Trenz Indonesia
News & Entertainment

Film Hantu Di Rumah Kos Akan Tayang di Sejumlah Bioskop di Asean dan Afrika.

245

Bogor, Trenz Film | Film bergenre horor khas Indonesia, bukan hanya diminati penonton film di Indonesia, tetapi juga di manca negara. “Film genre horor kita menurut saya diminati oleh penonton film di manca negara. Kami sudah jajaki beberapa negara di kawasan Asean, Asia, bahkan Afrika,” ujar Adi Yasa, produser pelaksana film horor Hantu di Rumah Kos, saat konferensi pers, di Café Fores Three, Tegal Gundil  Bogor Utara, Kamis (19/12/2019).

Film ‘Hantu di Rumah Kos‘ yang disutradarai Riska Thalita ini, ceritanya merupakan karya adaptasi dari novel karya Dini W Tamam dan Erby. S Diproduksi oleh PT. DeRia Citra Cinema, milik Hendra, bekerjasama dengan Rumah Produksi, Sinemata Production, milik Asikin Kartin .

“Karakteristik budaya sebagian masyarakat Indonesia yang juga percaya pada hal-hal gaib. Baik dari perwujudan benda-benda keramat maupun sosok tertentu. Inilah yang coba kami kemas menjadi karya film yang tidak hanya tontonan; menghibur, tapi juga dapat menjadi tatanan yang menginspirasi. Dikerjakan oleh sineas-sineas muda berpotensi,” ujar Direktur Utama Sinemata Production, Asikin Kartin, menimpali.

Film ‘Hantu di Rumah Kos‘, melibatkan para artis, antara lain, Novita Sari Anggraeni, Davina Karamoy, Rendy Ramadhani, Dita Pricilla dan pemain senior Yatti Surachman, Piet Pagau dan Lucky Hakim.

Lokasi shooting sebagian besar dilakukan di Bogor, dengan pengambilan gambar dimulai, Sabtu (21/12/2019). Keunikan film ini tidak hanya dibintangi para artis film, melainkan melibatkan pejabat setempat. Adalah Wakil Ketua DPRD Kota Bogor, Jenal Mutaqin dan Ketua Komisi I DPRD Kota Bogor, Safrudin Bima yang bakal tampil beradu akting bersama para aktor dan aktris film nasional.

Safrudin Bima membeberkan alasan dirinya bersama Jenal Mutaqin mau ambil bagian dalam film horor itu. Menurutnya, film ini akan memamerkan beberapa ikon Kota Bogor, seperti Lawang Suryakencana, Tugu Kujang, hingga Lawang Salapan.

Safrudin Bima mengaku mendapat peran sebagai dosen tidak menyulitkan. Sebab, sebelum duduk sebagai wakil rakyat, ia merupakan dosen di beberapa universitas swasta di Bogor. “Basic saya memang dosen, jadi enggak terlalu sulit. Peran saya jadi Dadang, dosen killer yang kutu buku. Mudah-mudahan kami tidak menggangu produksi film ini,” terangnya dalam jumpa pers.

Meski demikian, Politisi PAN itu mengaku masih mendalami karakter Dadang, sembari menghafalkan dialog. “Mudah-mudahan nggak ada kendala saat syuting pada 21 Desember,” harapnya.

Sementara Wakil Ketua DPRD Kota Bogor, Jenal Mutaqin, mengatakam, sebagai pendatang baru, perannya tak banyak dialog. Ada sedikit dialog dengan mahasiswa saat jam kuliah akan dimulai.

Politisi Gerindra ini menyarankan agar setiap production house yang akan menjadikan Kota Bogor sebagai lokasi syuting, hendaknya selalu berkoordinasi dengan pemerintah. Tujuannya, agar bantuan yang diberikan dapat maksimal.  “Demi kelancaran proses pembuatan film,” tukasnya.

Kisah film ini mengenai seorang gadis bernama Renata, asal Sumatera yang melanjutkan studi di salah satu universitas di Bogor. Keduanya menemui banyak kejadian aneh selama tinggal di rumah kos-nya.

Menurut Adi Yasa film ini berbeda dengan film horor pada umumnya. Sebab banyak kejadian mengejutkan. Ada hantu wanita yang berniat mencelakai Renata, karena cemburu sering melihat Renata berdekatan dengan Ganjar yang nyatanya juga sesosok hantu. Renata tidak menduga, kalau lelaki yang dia cintai ini adalah hantu dan sudah memiliki kekasih yang juga hantu.

“Akhirnya Renata kabur bersama Vivian dari kos berhantu itu. Sebab ternyata, selama ini, orang orang yang di kos sana sudah meninggal semua,” terang Adi Yasa.

Ada pun pelaksanaan syuting dilakukan di Wisma Rengganis, yang dijadikan sebagai rumah kos. Pihaknya juga meminta dukungan dari Pemerintah Bogor karena ada beberapa adegan lanskap yang diambil menggunakan drone. Taman Kencana, seputaran Sistem Satu Arah (SSA) dan Lawang Salapan. (KD)

Leave A Reply

Your email address will not be published.