Jakarta, Trenzindonesia.com | Indonesia memasuki babak baru dalam pengelolaan kekayaan negara. Melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara), pemerintah mendorong konsolidasi aset BUMN secara masif guna mempercepat pertumbuhan ekonomi dan memperkuat kedaulatan nasional di tengah ketidakpastian global.
Transformasi paradigma pengelolaan aset negara
Pembentukan Danantara menandai titik kulminasi evolusi tata kelola investasi negara. Lembaga ini dirancang bukan sekadar sebagai pengelola aset, tetapi sebagai orkestrator strategi pembangunan jangka panjang.
Nama “Danantara” diberikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto. Secara filosofis, “Daya” berarti kekuatan, “Anagata” merujuk masa depan, dan “Nusantara” menggambarkan Indonesia—sebuah simbol mobilisasi energi nasional untuk mengamankan masa depan ekonomi.
Visi besarnya ambisius: menjadi badan pengelola investasi kelas dunia yang mampu menciptakan lapangan kerja luas sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global.
Tiga pilar utama Danantara
Dalam operasionalnya, Danantara mengusung tiga misi strategis:
- Optimalisasi aset untuk meningkatkan pendapatan negara
- Transformasi BUMN agar lebih lincah dan kompetitif
- Akselerasi investasi berkualitas dan berkelanjutan
Model ini menandai pergeseran dari pengelolaan aset yang terfragmentasi menuju platform investasi terintegrasi.
Landasan hukum dan struktur elite
Secara regulasi, Danantara berdiri di atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2025 serta PP Nomor 10 Tahun 2025. Posisi lembaga ini langsung di bawah presiden, memberi bobot independensi lebih kuat dibanding struktur konvensional.
Struktur kepemimpinan diisi figur kelas berat:
- Dewan Pengarah: Susilo Bambang Yudhoyono dan Joko Widodo
- Dewan Pengawas dipimpin Erick Thohir
- CEO: Rosan Perkasa Roeslani
- CIO: Pandu Patria Sjahrir
- COO: Dony Oskaria
Masukan global datang dari tokoh seperti Ray Dalio dan Jeffrey Sachs.
Kehadiran nama-nama ini menjadi sinyal kuat kepada investor bahwa Danantara serius bermain di level global.
Konsolidasi raksasa BUMN
Danantara memulai langkah dengan mengonsolidasikan tujuh BUMN tulang punggung ekonomi, antara lain:
- Bank Mandiri
- Bank Rakyat Indonesia
- Bank Negara Indonesia
- PLN
- Pertamina
- Telkom Indonesia
- MIND ID
Total aset yang dikelola diproyeksikan mulai dari US$600 miliar hingga berpotensi menembus US$1 triliun—angka yang menempatkan Danantara sebagai kandidat sovereign wealth fund terbesar di kawasan.
Fokus awal: hilirisasi dan ketahanan energi
Memasuki 2026, Danantara mulai mengeksekusi Proyek Strategis Nasional. Pada 6 Februari 2026, lembaga ini melakukan groundbreaking enam proyek hilirisasi senilai US$6 miliar.
Proyek prioritas meliputi:
- Bioavtur di Cilacap
- Bioetanol di Banyuwangi
- Gasifikasi batu bara (DME)
- Hilirisasi kelapa di Morowali
- Fasilitas budidaya unggas untuk program MBG
Langkah ini diarahkan untuk menekan impor energi sekaligus memperkuat nilai tambah sumber daya domestik.
Kampung Haji di Makkah: investasi sosial bernilai ekonomi
Salah satu proyek paling menarik adalah pembangunan Kompleks Haji di Makkah. Fasilitas ini ditargetkan menampung 22.000 jemaah pada tahap awal dan mulai beroperasi bertahap pada 2029.
Selain meningkatkan layanan haji, proyek ini diproyeksikan:
- Menciptakan 7.500 lapangan kerja
- Memberi kontribusi ekonomi sekitar Rp2,5 triliun
Ini menunjukkan pendekatan Danantara yang memadukan diplomasi, layanan publik, dan investasi.
Kampung Haji di Makkah: investasi sosial bernilai ekonomi
Salah satu proyek paling menarik adalah pembangunan Kompleks Haji di Makkah. Fasilitas ini ditargetkan menampung 22.000 jemaah pada tahap awal dan mulai beroperasi bertahap pada 2029.
Selain meningkatkan layanan haji, proyek ini diproyeksikan:
- Menciptakan 7.500 lapangan kerja
- Memberi kontribusi ekonomi sekitar Rp2,5 triliun
Ini menunjukkan pendekatan Danantara yang memadukan diplomasi, layanan publik, dan investasi.
Perminas dan perebutan mineral kritis
Untuk menghadapi era teknologi hijau, pemerintah membentuk PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas) di bawah ekosistem Danantara.
Fokusnya:
- Rare earth elements
- Mineral kritis untuk kendaraan listrik
- Pengambilalihan Tambang Emas Martabe
Langkah ini dipandang strategis karena mineral kritis menjadi “minyak baru” dalam ekonomi global.
Ambisi industri tekstil: proyek Textile Reborn
Danantara juga menyiapkan investasi besar di sektor padat karya melalui proyek “Textile Reborn” senilai US$6 miliar.
Targetnya cukup agresif:
- Menguatkan sektor midstream tekstil
- Modernisasi teknologi
- Mendorong ekspor tekstil dari US$4 miliar menjadi US$40 miliar dalam 10 tahun
Namun, sektor ini dinilai paling menantang karena tekanan global dan isu sunset industry.
Kiprah global dan reformasi pasar modal
Debut Danantara di World Economic Forum 2026 di Davos menjadi panggung diplomasi ekonomi Indonesia. Pemerintah juga membuka peluang kerja sama dengan sovereign wealth fund global.
Di dalam negeri, Danantara bahkan menjajaki peluang menjadi pemegang saham Bursa Efek Indonesia pasca demutualisasi—langkah yang lazim dilakukan SWF besar dunia.
Catatan kritis dan tantangan
Meski prospeknya besar, sejumlah ekonom mengingatkan risiko yang harus diantisipasi:
- Potensi tumpang tindih kewenangan
- Risiko intervensi politik
- Tantangan tata kelola dan transparansi
- Beban proyek non-komersial
Keberhasilan Danantara akan sangat ditentukan oleh disiplin manajemen dan pengawasan ketat.
Kesimpulan: mesin baru ekonomi Indonesia
Danantara hadir sebagai simbol transformasi ekonomi modern Indonesia. Dengan konsolidasi BUMN, ekspansi hilirisasi, hingga investasi global, lembaga ini berpotensi mengubah peta investasi nasional secara fundamental.
Namun ujian sesungguhnya baru dimulai. Jika tata kelola terjaga dan proyek berjalan disiplin, Danantara bisa menjadi lokomotif menuju pertumbuhan 8 persen dan kedaulatan ekonomi.
Sebaliknya, tanpa governance yang kuat, ambisi besar ini berisiko menjadi beban baru.
oleh : Riki Kristomi AW, ST., MM (Praktisi dan Pengamat Ekonomi Nasional)
