Trenz Indonesia
News & Entertainment

Pergizi Pangan Indonesia Luncurkan Aplikasi atau Program Perangkat Lunak CEK STATUS GIZI Online

Dalam Rangka Peringati Hari Gizi Nasional ke 61

147

Jakarta, Trenz News | Dalam rangka memperingati Hari Gizi Indonesia Nasional  ke 61, 25 Januari 2021, PERGIZI PANGAN Indonesia bekerjasama  dengan Departemen Gizi Masyarakat FEMA IPB, Asosiasi Pendidikan Tinggi Gizi Indonesia (AIPGI), Akademi Bidang Ilmu Pangan dan Gizi – Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPG -AIPI) dan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyelenggarakan webinar Seri 30, bertajuk “Pengendalian Anemia Dan Stunting Memperingati Hari Gizi Nasional 2021” berupa acara talkshow, serta peluncuran perangkat lunak CEK STATUS GIZI Online.

Webinar dengan tema “Pengendalian Anemia dan Stunting” menghadirkan para pembicara Dr dr Lucy Widasari MSi -Tim Percepatan Pencegahan Anak Kerdil, Sekretariat Wakil Presiden RI, Dr Pungkas Bahjuri Ali MS – Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat, Bappenas, Dr  Dhian Proboyekti Dipo SKM  MA, Direktur Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan, Prof Dr Dodik Briawan MCN -Guru Besar Ilmu Gizi, Departemen Gizi Masyarakat IPB University,  dan Linus Lusi MPd (Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT).

Dr Lucy memaparkan tentang kebijakan dan target penurunan stunting,  Dr Dian P Dipo memaparkan tentang berbagai program unggulan strategis dalam pengendalian anemia pada remaja.

Dr Pungkas Bahjuri, menyatakan pentingnya kolaborasi Pemerintah dengan akademisi, bisnis, organisasi kemasyarakatan, Komunitas dan Media guna percepatan penurunan stunting.

“Pendekatanan kelembagaan dan keluarga adalah suatu keharusan dalam percepatan penurunan stunting, karena itu penting sekali  adalanya kolaborasi pemerintah dengan akademisi, bisnis, organisasi kemasyarakakatan, komunitas, dan Media dalam percepatan penurunan stunting.” kata Pungkas Bahjuri.

Sementara Prof Dr Dodik menyampaikan tentang Kisah Sukses dan Potensi Inovasi Program dalam Percepatan. Salah satu program pencegahan anemia pada remaja putri di SMP dan SMA saat ini adalah pemberian tablet tambah darah (TTD).

“Program pemberian tablet tambah darah ini perlu disertai dengan edukasi gizi dan perbaikan konsumsi pangan di keluarga siswi. Berarti pengetahuan gizi para guru perlu ditingkatkan sejalan dengan perbaikan ekonomi keluarga siswa agar pencegahan anemi tidak selalu tergantung pada TTD yang tidak semua siswi  patuh mengonsumsinya.” Ujar Linus Lusy MPd, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT

Mengawali webinar juga hadir memberikan sambutan Dr Entos Zainal SP – Ketua PERSAGI, Prof Dr drh M Rizal M Damanik Torbangun Erde MRepSc – Deputi BKKBN, dan Prof Aman Wirakartakusumah MSc – Ketua AIPG AIPI.

Dalam pengarahannya Prof Rizal Damanik mengapresiasi kegiatan PERGIZI PANGAN Indonesia dengan stakeholder terkait termasuk dengan BKKBN. Saatnya semua komponen bangsa baik organisasi profesi, kepakaran dan lembaga pendidikan saling bekerjasama mensukseskan program percepatan penurunan stunting, yang bila tidak direspon cepat akan memperburuk kualitas anak dan generasi  mendatang.

Sementara Prof Aman mengajak semua pihak menerapkan pendekatan system pangan dari hulu ke hilir dalam percepatan pencegahan anemia dan stunting.  Indonesia kaya akan sumberdaya pangan, baik di laut maupun di darat, yang agar bisa dimanfaatkan dengan optimal perlu penerapan inovasi yang tepat dan kepemimpinan yang kuat.

Talkshow dengan tema “Peran Perguruan Tinggi dalam Inovasi, Advokasi dan Pendampingan untuk Percepatan Penurunan Stunting”, menghadirkan narasumber dr Hasto Wardoyo, SpOG (K) – Kepala BKKBN RI dan Ketua Percepatan Penurunan Stunting, Prof Dr Nizam MSc – Direktur  Jenderal Pendidikan Tinggi, Kemendikbud, Prof Dr Arif Satria MSi, Rektor IPB University dan Ketua Forum Rektor Indonesia,  drg Kartini Rustandi MKes – Plt Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat, Kemenkes,  Dr Gita Nirmala Sari MKeb – Dosen Poltekkes Jakarta III dan Ketua Asosiasi Pendidikan Kebidanan Indonesia (AIPKIND), serta  Prof Dr Hardinsyah MS – Guru besar Ilmu Gizi IPB,

“Kami Menyambut baik kegiatan PERGIZI PANGAN Indonesia yang menghasilkan banyak  pemikiran strategis  bagi kami yang diberi amanah Bapak Presiden sebagai Ketua Pelaksana Penurunan Stunting.  Begitu juga kesediaan Ketua Forum Rektor Indonesia, Pimpinan AIPKIND dan Pimpinan AIPGI yang memiliki banyak dosen dan mahasiswa di seluruh daerah di Indonesia dalam turut memberikan  inovasi, advokasi dan pendampingan program percepatan stunting.” Ujar Dr Hasto Wardoyo, Ketua Umum AIPGI dan Ketua Umum PERGIZI PANGAN Indonesia

Menurut Prof Dr Fasli Jalal SpGK, Rektor Universitas YARSI Jakarta dan Anggota AIPG-AIPIyang memandu Talkshow, “Program percepatan penurunan stunting harus fokus pada calon pengantin dan ibu hamil”.

