Trenz Indonesia
News & Entertainment

Film Jejak Cinta

Angkat Isu Kanker Serviks dan Kearifan Lokal Singkawang

1,192

Trenz Film | Banyak cara mengampanyekan bahanya penyakit Kanker serviks atau kanker rahim. Apalagi sejak meninggalnya Julia Perez yang juga diakibatkan oleh penyakit kanker yang paling banyak terjadi pada wanita di seluruh dunia. Kanker serviks muncul di leher rahim wanita. Salah satu penyebab untama penyakit kanker serviks adalah infeksi virus yang bernama Human Papilloma Virus (HPV). Kanker jenis ini bisa menyerang wanita manapun. Tidak hanya wanita usia tua, melainkan juga wanita berusia muda. Sejak tahun 1999 hingga tahun 2008 kanker serviks semakin banyak menyerang wanita di usia muda. Laporan yang didapat dari salah satu jurnal di situs National Center for Biotechnology Information, menyatakan bahwa ada 21 persen wanita berusia 20-29 tahun yang terkena kanker serviks, bahkan terhitung ada satu persen wanita berusia di bawah 20 tahun yang terkena kanker mematikan ini.

Di Indonesia, kasus kanker serviks juga banyak terjadi. Salah satunya menyerang artis terkemuka, Julia Perez. Ia wafat akibat penyakit kanker serviks stadium 4 pada tanggal 10 Juni  2017. Pesan tentang pentingnya wanita menjaga dirinya agar terhindar dari penyakit kanker serviks maupun penanganannya jika terkena kanker serviks menjadi fokus yang diusung oleh film “Jejak Cinta”.

Film produksi Trazz Production dan Scene Film ini rencananya akan tayang secara nasional di layar bioskop mulai 6 September 2018. “Film ‘Jejak Cinta’ membawa pesan bagi para wanita yang terkena kanker serviks untuk menyikapi penyakit tersebut secara positif. Pada saat bersamaan, film ini juga mengusung pesan kepada para wanita untuk mencegah dan menghindari penyakit kanker serviks tersebut,” kata sutradara film “Jejak Cinta“, Tarmizi Abka kepada awak media di Jakarta, baru-baru ini.

Tarmizi menyatakan film “Jejak Cinta” yang dibintangi oleh Baim Wong, Prisia Nasution, Mathias Muchus, Della Perez, dan Zora Vidayatia ini menceritakan tentang Maryana seorang Desainer Batik yang sengaja pulang ke tanah kelahirannya (Singkawang) untuk membuat desain batik terbarunya yang akan diikutkan dalam ajang Festival Batik di Berlin. Maryana yang dibintangi oleh Prisia Nasution ini setiap hari sangat khawatir dirinya terkena kanker serviks. Hal itu karena almarhumah ibunya meninggal karena kanker serviks stadium 4. “Tokoh yang bernama Maryana Itu memeriksakan dirinya ke rumah sakit. Namun dia tidak berani membuka amplop hasil pemeriksaan dokter tersebut, karena khawatir hasilnya adalah dia positif terkena kanker serviks,” ujar Tarmizi Abka.

Di sisi lain, ia dan suaminya yang bernama Hasan, yang diperankan oleh Baim Wong, ingin sekali mempunyai anak. “Namun bagaimana mereka bisa punya anak, kalau seandainya ternyata sang istri terdeteksi kena kanker serviks?” tuturnya.

Cerita bertambah rumit, ketika suatu hari, Hasan mendapat telepon dari Sarah, diperankan oleh Della Perez. Selama ini, Hasan dekat dengan ayahnya Della yang bernama Hendrawan (diperankan oleh Mathias Muchus). “Keluarga orang tua Della tengah mengalami musibah. Ayahnya Della dipenjara karena terlibat sebuah kasus. Ia meminta Hasan menolong Della. Hasan bersedia menolong tapi ia bingung, karena ia sudah beristri, sedangkan ia punya hutang budi kepada ayahnya Della,” paparnya.

Bagaimanakah akhir film ini? Apa keputusan yang akhirnya diambil oleh Hasan? “Pesan tentang penyakit kanker serviks menjadi sangat menarik dalam film ini, karena dikemas dalam problematika keluarga,” kata Tarmizi Abka, sutradara yang telah menelurkan film “Kalam-Kalam Langit” itu.

Bertindak sebagai Executive Producer di Film “Jejak Cinta” adalah Hasan Karman, sedang Jimmy E Awly D sebagai Producer, dan Dhonie Ramadhan sebagai Associate producer.

Selaku Produser Eksekutif, Hasan Karman menyebutkan, selain tentang kanker serviks, film “Jejak Cinta” juga membawa pesan kebangsaan dari ranah Singkawang yang dijuluki “Negeri 1.000 Kelenteng”. Hasan mengatakan film ini juga mengangkat realita kehidupan di Singkawang, mengenai masyarakat, budaya, dan objek wisata yang ada di Kota Singkawang.

“Singkawang di Kalimantan Barat ini masyarakatnya merupakan perpaduan etnis yang kekayaan budayanya menjadi daya tarik tersendiri. Selain mengangkat sisi romantika, Film Jejak Cinta mengangkat Batik khas Singkawang yaitu Batik Tidayu yakni Tionghoa, Dayak dan Melayu,” ucapnya. Melalui film ini, kami ingin mengusung pesan kebangsaan, yakni persatuan bangsa kita yang multietnis. Semoga dengan menonton film ini, masyarakat Indonesia makin kuat persatuannya dan saling menghargai satu sama lain,” paparnya.

Hasan menambahkan, film ini sekaligus menggambarkan persatuan Tidayu yang sangat baik di Singkawang. Diharapkan, film ini bisa menginspirasi masyarakat Indonesia di wilayah mana pun berada untuk menjaga persatuan dan kesatuan. Di samping itu, di film ini juga mengangkat budaya Cap Go Meh, untuk mendorong  pawisata Kalimantan Barat. Film ‘Jejak Cinta’ mengambil lokasi syuting seluruhnya di Singkawang. (Boeyi / Trenz Indonesial)

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.