Trenz Indonesia
News & Entertainment

Rakor Organisasi Pewayangan Indonesia: Upaya Mempertahankan Eksistensi

282

Jakarta, Trenz Edutainment | Dalam rangka mempertahankan eksistensi budaya bangsa, khususnya wayang yang menjadi konsen Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (SENA WANGI),maka digelarlah “Rapat Koordinasi tahunan organisasi pewayangan Indonesia” guna menyoroti langkah dan upaya mereka dalam mempertahankan eksistensi budaya bangsa ini tetap bertahan ditengah perubahan masyarakat modern yang sudah terdigitalisasi

Dalam rapat koordinasi tersebut, menghadirkan organisasi-organisasi pewayangan, sanggar/komunitas wayang, lembaga pendidikan seni yang terkait dengan pewayangan, museum maupun dinas pemerintah yang peduli pada pelestarian wayang Indonesia.

Ketua Umum SENA WANGI Drs Suparmin Sunjoyo mengatakan, di era milenial saat ini, salah satu tantangan terbesar mereka adalah bagaimana cara menanamkan kecintaan seni pertunjukan wayang kepada generasi milenial.” Saat ini, jarang anak muda yang betah menyaksikan pertunjukan wayang berjam-jam seperti jaman muda saya. Apalagi jika pertunjukan itu berlangsung hingga pagi hari,” ujar Suparmin kepada media usai pembukaan Rakor yang mengambil tempat di Gedung Kautamaan, TMII, Jakarta Timur, Selasa (10/3/2020).

Suparmin menambahkan “Karena itu kita harus punya strategi bagaimana agar generasi muda kita menyukai pertunjukan wayang. Kemasannya mau tak mau harus disesuaikan dengan era kekinian,” katanya

Karenanya, pertemuan tersebut dimaksudkan sebagai ajang kumpul dan mencari strategi dan cara agar seni ini tak kehilangan peminat, khususnya dari anak muda.

Meski perlu mengkolaborasi dengan unsur modern, seperti digitalisasi wayang, namun bukan berarti wayang klasik dengan pakemnya harus dihilangkan. Karena semua ada pasarnya, masing-masing punya sekmen.

“Untuk bisa diterima generasi muda memang kita perlu terobosan, seperti digitalisasi wayang dengan cerita yang lebih simpel dan kekinian. Unsur-unsur modern bisa dimasukkan di pertunjukan wayang. Meski ada usaha menggabungkan unsur modern, tapi kita juga tetap harus menghadirkan wayang dengan kemurniannya dan tetap mempertahankan pakem-pakemnya. Karena ini juga ada peminatnya. Jadi kita jalani saja semuanya. Masing-masing tetap jalan dengan sekmen yang dimilikinya” kata Suparmin.

Sementara Humas SENA WANGI, Eny Sulistyowati mengatakan Rakor organisasi pewayangan tahun 2020 itu mengambil tema ”Bergerak Bersama Memajukan Wayang Indonesia”. Di sini dibutuhkan kerjasama kuat antar stakeholder pewayangan.

“Kita juga butuh suport pemerintah untuk mempromosikan ke manca negara. Seperti nanti di bulan Juni kita akan ke tiga kota Eropa, Bled (Slovenia), Vienna Velden (Austria) dan Trieste (Italy). Untuk yang di Italy kita masih butuh konfirmasi lagi,” jelas Eny.

Rakor Organisasi Pewayangan itu sendiri dihadiri perwakilan dari SENA WANGI (Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia), PEPADI (Persatuan Pedalangan Indonesia), APA (ASEAN Puppetry Association) Indonesia, UNIMA (Union Internationale de la Marionnette) Indonesia dan PEWANGI (Persatuan Wayang Orang Indonesia).

Selain itu juga hadir perwakilan dari sanggar-sanggar terkemuka dari seluruh Indonesia, antara lain; Sanggar Budaya Rumah Cinta Wayang, yang dipimpin Dwi Woro Retno Mastuti.

Sementara narasumber dan tokoh yang hadir antara lain Kuat Prihatin, S.Sos.,M.M (Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan  Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan  RI); Drs. H. Solichin (Ketua Dewan Kebijakan SENA WANGI); Drs. Suparmin Sunjoyo (Ketua Umum SENA WANGI; Sumari, S.Sn (Sekretaris Umum SENA WANGI); Eny Sulistyowati S.Pd , MM (Kepala Bidang Humas SENA WANGI); Kondang Sutrisno (Ketua Umum PEPADI); Hari Suwasono (APA Indonesia); Dubes Samodra Sriwidjaja (Ketua Umum UNIMA Indonesia); Prof. Teguh Supriyanto (Guru Besar Sastra Universitas Negeri Semarang); Dr. Sri Teddy Rusdy, SH M.Hum (Akademisi); Mohamad Sobary (Budayawan) serta Romo F.X. Mudji Sutrisno (Budayawan dan Akademisi). (Buyil)

Leave A Reply

Your email address will not be published.