singgah sebentar untuk minum. Peribahasa Indonesia “Patah tumbuh, hilang berganti” mengajarkan bahwa kehidupan terus berjalan. Pepatah Tiongkok kuno menambahkan, “Kau tak bisa mencegah burung-burung duka terbang di atas kepalamu, tetapi kau bisa mencegah mereka bersarang di rambutmu.”
Di banyak keluarga Indonesia, duka kerap disertai doa. Salah satu untaian yang dikutip adalah “Gusti Allah ingkang maringi, Gusti Allah ugi ingkang mundhut. Sedaya namung titipan, nanging tresna panjenengan tetep manggon ing ati kita.” Ada juga kalimat “إِنَّا لِلَّٰهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ” yang digambarkan sebagai pegangan terdekat setelah kehilangan.
Kutipan untuk menguatkan hati
Anne Lamott menulis, “Mereka hidup selamanya di hatimu yang patah dan tak pernah tertutup rapat kembali… dan kamu belajar menari dengan langkah yang pincang.” Lamott menyamakan duka dengan kaki patah yang tidak pernah sembuh sempurna, sehingga orang tetap bisa menari. Ken Burns menyebut duka sebagai bagian hidup yang, jika dijelajahi dengan berani, membuat seseorang lebih kuat. Amy Trowbridge-Yates meluruskan anggapan tentang “move on”: menurut dia, tidak ada yang namanya move on; kita melangkah maju, mencari pijakan, dan mencari cara untuk hidup serta mencintai setelah kehilangan. Melvina Young mengingatkan bahwa air mata bukan ukuran kelemahan, melainkan ukuran kebutuhan untuk berduka dan terus mencintai orang yang telah pergi.
Merawat diri saat berduka, seperti cukup tidur, makan teratur, dan bercerita kepada orang terdekat, disebut sebagai bentuk menghormati yang telah pergi. Bangkit tidak berarti melupakan.
Dari tokoh dunia hingga penyair
Kumpulan itu juga memuat kalimat dari tokoh sejarah dan sastrawan. Cicero mengatakan, “Kehidupan mereka yang telah tiada tersimpan dalam ingatan mereka yang masih hidup.” Voltaire menyebut air mata sebagai “bahasa sunyi dari duka”. Oscar Wilde menulis, “Di mana ada kesedihan, di situ ada tanah yang suci,” dalam De Profundis, surat panjang yang ia tulis saat dipenjara. Ralph Waldo Emerson dikaitkan dengan kalimat, “Saat paling gelap, kita justru bisa melihat bintang.”
Dari kalangan psikolog, Elisabeth Kubler-Ross menyatakan, “Kamu tidak akan ‘melupakan’ kehilangan orang yang kamu cintai; kamu akan belajar hidup bersamanya.” Colin Murray Parkes melihat rasa sakit kehilangan sebagai bagian wajar dari mencintai, sementara Martha Whitmore Hickman menulis, “Penghormatan terbesar bagi yang telah tiada bukanlah duka, melainkan rasa syukur.”
Novelis dan penyair memberi bahasa lain. C.S. Lewis menulis dalam A Grief Observed, “Tak seorang pun pernah memberitahuku bahwa duka terasa begitu mirip dengan rasa takut.” Haruki Murakami lewat Norwegian Wood menyebut bahwa yang bisa dilakukan adalah melewati kesedihan sampai akhir dan belajar darinya. John Irving menggambarkan kehilangan yang datang sepotong demi sepotong. Shakespeare menulis, “Beri kata-kata pada kesedihanmu; duka yang tak diucapkan akan berbisik pada hati yang terlalu penuh, lalu membuatnya patah.” Emily Dickinson menyebut “Mereka yang dicintai tak mungkin mati, sebab cinta adalah keabadian.” Mary Oliver menulis, “Ia tidak jauh. Ia hanya berada di balik dedaunan,” sedangkan Birago Diop menyebut mereka yang telah tiada ada di dalam desir pepohonan.
Untuk pasangan, keluarga, dan sahabat
Untuk yang ditinggal pasangan, Kahlil Gibran menulis, “Cinta tak pernah tahu seberapa dalam dirinya hingga datang saat perpisahan.” Charles Dickens mengingatkan bahwa pedihnya perpisahan tak sebanding dengan bahagia bertemu kembali. Henry David Thoreau menyebut tidak ada obat untuk cinta selain mencintai lebih banyak, dan Mitch Albom menegaskan, “Kematian mengakhiri sebuah kehidupan, bukan sebuah hubungan.”
Untuk keluarga, David Harkins menawarkan pilihan: “Kamu bisa menangis karena ia telah pergi, atau tersenyum karena ia pernah hidup.” Jandy Nelson menulis bahwa duka menjadi bagian diri, selangkah demi langkah dan tarikan napas demi tarikan napas. Doa tradisional Irlandia menyebut, “Cinta meninggalkan kenangan yang tak bisa dicuri siapa pun.” Untuk sahabat, Rumi mengatakan, “Perpisahan hanya untuk mereka yang mencintai dengan mata.” Maya Angelou mengingatkan bahwa orang mungkin lupa nama, tetapi tidak akan lupa bagaimana seseorang membuat mereka merasa. Thomas Bailey Aldrich menulis, “Yang indah tak pernah mati, ia hanya berpindah menjadi keindahan yang lain.”
Selain kutipan tokoh, ada untaian kata baru untuk kartu doa, caption, atau buku harian. Untuk pasangan, misalnya: “Ponselku masih menyimpan pesan terakhirmu. Aku tidak lagi membukanya, tapi juga tak sanggup menghapusnya.” Untuk orang tua: “Bapak, sajadahmu masih terlipat rapi di sudut kamar. Setiap subuh aku membentangkannya, seolah tanganmu yang menyiapkannya untukku.” Untuk sahabat: “Grup chat kita masih ramai, tapi selalu ada satu nama yang tidak lagi mengetik. Dan sepi itu lebih nyaring daripada semua notifikasi.”
Kumpulan itu juga memuat kutipan singkat untuk media sosial, seperti “Ambil hatimu yang patah, lalu jadikan karya seni” dari Carrie Fisher, “Kamu tidak sekadar melewati hidup. Kamu tumbuh melaluinya” dari Eric Butterworth, dan pepatah suku Inuit, “Barangkali itu bukan bintang, melainkan celah di surga.” Ada pula caption siap pakai, antara lain “Healing itu ternyata bukan lupa, tapi berdamai dengan ingatan” dan “Kehilangan mengajariku satu hal: peluk orang-orang selagi pelukanmu masih bisa dibalas.”
