Jakarta, Trenz Tourism I Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mendukung sepenuhnya permintaan masyarakat adat Baduy untuk membatasi kunjungan wisatawan yang datang ke perkampungan masyarakat adat Baduy di Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, Banten,
Terkait pembatasan kunjungan wisatawan ke perkampungan adat Baduy, Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenparekraf, Hari Santosa Sungkari, dalam kunjungannya ke Desa Kanekes baru-baru ini mengatakan, pengunjung yang hendak berkunjung ke Desa Kanekes atau yang ingin berkunjung ke perkampungan masyarakat adat Baduy dalam harus menghormati dan mematuhi aturan adat yang sudah ada.
“Kita menganut sustainable tourism. Artinya kita menjaga agar wisatawan tidak berjibun-jibun yang datang, dengan tetap menjaga keseimbangan lingkungan fisik dan budaya sehingga budaya itu tetap eksis, fisiknya tetap lestari,” kata Hari dalam siaran pers yang diterima Trenzindonesia.com, Rabu (22/7) siang.
”Saba ini bermakna silaturahmi, saling menghargai dan menghormati antar adat istiadat masing-masing. Di atas itu semua, saling menjaga dan melindungi nilai-nilai yang berkembang dan hidup di masyarakat setempat dan masyarakat yang datang berkunjung,” papar Uday.
Sejalan dengan Uday, salah seorang tetua masyarkat adat Baduy Dalam, Ayah Mursid mengatakan, meminta agar aturan Saba Budaya Baduy lebih diperjelas dan disosialisasikan dengan optimal.
Mursid juga memberikan masukan agar didirikan pusat informasi mengenai masyarkat adat Baduy di luar perkampungan adat. Sehingga, calon pengunjung yang ingin mendatangi kawasan masyarakat adat Baduy bisa mempelajari terlebih dahulu apa saja adat istiadat yang ada serta menjelaskan tujuan kedatangannya.
Mengethaui keinginan yang menjadi harapan masyarakat adat Baduy, Hari pun menyambut baik. Karenanya Hari mengatakan, pihaknya akan menampung segala aspirasi yang telah disampaikan oleh para perwakilan tetua masyarakat adat Baduy.
“Ini bisa berbentuk aplikasi nantinya. Jadi siapa yang datang kapan mau datang kalau sudah melebihi (batas pengunjung) ini akan ada pemberitahuan bahwa kapasitasnya sudah berlebih. Sehingga kita tidak terulang ada ribuan orang yang belum tentu mendatangkan manfaat,” tutur Hari.
Dalam kesempatan yang sama, Bupati Lebak, Iti Octavia Jayabaya menyampaikan dukungan terhadap segala upaya pelestarian budaya masyarakat adat Baduy sebagai destinasi pariwisata berkelanjutan. Pemda Lebak selama ini terus berkonsolidasi dengan masyarakat adat Baduy dalam upaya Saba Budaya Baduy.
Dalam acara ini turut pula kehadiran Direktur Pengembangan Destinasi Regional I Kemenparekraf/Baparekraf Oni Yulfian, Kapolres Lebak AKBP Firman Andreanto, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lebak Imam Rismahayadin, Kepala Desa Kanekes Jaro Saija, serta sejumlah tetua adat masyarakat Baduy Luar dan Baduy Dalam. Acara ini diakhiri dengan penyerahan bantuan secara simbolis berupa masker dan hand sanitizer bagi masyarakat adat Baduy. [Foto-foto: dok. birkom kemenparekraf]