Trenz Indonesia
News & Entertainment

Dimanakah KRI Nanggala 402..?

264

Oleh: Gunawan Wibisono*

Jakarta, Trenz Corner I 30 jam berlalu, tetap tak ada kabar bagaimana nasib *KRI. Nanggala 402 yang dinyatakan hilang, Rabu, 21 April 2021, pukul 03.00WIB (*KRI = Kapal Republik Indonesia, Inggris pakai awalan HMS – His/Her Majesty’s Ship, dan Australia – HMAS – His/Her Majesty’s Australian Ship, untuk menyebut kapal perang).

Spekulasi berkembang. Sorenya ada kabar: kapal telah ditemukan. Orang langsung merasa lega. Semua memikirkan nasib dan keselamatan ke-53 krunya. Soal kapal, biar saja, masih bisa dibuat lagi. Keselamatan manusia tetap nomor satu.

Ternyata kabar kapal yang memiliki semboyan “Wira Ananta Sudhiro” (tabah sampai Akhir) telah ditemukan tadi baru sebatas kemungkinan koordinat posisi kapal. Baru itu. Baru posisinya saja. Sekali lagi, bagaimana nasib kru-nya?

Source: Antaranews.com

Selanjutnnya, Kamis, 22 April 2021, pukul 09.55WIB, muncul berita: Puspen TNI belum pastikan penemuan (lokasi) KRI Nanggala nomor lambung 402. Artinya, berita ini mementahkan kabar sebelumnya. Posisi kapal ternyata masih misteri.

Lalu masuk kabar lainnya, Panglima TNI mengijinkan kapal penyelamat dari Singapura untuk mencari lokasi kapal. Jadi firm, lokasi Nanggala masih belum diketahui.

Saya sungguh risau, soalnya, dari sejarah sebelumnya, kalau ada kapal selam hilang apa boleh buat selalu berakhir sedih.

Apa yang dialami KRI Nanggala 402 mirip kisah kasel (kapal selam) AL Argentina, San Juan, yang sudah saya tulis sebelumnya. Tanggal 15 November 2017, pagi 07.30, Kapal mengalami masalah pada baterei lalu blackout, sulit dikendalikan dan hilang. San Juan dikabarkan juga berada di dekat palung (jurang) laut. 2 Minggu dicari tak ketemu. Lokasinya baru ketahuan setahun kemudian berkat info kapal selam Amerika. Ke-44 krunya gugur dalam tugas.

Ada kisah lain, kapal selam hilang juga bisa terjadi tepat di depan ‘hidung’ kapal penyelamat, yang sebenarnya memang disediakan sebagai bantuan bila kondisi darurat muncul.

Rabu, 10 April 1963, USS. Thresher (USS = United States Ship) adalah kasel bertenaga nuklir. Jenisnya: pemburu dan pembunuh, hunter killer. Kapal masih gres, baru dua tahun keluar galangan dan canggih di kelasnya saat itu.

Hari itu Thresher akan melakukan tes penyelaman dalam, hingga mencapai 1.000 feet atau sekitar 305 m di bawah air. Dilakukan di lokasi sekitar 350 km sebelah timur kota Boston, Massachusetts.

Demi keselamatan, kasel dengan 129 kru didampingi USS. Skylark (kapal permukaan) yang akan bertindak sebagai kapal penyelamat, bila terjadi apa-apa. Setelah melalui prosedur ketat, Thresher pun mulai melakukan penyelaman.

Sesuai kesepakatan, setiap menyelam sedalam 100 feet (30 meter) Theresher akan memberi kabar soal kondisinya pada Skylark.

Semula semua berjalan lancar: 100-200-300, …..sampai akhirnya di kedalaman 900 feet, 274, 32 meter, kapten kapal Thresher melaporkan ada masalah serius. Laporan terputus, karena mendadak kapal hilang kontak.

AL Amerika segera melakukan pencarian besar-besaran. Hasilnya? Baru Selasa, 25 Juni 1963, atau dua setengah bulan kemudian, posisi kapal diketahui. Tubuh Thresher luluh lantak.

Setelah dilakukan penyelaman disimpulkan, penyebab kecelakaan kasel itu karena ada pengelasan badan kapal yang tak sempurna. Dalam tekanan ribuan ton di kedalaman laut, retak sangat kecil dan kebocoran satu ujung jarum saja bisa membawa petaka. Gambaran simpelnya mirip balon udara di dalam air, lalu ditusuk jarum.

Prancis juga pernah mengalami kecelakaan kasel, kapal Surcouf membawa lebih banyak kru, yakni 130 orang, hilang di tanggal 18/19 Februari 1942. Dan kasel Kursk, kapal selam nuklir milik Rusia, tenggelam dengan 118 kru di dalamnya, tahun 2000.

Bagaimana sesungguhnya cara menolong kasel yang kecelakaan? Sulitkah? Jawabanya: sangat sulit. Menolong dengan mengirim penyelam sangat berbahaya. Di kedalaman 100 meter saja tak banyak penyelam yang mampu menahan kuatnya tekanan air, apalagi, bila posisi kapal ternyata lebih dalam lagi…..

Ada jalan lain yakni mengutus kapal selam lain untuk menolong. Kapal penyelamat akan menempelkan badan lalu transfer kru bisa dilakukan melalui pintu.

Namun ini juga sangat sulit dan sangat berisiko.

Pertama, kapal penolong harus tahu pasti dimana posisi awak yang akan ditolong, adakah pintu darurat di sana? Kedua, arus di dalam laut sangat berbahaya. Kapal bisa saling bentur dan saling seret. Dan di atas semua itu, pertolongan harus dilakukan dengan cepat, ini mengingat terbatasnya oksigen di dalam kapal yang sedang kena musibah.

Ada yang bertanya, mengapa kru tak keluar kapal saja? Jawabannya: pakai apa? Apakah peralatan penyelaman dalam kondisi darurat ada di dekat mereka? Bagaimana kalau ada di tempat lain dan lokasi itu kini diisolasi? Kalaupun bisa keluar tekanan dalam air yang sangat besar sudah menunggu. Tak semudah yang dibayangkan orang.

Saya sungguh berharap semua awak KRI Nanggala 402selamat, dan tak mau berspekulasi lebih lanjut. Semata karena rasa hormat saya yang luar biasa besar pada para kru. Menjadi awak kasel itu hebat! Hanya para pemberani yang mampu melakukan. Dan, mereka semua pasti melakukan yang terbaik demi utuhnya NKRI kita.

Doakan kru KRI Nanggala 402.

 

(*) Penulis adalah wartawan, pemerhati sejarah Perang Dunia dan teknologi militer. Lahir di Tegal, pernah ‘kabur‘ ke Belanda dan ikut mendirikan beberapa tabloid hiburan.

Tulisan tersebut diambil dari laman Facebook, Kamis, 22 April 2021 – pukul 11.54WIB, penulis masgoenawan64@gmail.com

Leave A Reply

Your email address will not be published.