Mimpi alis dicukur orang lain sering membuat seseorang terbangun dengan rasa gelisah. Dalam tradisi tafsir mimpi Islam, alis bukan sekadar bagian wajah, melainkan simbol wibawa, agama, dan orang-orang terdekat. Karena itu, mimpi ini kerap dibaca sebagai isyarat adanya hal yang mengganggu wibawa, hubungan, atau keadaan seseorang.
Tafsir yang dinisbatkan kepada Ibnu Sirin, seperti dikutip dari My Islamic Dream, menyebut alis mewakili penampilan, ketaatan beragama, dan martabat. Alis dalam mimpi juga bisa merujuk pada orang tua, saudara, pasangan, rekan, atau asisten. Meski demikian, tafsir tetap bersifat kemungkinan, bukan kepastian.
Menafsirkan mimpi kepada ahli tidak wajib. Jika mimpi terasa menakutkan atau hanya bawaan pikiran, seseorang cukup mengikuti adab mimpi buruk: berlindung kepada Allah, membaca doa, dan tidak menceritakannya. Tafsir sebaiknya dicari hanya untuk mimpi yang jelas dan terasa baik, itu pun kepada orang yang berilmu dan dapat dipercaya.
Makna tergantung hasil cukuran dan orang yang mencukur
Dalam tafsir klasik, arah makna ditentukan oleh hasil akhir cukuran, kondisi orang yang bermimpi, serta siapa yang mencukur. Alis yang menjadi lebih rapi cenderung dibaca sebagai tanda keadaan membaik. Sebaliknya, alis yang rusak atau habis lebih sering dianggap peringatan.
- Dicukur orang yang dikenal: Karena alis melambangkan orang dekat, mimpi ini sering dikaitkan dengan gesekan dengan keluarga, pasangan, atau kolega. Ibnu Sirin menyamakannya dengan tafsir memotong anggota tubuh, yang berarti pertengkaran akan segera terjadi antara pelaku dan orang yang anggota tubuhnya dipotong.
- Dicukur orang asing: Orang tak dikenal biasanya dibaca sebagai pengaruh luar yang tak terduga. Mimpi ini menjadi pengingat untuk lebih berhati-hati menjaga harta dan nama baik.
- Dicukur habis sampai gundul: Karena alis berkaitan dengan agama dan martabat, hilangnya alis secara total sering dianggap peringatan agar memperhatikan ibadah dan menjaga kehormatan.
- Hanya dirapikan sedikit: Jika hasilnya membuat wajah lebih rapi, tafsirnya cenderung positif, yakni tanda keadaan atau penampilan membaik.
- Dicukur lalu tumbuh lebat kembali: Alis yang indah melambangkan iman yang baik, sehingga pertumbuhan kembali bisa dibaca sebagai tanda pulihnya keadaan setelah ujian.
- Muncul setelah berencana merapikan alis: Jika siangnya seseorang memikirkan soal alis, mimpi itu kemungkinan besar hanya bawaan pikiran dan tidak perlu ditafsirkan berlebihan.
Simbol alis dan perbedaan makna bagi setiap orang
Langkah memahami mimpi ini adalah mengenali kedudukan alis di wajah. Alis membingkai mata dan menentukan ekspresi, sehingga dalam kitab tafsir klasik ia dihubungkan dengan martabat, akhlak, dan agama. Ketika alis dicukur orang lain, ada dua unsur yang perlu dilihat: apa yang hilang dan siapa yang mencukur.
Bagi laki-laki, tafsir Ibnu Sirin menyebut alis melambangkan watak dan akhlak yang baik, ketampanan, agama, kesetiaan, sifat amanah, status, serta kehormatan. Jika simbol sepenting itu dicukur orang lain, para penafsir biasanya membacanya sebagai tanda wibawa atau nama baik yang terusik, atau pengaruh pihak luar terhadap keadaan seseorang. Dalam kitab Ta’thirul Anam fi Tafsiril Ahlam, Syekh Abdul Ghani An Nablusi menafsirkan memotong rambut kepala sebagai tanda turunnya kedudukan dan pangkat.
