HomeHiburanMusicIMF Jogja Helat Mainstage

IMF Jogja Helat Mainstage

Published on

Trenz Music | Istilah Mainstage biasa nya merujuk pada suatu peristiwa pertunjukan yang memiliki banyak panggung. Sering terjadi dalam event yang berjenis festival musik.Entah kenapa Indonesia Music Forum area Yogyakarta atau disingkat IMF, suatu wadah para pelaku, praktisi dan penggiat musik Jogja, memberi nama tajuk acaranya “Mainstage”?

Ini sudah kali kedua acara tersebut diselenggarakan,dan dalam acara Musik Malam edisi ke tiga, Selasa 13 Maret 2018 lalu, mereka hadir kembali dengan gelaran event yang sama dengan konten dan line up yang berbeda. Pada malam itu Main Stage #2 di kemas dengan lebih apik. Keterlibatan dan dukungan jejaring komunitas mereka semakin antusias. Acara dipandu oleh Kiky Pea bersama rekan nya Rangga, yang juga pengasuh Kamti radio.Didaulat sebagai MC Kiki Pea mengajak para penonton yang mayoritas para pecinta musik muda pengabdi medsos itu untuk masuk kedalam wacana trend dan dinamika kreatifitas musik Jogja terkini.

Menampilkan lima line up band berkarya atau band indie dengan berbagai aliran atau jenis musik. Para penonton yang hadir mendapat suguhan musik karya musisi lokal yang lumayan berkelas. Pengelolaan sound yang ditangani dengan cukup serius oleh bung Harsha (salah seorang aktifis IMF) menjadi point  penting untuk menyajikan musik dengan genre yang bervariasi ini.

Fade Folk

Grup Fade (Fade Folk) sebagai line up pertama menampilkan format full band jenis folk dengan dua gitar akustik. Mereka membawakan lagu lagu ballad yang tampak dewasa dan artikulatif. Musik nya dikemas dengan sangat hati-hati dan efisien.

Sepertinya mereka tidak ingin musiknya terlalu mengganggu alur syair yang akan disampaikan oleh Deni selaku frontline grup Fade. Cukup berhasil menarik perhatian penonton, karena setiap lagu dimulai dengan membangun interaksi semacam preview untuk menggiring masuk kedalam emosi lagu yang akan disajikan.

BTW

Setelah grup Fade usai menyampaikan empat lagu, grup BTW (By The Way) tampil dengan format band bercorak pop ke inggris-Inggris an, atau istilah yang ngetrend adalah Britpop. Mereka langsung menggebrak dengan lagu pertama nya. Agak  mengejutkan penampilan mereka untuk aliran musik jenis pop, ternyata bisa disajikan di panggung dengan utuh dan agak jelas arah estetika nya. Porsi dari setiap instrumen musiknya pas dan walau secara progres musikal termasuk sederhana tapi dinamika yang dimainkan berhasil tersampaikan secara emosi kepada penonton. Saya pribadi merasakan ada citarasa Radiohead, U2 atau kelompok sealirannya muncul disana. By the way grup BTW ini layak untuk di apresiasi dan disupport sebagai salah satu karya lokal Jogja berjenis musik Pop yang bertanggung jawab. (itu istilah baru yang saya sampaikan langsung ke Andika pentolan grup BTW usai dia pentas kemarin), hehe bebas aja pokmen.

Disela penampilan selanjutnya Kiky Pea sempat menyinggung  hasil konferensi musik di Ambon yang diselenggarakan tanggal 6 – 9 Maret 2018 lalu. Kebetulan Kiky Pea hadir sebagai wakil dari IMF Jogja. Diuraikan disana bagaimana seorang Menteri KeuanganSri Mulyani” merasa perlu untuk menyampaikan tentang upaya peran aktif pemerintah dari sektor keuangan untuk mendukung infrastruktur musik dan pemajuan kebudayaan. Oke deh bu! Kita sikapi positip ajalah., minimal kita sadar bahwa dunia musik dengan segala elemen nya adalah salah satu potensi besar di sektor sosial budaya dan industri ekonomi kreatif negara kita yang wajib didukung.

Ben Harlem

Grup Ben Harlem tampil dengan format combo band standar, dua gitar, vocal, drum dan bas.  Grup ini lebih cenderung membawakan musik jenis Pop-Rock  Alternatif, karena didalamnya cukup banyak unsur yang dimasukan. Ada sedikit punk, kadang agak glam rock sesekali beat ska nya muncul. Mereka sudah merilis album yang berjudul “Medan Perang”. Performa mereka di panggung dalam membawakan nomor-nomor di album nya cukup ekspresif dan terlihat mampu menggiring emosi para penggemarnya yang lumayan banyak hadir disana.  Ben Harlem ingin membuktikan ke pengunjung Taman Budaya bahwa mereka adalah band yang eksis dan sahih (karena sudah memiliki album) sebagai musisi kreatif dari Jogja yang melangkah menuju jenjang profesional. Malam itu pengunjung Taman Budaya bisa dibilang ramai, mungkin hampir lima ratusan orang hadir disana.  Walau tidak melimpah seperti edisi kedua lalu dengan komunitas Reggae nya. Tapi untuk acara yang menampilkan konten lagu-lagu karya sendiri, bisa dibilang keren dan angkat topi buat Jogja yang masyarakatnya mau mengapresiasi karya sendiri.

