Trenz Indonesia
News & Entertainment

DASPR Dan FKAAI Bekerjasama Membangun Monumen Perdamaian

The Power of Forgiveness: Memoar Korban Bom Marriott

345

JAKARTA, Trenz News | Sastrawan dunia asal Prancis, Victor Hugo menulis dalam sekuel novelnya, Les Miserables 2: Cosette, “Sejarah adalah musibah bagi seseorang yang meninggalkan kenangan buruk.” Kenyataan semacam itulah yang coba ditepis oleh para pegiat deradikalisasi yang tergabung dalam Forum Komunikasi Aktifis Akhlakul Karimah (FKAAI), dengan menghelat sebuah acara peringatan Bom Marriott, berbarengan dengan peluncuran buku dari salah seorang korban yang selamat.

Sembilanbelas tahun silam, tepatnya pada Selasa, 5 Agustus 2003, sebuah bom berbobot 300 kg meledak di beranda depan Hotel JW Marriott, Jakarta, pada pukul 12.45 WIB. Teror mematikan itu, merenggut 14 korban jiwa, dan 156 orang luka-luka, yang beberapa di antaranya cacat seumur hidup. Ini adalah serangan bom ke sekian yang terjadi di Indonesia, dan dilakukan oleh para teroris yang terafiliasi dengan Jamaah Islamiyah

Tony Soemarno, adalah salah seorang korban Bom Marriott yang kemudian selamat dari kematian. Seluruh duka lara yang telah ia lewati pasca kejadian memilukan itu, kemudian ia tuangkan dalam sebuah buku berjudul The Power of Forgiveness: Memoar Korban Bom Marriott, terbitan Mizan. Diluncurkan pada Jumat, 5 Agustus 2022, di lokasi yang sama tempat ia mengalami peristiwa nahas itu.

Buku ini sengaja dirilis bertepatan pada peringatan 19 tahun Tragedi Bom Marriott, yang telah meluluhlantakkan semua harapan hidupnya. Diselenggarakan oleh Division for Applied Social Psychology Research (DASPR) dan FKAAI. DASPR adalah lembaga yang bergerak untuk menyelesaikan masalah sosial dengan menggunakan sudut pandang psikologi sosial terapan. Sementara FKAAI adalah lembaga yang beranggotakan para penyintas bom, penyintas aksi terorisme, mantan narapidana terorisme, dan mantan kombatan jihad yang telah banyak melakukan kegiatan kontra radikalisme dan deradikalisasi dengan didukung Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan POLRI (dalam hal ini Densus 88 Anti Teror).

Acara peringatan Tragedi Bom JW Marriott untuk kali perdana ini, dihadiri oleh 30 orang penyintas tragedi bom dari seluruh Indonesia. Di lokasi kejadian, bersama puluhan hadirin, mereka memanjatkan doa dan mengheningkan cipta, serta meletakkan tangkai mawar putih sebagai bentuk simbolis duka cita mendalam kepada para korban yang telah kembali ke haribaan Tuhan.

Selain Tony Soemarno selaku penulis buku, juga hadir narasumber pada acara temu wicara yaitu, Ali Imron(pelaku Bom Bali 2002), serta Konsultan Senior DASPR dan Pembina FKAAI, Nasir Abas. Kehadiran Ali Imron menjadi pemandangan yang menarik. Sebab ia masih harus menyelesaikan masa tahanannya di penjara, tapi diberi kesempatan hadir oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Detasemen Khusus 88 Anti Teror (Densus 88), untuk menyampaikan pernyataan sikap tentang pencerahan yang ia dapatkan selama mendekam di hotel prodeo.

Buku The Power of Forgiveness: Memoar Korban Bom JW Marriott, merupakan karya yang ditulis berdasarkan pengalaman Tony Soemarno sebagai korban teror bom yang mengisahkan perjalanan hidupnya sejak menjadi korban bom JW Marriott 2003, hingga menjadi aktivis deradikalisasi yang aktif mengunjungi dan berdiskusi dengan para narapidana kasus teror di penjara. Kisah-kasih yang ditulisnya sangat inspiratif untuk dibagikan demi mencegah terulangnya perbuatan aksi terorisme berikutnya.

Dari sekian judul buku yang telah terbit terkait radikaslisme-terorisme, inilah satu-satunya buku di dunia yang memuat kisah unik antara korban teror bom dengan para pelakunya. Dimulai dari bagaimana seorang Tony Soemarno harus bangkit dari keterpurukan yang menerpa dirinya, akibat direjam bom yang meledak sesaat sebelum ia makan siang di Hotel JW Marriott, Jakarta, pada Selasa, 5 Agustus 2003.

Bersama dengan Nasir Abas, (mantan komandan Mantiqi Tiga Jamaah Islamiyah) yang akhirnya turut membantu Pemerintah Republik Indonesia membongkar jaringan teror di bumi Nusantara, ia berinisiatif mengunjungi Ismail Datam, Tohir, Ali Imron, Umar Patek, dan Abu Bakar Ba’asyir, di lapas. Kedatangan Tony itu dilatari oleh keinginannya untuk memaafkan kesalahan yang didasari ketidaktahuan. Ia tunjukkan kepada para teroris itu, bahwa kekuatan Islam yang utama adalah rahmat bagi semesta alam dan akhlak mulia. Budi baik yang menjadi dharma bhakti pada kehidupan.

