Oleh : Fajar Irawan
Jakarta, Trenzindonesia l Di era digital seperti sekarang, media sosial menjadi wadah ekspresi diri. Namun, kebiasaan memposting kenyinyiran, sindiran tajam, atau informasi negatif secara terus-menerus bisa berdampak buruk – tidak hanya bagi orang lain, tapi juga bagi diri sendiri.
Pakar psikologi komunikasi, Dr. Rina Sasmita, menyatakan bahwa unggahan bernada negatif bisa memicu konflik, memperkeruh suasana, bahkan merusak hubungan sosial. “Seseorang yang kerap menyebarkan hal-hal negatif cenderung dicap toksik, dijauhi teman, dan kehilangan kepercayaan,” ujarnya.
Tak hanya secara sosial, risiko hukum juga mengintai. Menurut UU ITE, unggahan bernada fitnah, hoaks, atau pencemaran nama baik bisa berujung pada pidana. Polisi siber pun kini aktif memantau konten semacam itu.
Dari sisi psikologis, terlalu sering mengumbar emosi negatif juga bisa memperburuk kondisi mental pelaku. Riset menunjukkan bahwa kebiasaan tersebut dapat meningkatkan risiko stres, kecemasan, bahkan depresi.
Pengamat media sosial, Dika Permana, menyarankan agar pengguna bijak dalam bermedia sosial. “Lebih baik gunakan platform untuk menyebar hal positif, membangun jaringan, atau berbagi inspirasi,” katanya.
Kesimpulannya, media sosial mencerminkan kepribadian digital seseorang. Hindari kenyinyiran berlebihan, jaga etika online, dan sebarkan hal-hal yang membawa manfaat. Bijaklah sebelum mengunggah. (Fjr)
