Trenz Indonesia
News & Entertainment

Peran Seniman dan Kalangwan dalam Keseimbangan Kekuasaan

Diskusi Kebudayaan

97

Jakarta, Trenzindonesia | Dalam Diskusi Kebudayaan berjudul “Peran Budayawan dalam Situasi Politik Masa Kini & Masa Depan: Melihat Kembali Jejak Chairil, Rendra, Hardi, dan Kita,” para budayawan membahas peran seniman dan Kalangwan dalam menyikapi dinamika kekuasaan.

Peran Seniman dan Kalangwan dalam Keseimbangan KekuasaanKalangwan, sebagaimana dijelaskan oleh pakar sastra Jawa Prof. Dr. Petrus Josephus Zoetmulder, S.J. (29 Januari 1906 – 8 Juli 1995), pada bukunya, “Moralitas dari orang-orang Kalangwan itu sangat otonom. Tidak berdasarkan kebenaran agama atau kekuasaan.”, merujuk pada tokoh-tokoh seperti Chairil Anwar, WS Rendra, Japi Tambayong (Remy Sylado), dan Radhar Pancadahana.

Menurut Budayawan Taufik Rahzen, Kalangwan memiliki moralitas yang otonom, tidak bergantung pada kebenaran agama atau kekuasaan. Dalam konsep diri mereka, ego, yang terlihat dalam karya-karya seperti puisi Chairil Anwar dan buku Pramudya Ananta Toer.

Dipandu oleh penyair Amien Kamil, acara diskusi kebudayaan yang dihelat di Teater Kecil TIM, Rabu (10/1/2023) malam, menghadirkan pembicara Taufik Rahzen (Budayawan), wartawan senior Bre Redana, dan perupa Arahmaiani.

Peran Seniman dan Kalangwan dalam Keseimbangan KekuasaanDiskusi kebudayaan yang diadakan oleh kelompok semiman dan budayawan untuk merespon perkembangan sosial politik masa kini, tersebut juga dihadiri diantaranya oleh seniman Butet Kartaradjasa, penyair Jose Rizal Manua, budayawan Isti Nugroho, dan politikus Miing Deddy Gumelar.

Taufik Rahzen menekankan bahwa bagi Kalangwan, keindahan adalah bagian dari tempat mereka berada, dan meskipun berbeda-beda, kebenaran selalu satu. “Dulu masyarakat Nusantara selalu bertegangan antara kekuasaan dan agamawan. Para budayawan dan seniman selalu mengambil jalan keindahan dan tidak terlalu peduli dengan kekuasaan,” kata Taufik.

Dalam konteks karya seni, Bre Redana menyatakan bahwa pengaruh perguruan silat Bangau Putih, tempat WS Rendra dan Hardi berlatih, sangat memengaruhi sikap dan kritik yang muncul dalam karya-karya mereka. Hardi, menurut Bre, adalah seorang pelukis kritis dan kompromostis, sementara WS Rendra mengadopsi filsafat Taoisme dalam karya-karyanya.

Perupa Arahmaiani menambahkan bahwa WS Rendra memiliki pengaruh signifikan terhadap sikap dan pola pikirnya setelah ia dipenjara dan dikeluarkan dari ITB pada tahun 1983. “Mas Rendra memberi saya dua buku, salah satunya Kitab Pararaton. Saya tertarik tentang budaya dan tradisi. Terutama pada masa pemerintahan Soeharto, saya melihat tradisi budaya Jawa dipelintir oleh penguasa,” kata Arahmaiani.

Arahmaiani menyoroti isu lingkungan sebagai satu-satunya isu yang bisa mempersatukan kelompok saat ini. Meskipun demikian, isu-isu lain masih sulit untuk disatukan. Diskusi ini mencerminkan upaya para budayawan dalam merespons perkembangan sosial dan politik masa kini.

Menurut politikus Miing Deddy Gumelar, penting adanya Pemerintahan yang memahami visi kebudayaan.

“Menurut saya acara seperti ini, bagus, perlu dibikin kembali diskusi semacam ini, agar apa?  Saya penghibur, lalu menjadi politisi, ini menjadi penting, karena kebudayaan tidak bisa berdiri sendiri. Harus ada kekuasaan yang memahami tentang visi kebudayaan itu sendiri. Kalo gak, gak bisa. Gak bisa kita memaksa Pemerintah, kalo mereka tidak punya visi, tidak punya program.” jelas Miing Deddy Gumelar.

Peran Seniman dan Kalangwan dalam Keseimbangan Kekuasaan
Miing Deddy Gumelar

“Benar tadi, Bre Redana bilang dari ketiga calon gak ada yang mengarahkan membaca buku. Artinya apa? Bahwa kesadaran dan budaya literasi itu sangat rendah”, tegasnya.

“Soal budayawan ke politik, siapapun punya hak untuk memilih dan dipilih. Akan tetapi yang paling penting, pemikiran kebudayaannya harus ditindaklanjuti dalam bentuk kebijakan.  Kalo gak lewat politik, gak bisa bikin kebijakan, karena gak punya kekuasaan”, lanjutnya.

“Semua pemimpin di semua level, mutlak harus memahami  tentang kebudayaan, kalo gak, repot”, tandas Miing. (Fjr) | Foto:  Dsp

Leave A Reply

Your email address will not be published.