Trenz Indonesia
News & Entertainment

Angin Segar..! CIMB Hentikan Pendanaan Batu Bara, Saatnya Maybank dan RHB

163

Jakarta, Trenz News I Organisasi lingkungan menyambut baik pernyataan bank asal Malaysia, CIMB, bahwa mereka berencana untuk hentikan pendanaan untuk tambang batu bara dan pembangkit listrik tenaga batu bara baru di tahun 2021, dan benar-benar lepas dari batu bara di tahun 2040.

Organisasi lingkungan yang mendukung kampanye ini, sebut saja; Asian Peoples Movement on Debt and Development (APMDD), Greenpeace Asia Tenggara, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Jaringan Advokasi Tambang (Jatam), dan Trend Asia.

Kebijakan CIMB terkait sektor batu bara ini merupakan yang pertama di Asia Tenggara dan menjadi acuan untuk diikuti bank lain di wilayah Asia Tenggara.

“Kebijakan baru CIMB merupakan langkah yang tepat, baik dalam tindakan terhadap perubahan iklim maupun perannya dalam industri batu bara yang merugikan,” kata Didit Wicaksono, Jurukampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia.

Selanjutnya, Trenzindonesia.com masih mengutip siaran pers Greenpeace Indonesia, Senin (14/12) lalu, Didit Wicaksono menegaskan, “Kami menanti pernyataan dari bank lain di Asia Tenggara, khususnya Maybank dan RHB, untuk melakukan komitmen yang sama.”

“Namun, kami mendesak CIMB untuk mengambil langkah lebih lanjut untuk putuskan hubungan dengan PLTU Jawa 9 dan 10 yang sangat kontroversial, yang diusulkan di Indonesia.”

PLTU Jawa 9 dan 10, dimana CIMB dan Maybank terlibat dalam pendanaan, kini menjadi subyek gugatan karena gagal mematuhi hukum Indonesia terkait konsultasi publik, penilaian dampak lingkungan dan pengendalian emisi/polusi. Jika berhasil, gugatan ini dapat menggagalkan izin lingkungan.

Pembangkit Listrik Tenaga Batu Bara Suralaya di Cilegon, Banten, Indonesia.

Pengumuman CIMB terkait Panduan Sektor Batu Bara yang diklaim sebagai bagian dari langkah keberlanjutannya, merupakan langkah signifikan ke arah yang benar, tambah Jurukampanye Greenpeace Malaysia, Heng Kiah Chun.

“Bank Malaysia seperti CIMB mempunyai peran penting dan strategis dalam menangani krisis iklim di Asia Tenggara, mengingat investasi mereka yang besar terhadap pendanaan proyek pembangkit listrik di wilayah ini.

“Kami harap dengan adanya pengumuman ini, bank lain di wilayah Asia Tenggara yang masih mendanai proyek tambang batu bara dan PLTU batu bara dapat mengikuti langkah yang serupa dengan CIMB dan menjadi yang terdepan dalam keberlanjutan.”

 

Detail Kebijakan
Pengumuman dari CIMB ini hadir sebagai respon dari kampanye oleh koalisi organisasi lingkungan yang memanggil sektor bank di Malaysia, khususnya CIMB, untuk menepati janjinya terhadap keberlanjutan dengan berhenti mendanai proyek batu bara baru.

Efektif pada tahun 2021, CIMB tidak akan lagi mendanai penambahan atau perluasan tambang batu bara termal dan pembangkit listrik tenaga batu bara, kecuali yang telah berjalan. CIMB telah berkomitmen untuk membangun rencana yang komprehensif untuk mengurangi perannya dalam industri batu bara hingga akhirnya bisa lepas sepenuhnya di tahun 2040. Meskipun detail rencana bagaimana mereka lepas dari batu bara belum terlihat, CIMB telah mengindikasikan bahwa mereka berharap klien pembangkit tenaga listriknya memberikan strategi diversifikasi untuk mengurangi pangsa batu bara dalam bauran energi mereka.

“Kami menyambut baik langkah penting yang diambil CIMB, dan kami mendesak CIMB untuk mengulas kembali ‘komitmen yang telah ada’ dengan klien-kliennya, termasuk Jawa 9 dan 10, untuk menentukan apakah investasi-investasi ini selaras dengan Perjanjian Paris atau menghadapi risiko menjadi aset terlantar,” papar Susan Tagle, Koordinator Asian Energy Network.

Terhadap rencana CIMB terhadap batu bara, Susan Tagle menyatakan, “2040 adalah waktu yang lama dari sekarang. Kami harap rencana CIMB dalam mengakhiri eksposur dengan batu bara ini mencakup metrik dan target seperti yang direkomendasikan oleh Task Force in Climate-related Financial Disclosures (TCFD) agar investor dan pemegang saham lainnya dapat melihat bahwa bank ini telah membuat kemajuan yang dapat diukur.”

Berdasarkan data yang dirilis sebelumnya di tahun ini, CIMB, Maybank, dan RHB menyediakan US$4.9 miliar untuk membiayai sektor batu bara antara tahun 2010 dan 2019. Lebih dari setengahnya diberikan oleh CIMB, yang menyediakan US$2.68 miliar untuk energi batu bara di periode tersebut.

Pinjaman CIMB, Maybank dan RHB untuk energi batu bara dari tahun 2010 hingga 2019

Bank Negara Malaysia yang merupakan Bank Pusat Malaysia, telah berulang kali menggarisbawahi betapa pentingnya peran lembaga keuangan dalam menghadapi krisis iklim.

“CIMB telah mengambil kesempatan untuk menjadi pemimpin energi bersih di Asia Tenggara,” ungkap Yuyun Indradi, Direktur Eksekutif Trend Asia.

Oleh karenanya, lanjut Yuyun Indradi, untuk mewujudkannya, CIMB telah mengambil langkah secara signifikan untuk mengurangi eksposurnya terhadap aset di sektor batu bara yang gagal, serta menyediakan dorongan yang penting terhadap jutaan orang yang terdampak krisis iklim dan bencana polusi udara. “Untuk menghindari risiko seperti itu, penarikan dari segala investasi di proyek PLTU Batu Bara Jawa 9 & 10 merupakan bukti bahwa CIMB serius dalam memberlakukan kebijakan barunya,” tandasnya.

“Langkah CIMB menyoroti bahwa tidak ada kebijakan terkait iklim yang koheren dari sektor perbankan lainnya Malaysia, serta kebijakan lemah di negara tetangganya Singapura seperti Bank DBS. Mereka bisa dan harus lebih baik,” sahut Merah Johansyah, koordinator nasional Jaringan Advokasi Tambang (JATAM).

Leave A Reply

Your email address will not be published.