Karna Merdeka

Ketika line up ke empat memunculkan grup “Karna Mereka” barulah kita sadar, ternyata penonton yang banyak itu sebagian besar adalah fans dan masa nya mereka. Berduyun duyun menghampiri panggung. Dan ketika musik mulai bunyi, maka dimulailah ritual moshing dan slam dance mereka dengan sesekali headbang menyembah rigging. “Karna Mereka” jelas penganut golongan musik Punk. Terlihat dari gaya perform mereka dan penuturan lirik lagu nya yang lugas dengan kosa kata yang sederhana dan sarat dengan idiom kaum muda jalanan. Yang luar biasa adalah para penggemarnya ada yang rela datang jauh dari kota lain untuk menonton grup idola nya. Sekilas mereka seperti mengikuti jejak grup senior nya “Endang Soekamti”, tapi apapun itu tetap salut buat “Karna Mereka” yang telah menjadi bagian dari khasanah musik di Jogja dan memberi warna pada wacana musik tanah air kita.

Sebagai line up kelima dan sekaligus grup penutup, Mainstage #2 menghadirkan JB Blues. Ini kelompok band muda penyuka blues yang cukup fenomenal. Beberapa minggu yang lalu mereka baru merilis album nya dengan sambutan animo yang luar biasa dari para insan musik Jogja.

JB Blues menyuguhkan musik blues yang cukup elegan, dengan formasi yang melibatkan brass section. Kita dipaksa untuk “recollecting memory” (meminjam istilah nya Prof. Rocky Gerung, biar keliatan keren aja, hehe) untuk menikmati musik era Chicago Blues pernah muncul dahulu. Yang membuat JB Blues ini menarik adalah selalu ada porsi dialog musikal diantara mereka yang cukup intens. Kelihatan itu memang sudah terkonsep secara rapi dan sekaligus ingin menunjukan bahwa kualifikasi musisi mereka sudah terukur dan siap mengambil peran di peta musik nasional jaman now. Sedikit catatan, ada lagu mereka yang bicara tentang kemacetan Jogja (ini memang isue publik yang hangat dan sedikit meresahkan masyarakat kota Jogja). Tapi cara membawakannya tidak terseret  dalam ungkapan emosi semacam jengkel, protes atau sinis. Tetap saja mereka asik nge blues  dengan ekspresi yang senang dan bergembira sesuai dengan gaya musik yang dimainkan, Seolah mereka mengambil jarak dengan peristiwa tersebut. Mungkin memang begitulah fitrah seorang musisi, bicarakanlah persoalan sosial hari ini tapi kita jangan larut didalamnya.

Demikianlah secuil kisah panggung musik disudut kehidupan seni budaya Yogyakarta, yang kenyataannya masih dibutuhkan dan diminati para insan musik dikota Gudeg ini. Musik Malam dengan Mainstage nya hanyalah salah satu cara merawat kebersamaan apresiatif dari musisi untuk musisi dikota kita tercinta. Mainstage atau Panggung Utama yang nyaris hilang di peta kegiatan musik Jogja memang harus di utamakan, guna membangun interaksi yang real diantara sesama insan musik di dalam arena eksistensi yang fair dan positif atas nama kreatifitas.

Tabik, salam Rock’n Real (Heri Machan/TrenzIndonesia) | Foto: Dok. IMF Jogja

Latest articles

Andrigo Kembali Bangkitkan Luka Lewat “Pacar Selingan 2”, Gandeng Label Besar Malaysia Luncai Emas

Nama Andrigo seolah tidak bisa dipisahkan dari lagu fenomenal “Pacar Selingan”. Lagu yang pernah...

Indra Adhari Musisi Independen Rilis Cinta Sejati, Single Ke-5 di Konsep One Month One Song

Indra Adhari penyanyi sekaligus pencipta lagu kembali menegaskan komitmennya di industri musik tanah air...

Kisah Yanti, Nasabah PNM Mekaar yang Sukses Bangun Usaha Kriya dari Nol: Modal Kepercayaan Jadi Kunci Perubahan Hidup

Jakarta, Trenzindonesia.com | Dipercaya, Bukan Dikasihani: Cerita Perempuan Ultra Mikro yang Berani Bermimpi Lebih...

Migi Rihasalay Tampil Elegan Bersama Putri Cantiknya di Anniversary Color Models Inc, Kehadiran Putri Indonesia Jadi Sorotan

Jakarta, Trenzindonesia.com | Gemerlap dunia mode dan selebriti menyatu dalam perayaan 36th Anniversary Color...

More like this

Andrigo Kembali Bangkitkan Luka Lewat “Pacar Selingan 2”, Gandeng Label Besar Malaysia Luncai Emas

Nama Andrigo seolah tidak bisa dipisahkan dari lagu fenomenal “Pacar Selingan”. Lagu yang pernah...

Indra Adhari Musisi Independen Rilis Cinta Sejati, Single Ke-5 di Konsep One Month One Song

Indra Adhari penyanyi sekaligus pencipta lagu kembali menegaskan komitmennya di industri musik tanah air...

Pikachu Goyang Dangdut Bareng Happy Asmara, “Kopi Dangdut” Siap Gegerkan Jakarta

JAKARTA — Penyanyi dangdut-pop Jawa Happy Asmara dipastikan menjadi sorotan utama dalam peluncuran album...