Tony berharap, “Semoga karya monumental ini turut menginpirasi banyak orang, terutama umat Muslim sedunia. Karena biar bagaimana pun, kita hidup di bawah langit dan di atas bumi yang sama. Kita semua, sama-sama berhak berbahagia. Sama berkewajiban menyelenggarakan kehidupan yang gemah ripah loh jinawi. Tata tentram kerta raharja,” ungkapnya dengan rasa haru yang teramat sangat.

Selain Ali Imron sebagai narasumber, hadir juga Kepala Staff Kepresidenan, Jenderal TNI (Purn). Dr. H. Moeldoko, S.I.P.; perwakilan dari Kementerian Dalam Negeri, Kombes. Pol. Dr. Hoiruddin Hasibuan, S.H., M.Hum; Kepala BNPT, Komjen. Pol. Dr. Drs. Boy Rafli Amar, M.H.; Kasatgas Densus 88 wilayah DKI Jakarta, Kombes. Pol. Dayan Victor Imanuel Blegur.

Moeldoko dalam sambutannya mengatakan, “Dengan alasan apa pun, semua ajaran agama menolak aksi teror. Jadi aksi terorisme tidak bisa berlindung dibalik agama.”

Ia menyampaikan sejak peristiwa teror bom JW Marriot 2003, Pemerintah telah mengadopsi pendekatan “Whole of Government” untuk melawan terorisme, mulai dari hulu dengan pendidikan hingga hilir melalui penindakan. Secara regulasi, pendekatan tersebut diperkuat dengan penerbitan UU Nomor 5/2018 dan Perpres No 7/2021 tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan.

Merujuk kajian LAB45 pada 2021, Moeldoko menyebut tren serangan teror secara konsisten menurun sejak 2000. Nilai agregat pada Index Terorisme Global juga turun, dari angka 6,55 pada 2021 menjadi 5,5 pada 2022. “Nilai lebih rendah, berarti lebih baik. Ini hasil kerja keras pemerintah dan semua pihak dalam melawan terorisme. Pemerintah tidak bekerja sendirian,” serunya.

Moeldoko memastikan negara akan terus hadir untuk para korban aksi terorisme. Satu di antaranya dengan memberi kompensasi kepada 215 korban terorisme dan ahli waris dari 40 peristiwa terorisme masa lalu yang nilainya mencapai Rp39 miliar. “Kehadiran negara diharapkan dapat membawa semangat baru serta optimisme baru bagi korban dan keluarganya. Saya berharap peluncuran buku ini menjadi inspirasi kita semua untuk berjuang bersama melawan aksi terorisme,” harap Moeldoko.

Senada dengan Moledoko, Kepala BNPT Komjen. Pol. Dr. Drs. Boy Rafli Amar, M.H. mengatakan, tragedi Bom JW Marriott pada 2003 akan jadi pengingat tentang bahaya ancaman terorisme pada kemanusiaan. “Bom Mariott perlu terus diingat agar seluruh masyarakat tak lupa begitu berbahayanya aksi terorisme,” katanya.

Boy yang mendukung penuh kegiatan DASPR dan FKAAI sejauh ini, menegaskan peristiwa tersebut tidak boleh terulang lagi. Semua anak bangsa harus melawan segala bentuk kekerasan, dan mengumandangkan bahwa tragedi semacam itu tak layak terjadi di Tanah Air dan juga di dunia kita bersama. Dalam upaya pencegahan aksi terorisme termasuk ide-ide yang melatarbelakanginya, BNPT bersama unsur Pemerintah dan masyarakat, telah melakukan kesiapsiagaan nasional, kontra radikalisasi dan deradikalisasi. BNPT juga menyelenggarakan forum yang mempertemukan antara korban/penyintas dengan mitra deradikalisasi. Cara ini menjadi sarana pemulihan tercepat dan pengutuhan kembali kedua belah pihak.

Ia mengatakan BNPT terus mempromosikan dan melakukan ketahanan nasional dari pengaruh ide teror yang berbasis kekerasan dan tidak bisa dilakukan secara parsial. “Langkah tersebut harus dilakukan secara komprehensif dengan pendekatan lembut dan keras,” jelasnya. “Bahwa memang selama 2022 ini kami telah membuat beberapa perhelatan yang menyatukan antara para penyintas bom dan para mantan pelaku terorisme di lima titik, bekerjasama dengan para pihak terkait,” pungkasnya.

Ada pun Nasir Abas selaku Pembina FKAAI, mengatakan bahwa lembaga yang ia bentuk, merupakan yang pertama kali di dunia. “Saya ingin memberitahu kepada masyarakat dunia bahwa menyatukan para penyintas bom, penyintas aksi terorisme, mantan narapidana terorisme, dan mantan kombatan jihad, adalah sesuatu yang mungkin. Toh bersama mereka, kami telah banyak melakukan kegiatan kontra radikalisme dan deradikalisasi. Saya percaya, kita bisa membangun peradaban Islam yang lebih gemilang dengan saling memaafkan dan tentu bergandengan tangan,” ungkap Nasir dalam sesi diskusi buku. (PR/Reno) | Foto: istimewa

Leave A Reply

Your email address will not be published.