Tafsir klasik juga membedakan mencabut dan mencukur bulu wajah. Mencabut bulu wajah dalam mimpi disebut lebih buruk daripada mencukurnya, terutama jika rambut itu merusak wajah atau daya tarik. Namun, maknanya tidak selalu negatif karena bisa menggambarkan membaiknya keadaan atau penampilan. Kondisi wajah setelah dicukur ikut menentukan, apakah menjadi lebih rapi atau justru rusak.
Makna juga bergantung pada keadaan orang yang bermimpi. Contohnya, orang kaya yang bermimpi mencabut bulu wajahnya bisa dimaknai kehilangan harta, sedangkan orang miskin dengan mimpi serupa dimaknai akan melunasi utang. Karena itu, satu mimpi bisa memiliki arti berbeda bagi dua orang.
Dalam tradisi tafsir mimpi Islam, alis memiliki sejumlah lambang:
- Agama dan keadaan spiritual: alis yang indah menunjukkan iman yang baik, sedangkan alis yang tumbuh liar berarti iman sedang menurun.
- Penjagaan agama: alis dan bulu mata melambangkan terjaganya agama seseorang dan kesediaannya menerima pesan agama. Semakin sehat keduanya, semakin terjaga agamanya.
- Orang-orang terdekat: alis bisa mewakili orang tua, saudara, pasangan, dan rekan kerja.
- Cinta dan persatuan: dalam mimpi, alis juga berarti cinta dan persatuan.
- Umur panjang: alis dalam mimpi juga dikaitkan dengan panjang umur.
- Harta dan anak: apa pun yang terjadi pada alis dalam mimpi berkaitan dengan harta dan anak-anak orang yang bermimpi.
- Perlindungan dan kekayaan yang langgeng: alis, bulu mata, bulu lengan, bulu kaki, dan bulu dada melambangkan kejantanan, keindahan, perlindungan, atau kekayaan yang langgeng.
- Akhlak perempuan: jika perempuan melihat alisnya tebal atau menyambung dalam mimpi, itu berarti ia berakhlak baik.
Bayangkan alis sebagai “pagar” bagi mata. Jika pagar itu dicukur habis oleh orang lain, tafsirnya mengarah pada perlindungan, hubungan, atau kehormatan yang sedang terganggu.
Hukum mencukur alis di dunia nyata
Mimpi tidak mengubah hukum syariat. Meski begitu, pertanyaan soal merapikan alis sering muncul. Dalam perspektif Islam, mayoritas ulama berpendapat mencukur seluruh alis atau mengubah bentuknya secara signifikan hukumnya haram, berdasarkan hadis: “Allah melaknat wanita yang mencukur alis dan yang meminta dicukurkan alisnya.”
Sebagian ulama memberi kelonggaran. Merapikan sedikit rambut yang tumbuh tidak beraturan dibolehkan, dan ada pengecualian untuk alasan medis seperti luka atau penyakit kulit. Mimpi soal alis dicukur bisa menjadi pengingat untuk merawat alis sesuai tuntunan, bukan mengubah bentuknya secara drastis demi kecantikan semata.
Jenis mimpi dan adab menyikapinya
Tidak semua mimpi perlu dicari maknanya. Nabi Muhammad SAW membagi mimpi menjadi beberapa jenis, dan tiap jenis disikapi dengan cara berbeda. Jika semua mimpi dianggap pertanda, seseorang bisa cemas tanpa alasan.
Merujuk Sunnah.com, hadis Shahih Muslim nomor 2263 menyebut tiga jenis mimpi: mimpi baik sebagai kabar gembira dari Allah, mimpi buruk yang menyakitkan dari setan, dan mimpi yang berasal dari bisikan pikiran sendiri. Hadis yang sama menjelaskan bahwa orang yang melihat mimpi tidak disukai hendaknya berdiri untuk shalat dan tidak menceritakannya kepada orang lain.
