Trenz Indonesia
News & Entertainment

Sutardji Calzoum Bachri Elit Politik Kini Kekurangan Etika

Berbeda dengan Penjajah Belanda yang Terapkan Politik Etis

57

Jakarta, Trenzindonesia | Penyair terkenal Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri, yang kerap dijuluki Presiden Penyair Indonesia, mengkritik elit politik saat ini, menyebut mereka kekurangan etika.

Pernyataan ini disampaikan dalam acara “Mengenang Penyair Abdul Hadi WM” di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Sabtu petang (03/02-2024).

Sutardji Calzoum Bachri Elit Politik Kini Kekurangan Etika
Sutardji Calzoum Bachri

Sutardji memulai diskusinya dengan mengenang almarhum Abdul Hadi WM, sahabatnya yang meninggal pada 19 Januari 2024. Ia menggambarkan Abdul Hadi sebagai sosok yang sangat halus, sopan, mengedepankan adab, dan estetika.

Dalam konteks politik, Sutardji membawa perbandingan dengan kebijakan politik etis yang pernah diterapkan oleh penjajah Belanda di Indonesia. “Belanda saja ketika menjajah negeri kita dahulu, sebelum bernama Indonesia, pernah menerapkan politik etis,” katanya.

Menurut Sutardji, politik etis Belanda, meskipun untuk kepentingan mereka sendiri sebagai penjajah, memberikan manfaat bagi Indonesia. Mereka membangun sekolah, memberi kesempatan penduduk pribumi belajar di sekolah umum, dan bahkan ke Belanda.

“Ini membantu melahirkan kaum terdidik dari kalangan pribumi yang kelak berperan dalam Kemerdekaan Indonesia dan pembangunan selanjutnya. Itu Belanda, penjajah, punya etika. Kok, elit politik sekarang malah tidak punya etika,” ungkapnya.

Meski Sutardji tidak menjelaskan lebih lanjut pernyataannya, pesan kritiknya terhadap elit politik modern yang dinilainya kekurangan etika cukup jelas. Ada sekitar seratus peserta dalam acara yang diselenggarakan PDS HB Jassin bersama Forum Wartawan Pecinta Peradaban dan Kebangsaan (Forum W) pimpinan pelukis, jurnalis, dan budayawan Yusuf Susilo Hartono.

Pemikiran Abdul Hadi Masih Relevan

Para narasumber dan seluruh peserta yang ikut bicara menyatakan Abdul Hadi WM adalah nama besar dalam kesusasteraan Indonesia. Kiprahnya sangat luas dan berpengaruh dalam bidang pemikiran sosial, filsafat, kejiwaan, dan tasawuf. Ia digambarkan sebagai orang yang religius.

“Pada saat ini, kita butuh sosok seperti Abdul Hadi yang membawa sesuatu pemikiran yang segar bagi masyarakat. Dia membawa suatu ide, gagasan, kemudian dilemparkannya sehingga siapa pun pada akhirnya menyambutnya,” ujar Anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) Fadjriah Nurdiasih, narasumber acara tersebut.

Narasumber lainnya, akademisi, pengamat sastra, dan Ketua Yayasan Hari Puisi, Dr. Maman S. Mahayana, mengatakan pemikiran Abdul Hadi WM masih sangat relevan saat ini karena hampir semua pihak sekarang abai terhadap perkembangan puisi.

“Almarhum juga menawarkan agar kita kembali ke akar budaya dan kembali ke sumber asli lahirnya kebudayaan dan sastra,” tutur Maman.

Sutardji Calzoum Bachri Elit Politik Kini Kekurangan EtikaAcara yang mendapat sambutan positif berbagai kalangan itu, dimulai dengan tayangan testimoni Gayatri WM, putri almarhum yang tak dapat hadir karena berada di tempat lain. Dilanjutkan pembacaan puisi karya almarhum oleh Linda Djalil, Jose Rizal Manua, Remmy Novaris MD, Nuyang Jaimee, dan Ariani “Rini” Isnamurti.

Tampak hadir penyair Taufik Ismail, yang secara spontan membacakan puisinya untuk almarhum, sejarawan Taufik Abdullah, kritikus dan seniman Arie Batubara, penyair Arief Joko Wicaksono, puluhan penyair, sastrawan, budayawan, dan jurnalis terkemuka. Antara lain, Nugroho F. Yudho, Haris Jauhari, Rita Sri Hastuti, Herman Wijaya, Supriyanto Martosuwito, dan fotografer Dudut Suhendra Putra.

Seluruh rangkaian acara dipandu Rita Sri Hastuti dengan moderator Yusuf Susilo Hartono. (PR/Fjr) | Foto: DSP

Leave A Reply

Your email address will not be published.