Trenz Indonesia
News & Entertainment

Dari Motor Antik Sampai Saxophone. Jimbot: Pingin Naik Motor Bukan Naik Surat Tanah

158

Jakarta, Trenz Life Style I Kecintaan dengan motor antik 36 tahun yang silam, bukanlah tanpa sebab, Pudji Vatikanto atau Jimbot sapaan akrab dikalangan kaum motoris, ia akui telah turut mengotak-atik kuda besi di usia 4 tahun.

Bahkan lebih jauh, Jimbot menceritakan, jadi tahun 1984 menjadikan awal ketitipan motor BSA (Birmingham Small Arms) WN 20.4TAK 500CC kepunyaan Wayan, sahabat kental ayahnya. “Iya jadi saat itu istrinya Pak Wayan tengah hamil muda dan nggak suka dengan bau oli motor BSA. Jadilah itu motor nginep di rumah,” kenang Jimbot yang mukim di Cipinang Raya RT.009 RW. 06 No.7, Jakarta Timur.

Dengan BSA-nya yang dikategorikan Moge (motor gede), masih cerita Jimbot, menyadari BSA tak seperti kebanyakan motor ber-CC kecil, masih dirasakan awan untuk bisa mengotak-atik. “Jadi kalaupun mengotak-atik, iya otak-atik yang ngak jelas saja. Kalaupun gue berani, karena rajin nanya sana sini di kalangan komunitas motor tua,” celoteh pria berjanggut lebat yang sebagian telah memutih ini.

Dalamm perjalanan ketitipan motor BSA sekitar 8 tahun ini, diakui Jimbot, sekitar tahun 1992, BSA itupun akhirnya resmi berpindah tangan. “Jadi begitu gue punya uang dan ingin menjadi pemilik syah, gue memberanikan untuk membelinya dari Pak Wayan. Alhamdulillah beliau hanya minta mahyar seharga 1.5 juta perak. Jadilah BSA ini resmi gue milik,” Kenang Jimbot bangga dengan mata berbinar-binar.

Layaknya manusia yang memiliki nama, Jimbot pun menamai Mbah Slamet terhadap motor lansiran negeri Union Jack ini. Pilihan Mbah Slamet, ia akui, selalu memberikan banyak keselamatan dalam membantu sesama pemotor klasik. “Jadi kalau ikutan turing, itu yang namanya bagasi isinya dari tali rem, amplas dan macem-macem ngak pernah tinggal, iya buat jaga-jaga namanya motor antik pasti banyak trouble kan?” ujarnya yang mengawali turut turing bareng MACI (Motor Antik Club Indonesia) ke Yogyakarta tahu 1997.

Mbah Slamet banyak menyimpan suka dan duka.  Diakui Jimbot, tak jarang tatkala jalan-jalan keliling Jakarta menjadi pusat perhatian kaum motoris terlebih penyuka motor klasik.

Dibalik kisah Jimbot seorang yang sederhana, amat banyak cerita bersama Mbah Slamet ini, salah satunya Mbah Slamet pernah ditawar uang dengan ratusan juta untuk dilepasnya. “Penah ada, Mbah Slamet ditawar 300 juta plus surat tanah. Tapi gue tolak karena masih pengen naik motor bukan naik surat tanah,” katanya bekelakar yang juga menyimpan Meguro Kawasaki 4 TAK 500CC Tahun 1974, PUCH (Austria) 2 TAK, Twin Port 150 CC Tahun 1952.

“Motor-motor Inilah harta tak ternilai yang gue jaga dan rawat hingga kapanpun, karena kecintaan dan nilai sejarah yang jadi penguat untuk selalu dihati,” tutup Jimbot sambil melempar pandangannnya jauh ke depan.

Saxophone Kenny G
Cerita lain yang bertolak belakang dengan motor antik, Jimbot juga menjalani reperasi saxophone yang bermasalah. Sama halnya melakoni service motor antik, menekuni service saxophone juga tanpa bekal ilmu, dengan kata lain otodidak. Jimbot menuturkan, sekitar tahun 90-an, kedatangan tamu yang tak lain adalah musisi Jazz ternama, yakni peniup saxophone kenamaan Indonesia (alm) Embong Raharjo.

“Waktu itu Mas Embong ke rumah cari bokap untuk memperbaiki saxophone koleksinya. Ketemu sih, hanya saat itu bokap lagi sakit,” ungkap Jimbot anak dari Murtadji musisi yang berkiprah di tahun 1980-an, dan memiliki keahlian memperbaiki saxophone yang bermasalah.

“Saat itu, Mas Embong akan menservis sebanyak 6 buah saxophone, hanya kondisi bokap lagi sakit,” katanya sambil matanya nanar mengenang kejadian tersebut. Selanjutnya, Jimbot bilang, “Dari Mas Embong lah yang menginspirasi gue untuk berani mencoba jejak bokap. Gue harus bisa meneruskan reparasi saxophone.”

Satu hal yang sulit untuk dilupakan wejangan dari Embong Raharjo. “Sampean nggak usah jadi player atau seniman tiup tapi jadi dokternya. Player tiup dah banyak,” singkat Jimbot yang pernah bekerja sebagai maintanance pada sebuah perusahaan di wilayah Tanjung Priok, dengan penghasilan Rp.250 perbulannya.

Dari keenam saxophone koleksi Embong Raharjo, Jimbot  perbaiki dalam waktu dua mingguan. “Dan gue masih inget betul, itu terima bayaran Rp.900 ribu. Iya senang, sementara kerja sebulan hanya bergaji 250 rebu,” kelakarnya tertawa lepas yang akhirnya berhenti kerjaa dan menekuni service saxophone.

Mengulangi ucapa Embong Rahadjo, Jimbot menuturkan, “Kata Mas Embong sambil membayar, bilang beini nikmat nan Mboet, sambil duduk otak-atik saxophone, bisa tekun merawat bapak yang sakit,  ditambah sambil memandangi motor semua bisa dilakukan.”

Kepiawaian mereparasi saxophone membawa secercah harapan, Jimbot tidak saja mereperasi saxophone musisi Indonesia. Bahkan manajer dari Kenny G maestro saxophone dunia, merelakan untuk menyerahkan saxophone kesayangan Kenny G di rawat oleh si ‘dokter’ saxophone Jimbot ini. [Foto-foto: Joko Dolok].

Leave A Reply

Your email address will not be published.