Trenz Indonesia
News & Entertainment

Musik Campursari di 3 TV Nasional Ala Didi Kempot, Kehilangan Rasa

405

Jakarta, Trenz Corner | Akhir akhir ini, stasiun televisi seperti terlena untuk berlomba lomba menyiarkan acara yang berkaitan dengan karya alm Didi Kempot.  Sayangnya, meski dimaksudkan sebagai ‘jualan‘ untuk mengenang campursari paska Sang Maestro mangkat, namun hasilnya tak seperti yang diharapkan para pecinta campursari, alias kurang berhasil

Setidaknya, itu yang dicermati oleh Sutrisno Buyil, wartawan senior sekaligus Ketua Forum Wartawan Hiburan (FORWAN) Indonesia.

Sepengamatan pria yang akrab disapa Buyil ini, upya tersebut, nyaris kurang berhasil. Semua atas selera tim kreatif televisi, bukan selera Didi Kempot baik yang tergabung di Sahabat Ambyar, Sadgirls, Sadboys maupun Kempoter. Sehingga acara yang diharapkan bisa gegap-gempita dan bisa menjaring penggemar Didi Kempot yang fanatik poll, jadi hampa bak sayur kurang garam.

Sebagai contoh ketika ajang Ambyar Awards 2020 yang ditayangkan MNCTV beberapa waktu lalu. Homeband seperti tidak menguasai tembang fenomenal ‘Pamer Bojo’. Fatal. Ini terjadi ketika pengumuman pemenang sebagai penyanyi wanita terambyar yang dimenangkan Via Vallen. Secara spontan Via Vallen mengundang para nominator seperti Tasya Rosmala dan Happy Asmara. Tanpa diduga Danang sebagai salah satu host meminta para diva campursari untuk menyanyikan salah satu karya sang maestro. Begitu secara kompak para penyanyi asal Jawa Timur itu sepakat menyanyikan tembang Pamer Bojo. Namun home band yang biasanya langsung membuka musik dengan nada Pamer Bojo, seperti yang diminta sang biduan, ternyata kali ini home band nya meneng Bae, sampai akhirnya Via Vallen mengingatkan home band dengan meminta nada dasar. Memalukan.

Akhirnya trio diva campursari melantunkan tembang Pamer Bojo, dengan musik seadanya. Alias tidak sesuai standar musik campursari ala Didi Kempot.

“Ini kecelekaan, mestinya panitia menyiapkan homeband yang menguasai tembang karya sang Maestro. Padahal acara televisi, yang biasanya profesional.” Ujar Sutrisno Buyil, seorang Wartawan Hiburan senior.

Hal itu juga diamini Bens Leo, Pengamat musik senior yang juga menggemari musik campursari.

“Saya pikir ini pihak panitia alpa, tidak menyiapkan homeband yang menguasai campursari ala Didi Kempot” kata Bens Leo menyayangkan.

Pun dengan SCTV dan RCTI, kedua televisi terdepan ini juga masih menganggap kalau musik campursari Didi Kempot seperti musik pop, yang digeser dengan gaya sesukanya, bisa diterima.

“Musik campursari Didi Kempot di era milenial yang melambungkan namanya dan kemudian mendapatkan gelar Maestro Campursari, karena musiknya berbeda, meski syairnya menyayat hati seperti awal kariernya tapi musiknya dirubah dengan irama ‘dijogeti’ dengan kendang campuran elektrik dan tradisional yang dimainkan pengendang milenial Dory Harsa. Ini yang membuat anak-anak muda milenial dari seluruh Nusantara dan luar negeri menggemarinya,” kata Sutrisno Buyil.

Jadi wajar saja, kata Buyil menambahkan kalau penggemar Didi Kempot kurang menyambut berbagai acara tribute Didi Kempot.

“Saya gabung di grup Sahabat Ambyar, biasanya kalau di infokan akan ada acara yang berbau sang maestro, mereka dengan senang menyambutnya. Tapi ini adem aja, ini berarti ada yang salah. Salahnya apa, mereka dengan semena-mena mengubah musik campursari ala Pakde dengan musik sesuai selera tim kreatif,” kata Buyil keras.

Karenanya, Buyil mengingatkan kalau acara musik campursari yang dimaksudkan membawa nama besar Didi Kempot , harus dikembalikan ke relnya.

“Para penggemar Pakde, tengah menunggu racikan penyelenggara konser Ambyar Tak Jogeti, kalau musiknya disesuaikan dengan penyanyi yang akan tampil, diyakini bakal sepi. Apalagi suasananya masih PSBB,” ujar Ketua Umum Forum Wartawan Hiburan (FORWAN) Indonesia ini.

Selain musik campursari ala Didi Kempot tetap dikedepankan, juga pemilihan penyanyi yang bakal tampil juga yang dekat dengan almarhum seperti, Arda, Dory Harsa, serta salah satu putrinya yang cukup menonjol, Seika.

“Kalau ketiganya nggak dihadirkan, juga bisa kurang greget.” Tandas Sutrisno Buyil. (Fjr/ThressNo)

Leave A Reply

Your email address will not be published.