Jakarta, Trenz News | Hari ini, Rabu (01/05/2019), para pekerja memperingati Hari Buruh Internasional. Sehari sebelumnya, Selasa (30/04/2019), Presiden Joko Widodo makan siang bersama para pekerja pabrik sepatu. Ada apa dengan sepatu?
Sepatu Bikin Bangga
Ya, karena sepatu telah membuat kita bangga. Sepanjang tahun 2018, industri alas kaki Indonesia, telah memproduksi 1,41 miliar pasang sepatu. Luar biasa. Dan, jumlah itu setara dengan 4,6 persen, dari total produksi sepatu dunia. Itu membuat Indonesia menduduki posisi ke-4 di dunia, sebagai produsen alas kaki.
Tiga negara di atas kita adalah China, India, dan Vietnam. Agaknya, karena reputasi itulah, Joko Widodo memberikan apresiasi khusus kepada para pekerja pabrik sepatu. Salah satunya, Presiden Jokowi meluangkan waktu untuk makan siang bersama mereka, di pabrik sepatu milik PT KMK Global Sports, Cikupa, Tangerang, Banten.
Kita tahu, pabrik sepatu tersebut adalah produsen utama sepatu dengan merek dagang Nike, Converse, dan Hunter. Pabrik itu berdiri sejak tahun 1990, dengan total pekerja mencapai 14 ribu orang. Dan, 75 persen di antaranya adalah perempuan. Artinya, serapan tenaga kerjanya, positif untuk mengurangi pengangguran.
Berdiri sejak tahun 1990, dengan total pekerja mencapai 14 ribu orang, menjadi penanda bagi kita, bahwa industri sepatu tersebut, tumbuh sehat secara ekonomi. Meski teknologi telah membuat dunia berubah demikian cepat, nyatanya teknologi KMK Global Sports, mampu menjawab kebutuhan zaman.
Tumbuhnya generasi milenial, tak membuat mereka hilang akal. Mereka terus memacu kreativitas, untuk beradaptasi dengan kreativitas kaum milenial. Antara lain, dengan menciptakan sepatu yang keren, dengan harga terjangkau. Itulah yang membuat Nike, Converse, dan Hunter, senantiasa mampu meraih simpati milenials.
Kreativitas = Daya Saing
Boleh dibilang, kreativitas menjadi kunci penting untuk memenangkan persaingan. Kreatif dalam menciptakan produk, kreatif pula dalam memasarkan produk. Kaum milenial, agaknya ingin keduanya sekaligus. Mereka bukan hanya ingin produk yang bagus, tapi juga ingin harga yang keren.
Maka, berlomba-lombalah dalam kreativitas, untuk memenangkan persaingan. Untuk meningkatkan daya saing. Dalam konteks daya saing ini, Joko Widodo yakin, produk buatan asli Indonesia, memiliki daya saing yang tinggi. Tak cuma sepatu jenis sneakers, menurut Jokowi, banyak produk lokal yang kualitasnya keren.
Bahkan, sebagian sudah mampu menyaingi produk bermerek buatan luar negeri. Itu diungkapkan langsung Joko Widodo, dalam video blog berdurasi 1 menit 45 detik, dengan judul Cerita Sneakers dan tagar #JKWVLOG. Video itu diunggah di akun resmi Jokowi di presiden.go.id Sabtu, (25/08/2018) atau di media sosial Facebook, pada Minggu (26/08/2018).
Meski demikian, dalam hal daya saing di pasar global, pemerintah memang masih harus bekerja lebih keras. Badan usaatistik mencatat, nilai ekspor alas kaki Indonesia sepanjang tahun 2018, sebesar USD 5,1 miliar atau setara Rp 72,3 triliun. Itu masih jauh dari target yang hendak dituju Kementerian Perindustrian.
Hal tersebut bukan hanya karena faktor kualitas produk alas kaki kita, tapi juga karena perjanjian dagang dengan negara luar. Dengan Uni Eropa, misalnya, produk sepatu Indonesia saat ini dikenakan bea masuk sekitar 11 persenpresiden.go.id & . Sementara, produk sepatu dari Vietnam, bebas bea masuk ke Uni Eropa.
Menteri Perindustrian (Menperin) Republik Indonesia Airlangga Hartarto,(tengah) meninjau Industri Kecil Menengah (IKM) alas kaki di Desa Mekarjaya, Kecamatan Ciomas dan mengunjungi Unit Pelayanan Teknis (UPT) Cibalagung, pada Selasa (3/1).
kedatangan Menteri Perindustrian ke Kabupaten Bogor akan membawa angin segar kepada para pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM), karena kontribusi daya beli dalam peningkatan Indeks Pembangunan Masyarakat (IPM) masih rendah di bandingan Kesehatan dan Pendidikan, maka Kabupaten Bogor terus memberikan perhatian khusus kepada para pelaku UKM.
FOTO : SOFYANSYAH/RADAR BOGOR
Moncer Dalam Negeri
Nilai ekspor alas kaki Indonesia sepanjang tahun 2018, memang belum memenuhi target. Dibutuhkan strategi global, untuk mendongkrak ekspor tersebut. Antara lain, dengan meningkatkan kerjasama dagang dengan negara luar, dalam format saling membutuhkan serta saling menguntungkan.
Salah satu yang sudah positif adalah dengan Australia. “Indonesia sudah tandatangani CEPA dengan Australia dan European Free Trade Association (EFTA). Ini menjadi potensi untuk memperluas pasar ekspor bagi produk manufaktur kita,” ungkap Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto, pada Jumat (15/03/2019).
Berbekal kerjasama dagang di atas, Airlangga Hartarto optimistis akan terjadi peningkatan ekspor produk alas kaki nasional sampai 6,5 miliar dolar AS pada tahun 2019 dan menjadi 10 miliar dolar AS dalam empat tahun ke depan. Optimisme tersebut terus digelorakan Airlangga Hartarto dalam kunjungannya ke berbagai sentra sepatu.
Bersamaan dengan itu, pasar alas kaki dalam negeri, terus tumbuh dengan pesat. Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian, Gati Wibawaningsih, mencatat, serapan sepatu di tanah air, mencapai 886 juta pasang alas kaki per tahun. Serapan yang sungguh mengesankan.
Artinya, dengan total produksi 1,41 miliar pasang sepatu di tahun 2018, pasar dalam negeri sesungguhnya masih sangat menjanjikan. Itu sekaligus mencerminkan, bahwa produsen sepatu di tanah air, cukup mampu memenuhi selera kaum milenial. Kita tahu, kaum milenial, jumlahnya kini bejibun. Milenials kini dominan.
Di Indonesia, dari sekitar 260 juta penduduk, sekitar 60 persen adalah generasi milenial, dengan rentang usia 15-27 tahun. Secara marketing, mereka adalah target market yang dibidik oleh hampir semua produk. Mereka terbuka dan berani untuk nyoba hal-hal baru. Termasuk model sepatu baru, yang serba kekinian. (Isson Khairul/TrenzIndonesia) |Foto : presiden.go.id & Google.co.id