Selanjutnya, Pimpinan AIPGI dan AIPKIND mengungkapkan, “Siap  bekerjasama dengan BKKBN melibatkan 1.400 program studi gizi dan program studi kebidanan yang memiliki sekitar 10.000 dosen dan lebih dari 150.000 mahasiswa gizi dan kebidanan, serta mengajak raturan ribu dosen dan mahasiswa dari program studi terkait lainnya dibawah koordinasi Forum Rektor Indonesia untuk mensukseskan program penurunan stunting yang dikomandani Dr Hasto Wardoyo sesuai keunggulan perguruan tinggi yaitu kemampuan pengembangan inovasi, advokasi dan pendampingan setiap pasangan Calon Pengantin dan ibu hamil agar bayi lahir bebas stunting di daerah kampusnya masing-masing se Indonesia, bila perlu satu dosen mendampingi satu kecamatan atau desa prioritas stunting, dan satu mahasiswa dilatih mendampingi satu pasangan pengantin baru dan pasangan ibu hamil sejak awal konsepsi sampai bayi lulus ASI ekslusif.”

Lebih lanjut, Ketua Umum AIPGI Prof Hardinsyah menjelaskan bahwa, “Untuk memulai hal ini, perlu disepakati langkah-langkah kerjasama yang konkrit mulai dari akurasi pendataan dan pemetaan yang riel time secara digital tentang pasangan pengantin baru dan ibu hamil dari awal konsepsi, serta pemantauan secara digital; pelatihan dan penyiapan dosen sebagai advokator, promotor, dan edukator serta mahasiswa sebagai pendamping di lini keluarga atau pasangan penganting dan ibu hamil;  serta sistim intervensi  dan mekanisme kerja dengan menerapkan inovasi yang sesuai dan pendampingan kepada keluarga sasaran, termasuk oleh dosen dan mahasiswa.”

Pada acara ini juga diluncurkan aplikasi atau program perangkat lunak CEK STATUS GIZI Online.  Sesuai namanya, aplikasi ini dimaksudkan untuk memudahkan setiap orang untuk mengecek dan memantau status gizi secara online tanpa bayar (gratis).  Perangkat CEK STATUS GIZI Online ini diinisiasi dan dikembangkan oleh Prof Dr Hardinsyah MS sebagai Guru Besar Ilmu Gizi FEMA IPB University bersama Tim IT Linisehat.  Saat ini program berbasis web dan dalam waktu dekat segera tersedia sebagai aplikasi di playstore. “Karena perangkat ini dikembangkan Bersama Linisehat maka perangkat ini tersedia dan dapat mudah diakses di cekstatusgizi.linisehat.com.  “Dengan menjawab beberapa pertanyaan di layar computer atau telepon selular secara akurat, maka dalam hitungan detik anda dapat mengetahuai dan melihat hasil dari cek status gizi anda –  apakah termasuk normal, gizi kurang atau gemuk, serta rekomendasi yang dianjurkan tentang  berat badan normal dan  ideal, termasuk bagi remaja, pasangan pengantin dan ibu hamil. Berapa tambahan berat badan normal bagi ibu hamil setiap bulan dapat diketahui dengan cepat dan apakah sudah dicapai seorang ibu hamil atau belum untuk mencegah bayi lahir stunting. Ini  sangat relevan dengan program percepatan penurunan stunting yang berfokus pada pasangan pengantin dan ibu hamil”, ujar Prof Hardinsyah.

Hardinsyah menambahkan, selain memberikan layanan cek status gizi, CEK STATUS GIZI Online juga memberikan edukasi dan konsultasi gizi oleh nutrisionis dan dietisien.  “Saya mengajak nutritionis dan dietisien Indonesia untuk menggunakan ini dan menjadi relawan edukasi dan konseling gizi.

Rektor IPB yang juga Ketua FRI ini, menyatakan, “Peran perguruan tinggi diharapkan mengembangkan sistim Pendidikan yang memungkinkan mahasiswa dan dosen dapat berkiprah secara terstruktur dan berkelanjutan mengembangkan dan menerapkan inovasi, melakukan advokasi dan pendampingan kepada pemerintah daerah, desa dan keluarga sasaran.” papar Hardinsyah

Dari segi edukasi gizi dan suplai pangan, perlu upaya peningkatan konsumsi pangan sumber protein seperti telur, ikan, daging, susu, tahu dan tempe, serta peningkatan konsumsi buah yang penting bagi remaja, pasangan pengantin baru dan ibu hamil untuk mencegah stunting sejak dini.

PERGIZI PANGAN Indonesia terus bekerjasama dengan pemerintah, perguruan tinggi dan media serta berbagai pihak-pihak terkait dalam turut berkontribusi melalui kepakaran pengurus dan anggota PERGIZI PANGAN Indonesia memperbaiki pangan dan gizi bangsa  agar terwujud  generasi dan keluarga sehat dan kuat serta berdaya saing di era globalisasi digital” tutup Prof Dr. Hardinsyah (Buyil)

Leave A Reply

Your email address will not be published.