Film bertema perjalanan waktu masih punya tempat tersendiri bagi penikmat fiksi ilmiah. Sejumlah judul tidak berhenti pada kisah kembali ke masa lalu, tetapi juga memperlihatkan bagaimana keputusan di masa lampau memunculkan kejadian baru dan menciptakan masa depan yang jauh berbeda dari sebelumnya. KapanLagi.com merangkum tujuh film tersebut, Minggu (1/11).
Bukan melulu soal mesin waktu
Film time travel adalah film yang mengangkat cerita perjalanan seseorang dari satu periode waktu ke periode lain, baik menuju masa lalu maupun masa depan. Ceritanya sering melibatkan mesin waktu, fenomena alam, atau kemampuan khusus.
Namun, tidak semua film menggunakan mesin waktu. Sebagian menghadirkan perjalanan waktu lewat teknologi, sebagian lain melalui fenomena alam, kemampuan khusus, atau komunikasi lintas waktu seperti dalam Frequency.
Beberapa judul yang menggambarkan perubahan masa depan adalah The Butterfly Effect, Back to the Future, X-Men: Days of Future Past, dan Project Almanac. The Butterfly Effect dan Looper disebut memiliki alur penuh kejutan, sementara Back to the Future, Terminator 2: Judgment Day, dan X-Men: Days of Future Past dinilai cocok bagi pencinta fiksi ilmiah karena memadukan perjalanan waktu dengan petualangan, aksi, serta konflik soal perubahan masa depan.
Ketika kehadiran di masa lalu mengacaukan segalanya
Back to the Future garapan Robert Zemeckis mengikuti Marty McFly (Michael J. Fox), remaja yang tanpa sengaja kembali ke tahun 1955 memakai mesin waktu berbentuk mobil DeLorean. Di masa lalu, Marty bertemu kedua orang tuanya saat masih muda, tetapi kehadirannya mengganggu pertemuan mereka sehingga hubungan keduanya terancam tak pernah terjalin. Marty harus mencari cara agar orang tuanya kembali saling jatuh cinta sebelum kesempatan pulang ke masa depan hilang. Perjalanannya menunjukkan bagaimana tindakan seseorang di masa lalu dapat memengaruhi kehidupan generasi berikutnya.
The Butterfly Effect mengikuti Evan Treborn (Ashton Kutcher), pemuda yang mampu kembali ke masa lalu melalui ingatan dan catatan masa kecilnya. Kemampuan itu ia sadari ketika berusaha memahami sejumlah kejadian traumatis yang pernah dialaminya. Evan lalu memanfaatkannya untuk memperbaiki peristiwa yang dianggap menjadi sumber penderitaan dirinya dan orang-orang terdekat, dengan harapan semua orang bisa hidup lebih baik. Kenyataannya, setiap perubahan memunculkan masa depan berbeda, bahkan beberapa di antaranya membawa konsekuensi lebih buruk daripada keadaan semula. Film ini memperlihatkan bagaimana satu keputusan kecil dapat memengaruhi banyak aspek kehidupan.
Frequency menawarkan pendekatan lain. Film garapan Gregory Hoblit ini mengikuti John Sullivan (Jim Caviezel) yang menemukan cara berkomunikasi dengan ayahnya, Frank Sullivan (Dennis Quaid), padahal sang ayah telah meninggal puluhan tahun sebelumnya. Keduanya terhubung melalui radio ham akibat fenomena alam yang memungkinkan komunikasi lintas waktu. John memakai kesempatan itu untuk memperingatkan ayahnya soal peristiwa berbahaya yang akan terjadi, tetapi peringatan tersebut justru mengubah rangkaian kejadian dalam kehidupan keluarga mereka, dan setiap perubahan membawa konsekuensi baru yang harus dihadapi John di masa kini. Film ini memadukan misteri, hubungan ayah dan anak, serta akibat dari upaya mengubah sejarah.
Masa depan yang dipertaruhkan
Looper menghadirkan perjalanan waktu yang dimanfaatkan organisasi kriminal. Berlatar masa depan, film garapan Rian Johnson ini mengikuti Joe (Joseph Gordon-Levitt), pembunuh bayaran yang bertugas menghabisi target kiriman dari masa depan. Pekerjaan itu berjalan seperti biasa sampai Joe menerima target yang ternyata dirinya sendiri dalam versi lebih tua (Bruce Willis). Konflik semakin rumit karena Joe versi tua punya tujuan yang berkaitan dengan masa depan, sementara Joe versi muda harus menentukan pilihan yang bisa memengaruhi kehidupan banyak orang. Film ini mengangkat pertanyaan tentang hubungan antara keputusan masa kini dan masa depan yang akan terbentuk.
Project Almanac mengikuti sekelompok remaja yang menemukan rancangan mesin waktu. Setelah mempelajarinya dan berhasil mengaktifkannya, mereka mencoba melakukan perjalanan ke masa lalu untuk mengubah berbagai kejadian sehari-hari. Awalnya kemampuan itu dipakai untuk mendapatkan pengalaman menyenangkan, memperbaiki kesalahan, dan memperoleh keuntungan dari informasi yang sudah diketahui sebelumnya. Namun, perubahan yang dilakukan perlahan membawa dampak yang tidak mereka perhitungkan, dan kehidupan mereka pun semakin sulit dikendalikan.
Terminator 2: Judgment Day mengangkat perjalanan waktu dalam konflik antara manusia dan kecerdasan buatan. Ceritanya berlangsung di tengah ancaman Skynet, sistem kecerdasan buatan yang pada masa depan memicu perang besar dan berusaha memusnahkan umat manusia. John Connor menjadi sosok penting dalam perlawanan manusia, karena itu sebuah robot dikirim ke masa lalu untuk melindunginya dari Terminator lain yang bertugas membunuhnya sebelum dewasa. Robot pelindung tersebut membantu John dan ibunya, Sarah Connor, menghadapi ancaman yang bisa mengubah masa depan, sekaligus berusaha mencegah perang antara manusia dan mesin.
X-Men: Days of Future Past garapan Bryan Singer menggambarkan masa depan ketika para mutan menghadapi ancaman robot Sentinel yang dirancang untuk memburu dan menghancurkan mereka. Untuk mencegah kehancuran itu, Wolverine (Hugh Jackman) dikirim kembali ke masa lalu dengan kesadaran yang dipindahkan ke tubuhnya pada masa muda. Dalam misinya, ia harus mempertemukan Charles Xavier muda (James McAvoy) dan Magneto muda (Michael Fassbender), serta menghentikan keputusan yang berpotensi mengubah sejarah para mutan. Perubahan yang dilakukan di masa lalu menjadi penentu apakah masa depan yang mengerikan masih bisa dihindari.
