Trenz Indonesia
News & Entertainment

Gema Santri Darussalamah Dari Pesantren Salafiah Yang Berjiwa Nasional

Pondok Pesantren Islamiyah Salafiah Darussalamah Lampung

123

Jakarta, Trenz News  | Menjadi sarana dakwah lewat jalur pendidikan dan kesenian, Gema Santri Darussalamah (GSD) dari Pondok Pesantren Islamiyah Salafiyah Darussalamah (PPISD), memiliki cara yang unik dan menghibur.

Sebagai grup musik beraliran religi Islam, GSD yang didirikan oleh KH Imam Sibawaih SHi, Msy alias Gus Baweh, bersama santri putra putri PPISD, memang memiliki ciri khas tersendiri, yaitu bernuansa pesantren. Syair nya adalah tentang dawah dan ilmu, sejarah serta sholawat.

Selain itu, disamping aransement musik dan vokalisnya terdiri dari santri putra putri Pondok Pesantren Islamiyah Salafiyah Darussalamah itu sendiri, lagu lagu yang yang dibawakannya, ada dalam versi sholawat, campur sari, DJ dan lain lain.

“Di tambah paduan Aransemen musik yang apik, ringan dan mudah dicerna, lagu lagu yang dibawakan GSD juga mudah diterima oleh semua kalangan, baik kalangan Santri, pelajar, masyarakat luas, para musisi, milenial dll.”, ujar Saiful SH, salah satu murid dan pelopor berdirinya GSD di tahun 2005 lalu, yang juga menjabat selaku Direktur PT BNN, Selasa (15/12/2020), di Jakarta.

KH Imam Sibawaih SHi, Msy alias Gus Baweh, yang menginisisasi berdirinya GSD, merupakan salah satu putra dari KH Ahmad Shodiq, pendiri Pondok Pesantren Islamiyah Salafiyah Darussalamah (PPISD), Desa Braja Dewa, Kecamatan Way Jepara, Kabupaten Lampung Timur, Lampung.

KH Imam Sibawaih SHi, Msy alias Gus Baweh & KH Ahmad Shodiq

Ponpes Islamiyah Salafiyah Darussalamah (PPISD) sendiri didirikan pada tahun 1963 oleh seorang ulama kharismatik, seorang pejuang yang istiqomah yaitu KH Ahmad Shodiq.

Selain sebagai Mursyid Thariqah al-Qadiriyyaah wa al-Naqsabandiyyah, KH Ahmad Shodiq  juga sebagai Mustasyar/Penasehat PBNU.

Hingga kini, Ponpes Salafiah Darussalamah yang didirikan oleh KH Ahmad Shodiq sudah mencetak beberapa ulama dan kyai yang memiliki lembaga pendidikan formal dan atau non formal di berbagai wilayah di Indonesia.

KH Ahmad Shodiq juga memiliki ribuan jamaah thoriqoh dari berbagai propinsi di seluruh Indonesia, bahkan ada yang dari beberapa negara di Asia.

KH Ahmad Shodiq

KH Ahmad Shodiq, sejak muda sudah memiliki jiwa berjuang guna turut  mempertahankan keutuhan Bangsa dan Negara. Pria yang lahir dari pasangan Tarmuji dan Situn pada 18 Juli 1927 di Kampung Jatisari, Kecamatan Kepung Kawedanan Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur ini, sejak remaja telah ikut berjuang dan bergabung menjadi tentara Gerakan Pemuda Islam dalam menumpas penjajahan Belanda.

Pada tahun 1948, keberanian KH Ahmad Shodiq mampu memukul dan membuat tentara Belanda kocar kacir. Salah satunya, pada malam 11 Juli 1948. Saat itu satu-satunya pasukan yang berani memasang ranjau di markas dan lintasan tentara Belanda adalah seorang pemuda bernama Ahmad Shodiq.

Ranjau tersebut dipasang sendiri olehnya, dan tepat 12 Juli 1948 perjuangan Ahmad Shodiq tak sia-sia. Tentara Belanda banyak yang terkena ranjau, dan puluhan tentara Belanda meninggal terkena ranjau tersebut. Dalam sejarah panjang pada tahun 1949, rangkaian peristiwa itu lebih dikenal dengan Agresi Belanda.

KH Ahmad Shodiq

Ulama Kharismatik KH Ahmad Shodiq yang beristrikan Saminah asal Plongkowati, Way Jepara. Pasangan ini dikaruniai 6 orang anak, yakni Dardiri Achmad, Siti Rubai’ah, Imam Mudzakir, Achmad Toha, Imam Sibawaih dan Agus Fathoni.

  1. Ahmad Shodiq sendiri wafat pada hari Jumat, 13 Juli 2018.

KH Ahmad Shodiq merupakan ulama dan sahabat dekat Gus Dur. Keduanya adalah ulama yang memiliki istiqomah dan karomah, serta ilmu yang luas. Semoga fatwa ilmu yang diberikan oleh almarhum KH Ahmad Shodiq menjadi ilmu yang bermanfaat,”, jelas Saiful SH.

“Semoga grup musik GSD terus produktif menghasilkan karya karya Islami yang berkualitas dan beramal di blantika musik religi tanah air”, pungkas Saiful SH. (Fjr)  Foto: Dok. PPSD

Leave A Reply

Your email address will not be published.