Pembagian itu juga dibahas dalam fatwa Sheikh Atiyyah Saqr, mantan ketua Komite Fatwa Al-Azhar, yang dikutip dari AboutIslam. Fatwa tersebut menyebut jenis ketiga sebagai pengaruh dari hal yang sudah dipikirkan sebelumnya. Ibnu Sirin, dikutip dari Muslim Dream Meaning, menyatakan, “Mimpi itu ada tiga macam: sebagian adalah teror dari setan untuk membuat anak Adam bersedih, sebagian adalah apa yang dipikirkan seseorang saat terjaga lalu ia melihatnya dalam tidur…”
Manfaat memilah jenis mimpi adalah ketenangan. Mimpi alis dicukur yang terasa menakutkan dan membuat terbangun gelisah bisa masuk kategori mimpi buruk dari setan. Jika sebelumnya seseorang baru dari salon atau sedang ingin membentuk alis, mimpi itu kemungkinan besar hanya bawaan pikiran. Dalam dua kasus ini, tafsir tidak perlu dicari-cari; cukup ikuti adab yang diajarkan Nabi.
Mengutip NU Online, ada hadis riwayat al-Bukhari yang menjelaskan bahwa jika bermimpi sesuatu yang tidak disukai, seseorang hendaknya memohon perlindungan kepada Allah dari keburukan mimpi dan keburukan setan, lalu meludah tiga kali dan tidak menceritakannya kepada siapa pun, sehingga mimpi buruk itu tidak membahayakan.
Beberapa tuntunan praktis yang bisa dijalankan:
- Tenangkan diri dan ingat bahwa itu hanya mimpi. Jangan langsung menganggapnya sebagai takdir yang pasti terjadi.
- Meludah ringan ke kiri tiga kali, sebagaimana disebutkan dalam hadis di atas, yaitu dengan meniup ringan disertai sedikit ludah.
- Baca doa perlindungan dari keburukan mimpi. KH Achmad Chalwani Nawawi, Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah, menganjurkan doa berikut setelah bangun dari mimpi buruk: اللَّهُمَّ إنِّي أعوذُ بِكَ مِن شرِّها وشرِّ ما فيها (Allahumma inni a’udzubika min syarriha wa syarri ma fiha). Artinya: “Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari mimpi buruk dan apa yang buruk di dalam mimpi.”
- Baca doa saat terkejut terbangun. Bagi orang yang terkejut dan terbangun karena mimpi buruk, Rasulullah SAW mengajarkan doa Huwallahu, allahu rabbi, la syarika lahu. A’udzu bikalimatillahit tammati min ghadhabihi wa min syarri ibadihi wamin hamazatis syayatini wa an yahdhuruni. Artinya, “Dialah Allah. Allah Tuhanku. Tiada sekutu bagi-Nya. Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari murka-Nya, kejahatan para hamba-Nya, dan godaan setan.”
- Jangan ceritakan mimpi buruk kepada sembarang orang. Jika diceritakan kepada orang yang salah, mimpi itu bisa menimbulkan fitnah atau rasa iri.
- Dirikan shalat. Sesuai hadis Shahih Muslim, shalat menjadi cara terbaik untuk menenangkan hati.
- Jadikan mimpi sebagai bahan muhasabah. Karena alis melambangkan agama dan hubungan, gunakan mimpi ini untuk mengecek ibadah, memperbaiki hubungan keluarga, dan menjaga nama baik.
Untuk mimpi yang terasa baik, misalnya alis menjadi rapi dan indah, seseorang dianjurkan bersyukur kepada Allah dan boleh menceritakannya kepada orang yang dipercaya serta menyukai kebaikan untuknya.
