Trenz Indonesia
News & Entertainment

Cahwati: Perempuan Multibakat Di Dunia Seni Pertunjukan Indonesia

Mencipta Lagu Film Syirik dalam Satu Menit

296

YOGYAKARTA, Trenzindonesia | Seniwati multibakat, Cahwati, bukan hanya mahir dalam seni tradisional Jawa seperti menyanyi Jawa (sinden), menari, dan mencipta lagu, tetapi juga memiliki keahlian luar biasa dalam menciptakan musik untuk film.

Ia terlibat dalam film “Syirik” garapan sutradara Hestu Saputra dan berhasil menciptakan lagu untuk film tersebut hanya dalam waktu satu menit.

Kisah di balik penciptaan lagu untuk “Syirik” ini dimulai ketika sutradara Hestu Saputra meminta Cahwati untuk membuat musik tambahan untuk kepentingan syuting film. Tanpa banyak waktu untuk mempersiapkannya, Cahwati bertanya kapan syuting akan dimulai?. Dengan tangkas, Hestu Saputra menjawab bahwa syuting sudah berlangsung. Cahwati dengan cepat berbicara dengan suaminya dan dalam waktu satu menit, mereka berhasil menciptakan lagu dan musik yang dibutuhkan untuk film tersebut.

Pada awal karirnya, Cahwati bekerja dengan Slamet Gundono dalam produksi “Wayang Suket.” Namun, seiring berjalannya waktu, ia terlibat dalam berbagai proyek seni yang lebih besar dan lebih menantang. Salah satu kolaborasi terbesarnya adalah dengan sutradara terkenal, Garin Nugroho.

Cahwati telah berkolaborasi dengan Garin Nugroho dalam berbagai karya seperti “Opera Jawa,” “Selendang Merah,” “Nyai,” “Pager Bumi,” dan “Setan Jawa.” Karyanya bersama Garin Nugroho bahkan telah melakukan tur di berbagai negara seperti Belanda, Perancis, Melbourne, Jakarta, dan Solo.

Tidak hanya bersama Garin Nugroho, Cahwati juga telah berkolaborasi dengan seniman ternama lainnya seperti Goenawan Mohamad, Tony Prabowo, dan Melati Suryodarmo dalam karya-karya seperti “Sysiphus,” “Macbeth,” dan “Gandari,” yang juga melakukan tur di berbagai tempat seperti Jakarta, Belgia, dan Frankfurt.

Sebagai koreografer, Cahwati telah menciptakan berbagai karya tari yang memukau. Beberapa karyanya termasuk “Ronggeng Dukuh Paruk,” yang diambil dari trilogi Ahmad Tohari, “Sang Nak,” “Ronggeng Manis,” “Bedhaya Idek,” “Brantrara,” dan masih banyak lagi.

Dalam beberapa tahun terakhir, Cahwati mulai mengembangkan dirinya sebagai seorang komposer. Meskipun ia lulus dari Jurusan Tari di Institut Seni Indonesia di Jawa Tengah, ia berhasil mengembangkan sejumlah repertoar musik dan bekerja sebagai komposer dalam berbagai proyek seni.

Cahwati juga bersama suaminya, Sri Waluyo, adalah pendiri Yayasan Rumah Seni Tegal. Sri Waluyo adalah seorang dalang wayang dan bersama-sama mereka mempresentasikan karya “Wayang Pesisir” di Berlin dan Turki.

Kerja sama Cahwati dengan Rianto sejak tahun 2016 juga patut diperhatikan. Mereka telah membawakan karya “Medium” yang melakukan tur di berbagai negara seperti Damstat, Australia, Brussel, Belgia, Prancis, Swiss, Texas, Praha, Italia, Bulgaria, Shanghai, dan banyak tempat lainnya.

Dalam karya terbaru Rianto, bertajuk “Hijrah,” Cahwati bekerja sebagai komposer dan telah mempresentasikannya di DeSingel-Belgia serta tampil di Melbourne-Australia pada Juni 2022. Mereka juga tampil di forum Humboldt di Berlin pada tahun 2022.

Selain itu, Cahwati juga terlibat dalam berbagai proyek musik seperti karya untuk IDF (International Dance Festival), Garin Nugroho untuk Pesta Raya Malay Festival of Art di Singapura, Melati Suryodarmo untuk International Coproduction Fund, Bathara Saverigadi untuk hiburan, dan Razan Wirdjosanjojo untuk karya A_PART. (TB/Fajar)

Leave A Reply

Your email address will not be published.