Trenz Edutainment | Sekitar 500 orang delegasi dari 175 Negara yang hadir di perhelatan 7th General Assembly’ yang berlangsung di Markas UNESCO, Paris, Rabu (06/06/2018), berdecak kagum memuji keindahan gerak tari dan seni wayang orang dan wayang kulit bertajuk “Kresna Duta” yang ditampilkan oleh delegasi Indonesia yang diwakili sejumlah penggiat seni wayang yang tergabung di Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (SENAWANGI).
Tentunya menjadi ironis, kala Wayang sebagai seni pertunjukan asli Indonesia banyak dipuji dan dikagumi dunia internasional namun dalam perkembangannya kini seolah menjadi sebuah kebudayaan yang terlantar bahkan terpinggirkan di negeri sendiri.
Gaura Mancacaritadipura, dalang berkebangsaan Australia yang kini menjadi warga Negara Indonesia, yang juga menjadi bagian dari delegasi Indonesia yang diutus Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (SENAWANGI), untuk mengikuti acara 7th General Assembly di Paris , Senin – Selasa (4 – 5/06/2018), mengharapkan, Pemerintah Indonesia dapat lebih berperan aktif mengurus wayang. Sejak 7 November 2003, Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB (UNESCO), mengakui wayang sebagai World Master Piece of Oral and Intangible Heritage of Humanity. Pengakuan ini sangat berarti bagi bangsa Indonesia. Sebab terbukti wayang berhasil mengangkat citra bangsa, mengangkat nama bangsa, harkat dan martabat bangsa di forum dunia.
“Pemerintah punya tanggung jawab besar terhadap masalah ini. Pemerintah kurang agresif mengurus budaya, terutama wayang. Secara kualitatif maupun kuantitatif Pemerintah kurang serius mengurus wayang. Tentu kita mengharapkan hal itu bisa ditingkatkan,” ujar Gaura, yang mengatakan biaya keberangkatannya dan tim mengikuti sidang ini ditanggung atas swadaya masyarakat Indonesia yang peduli wayang.
Pada sisi lain Jeff Cottaz selaku Pengamat Budaya Indonesia berkebangsaan Perancis, menyampaikan tentang pentingnya acara ini. Melalui forum ini setidaknya, wayang dapat dijadikan sebagai media ekspresi yang memperlihatkan karakter sebuah bangsa. Namun pengamat budaya yang pernah tinggal di Indonesia ini sekaligus menyayangkan, wayang justru terlantar dan terpinggirkan di negerinya sendiri.
“Kami di sini, di UNESCO mengenal wayang sebagai budaya dunia. Tapi ingin saya katakan, sebelum mendunia wayang harusnya me-Nusantara. Saya pernah tinggal di Indonesia, banyak sekali daerah yang tidak mengerti sama sekali wayang. Walau SENAWANGI sudah berupaya, tapi masih harus terus ditingkatkan. Upaya mengenalkan wayang harus berkelanjutan terutama pada generasi muda. supaya wayang itu menjadi buah pikiran,” saran Jeff Cottaz.
Ikut serta para penggiat seni dan budaya lainnya, antara lain; *Sumari, S.Sn*., (Sekretaris Umum SENAWANGI), *Eddie Karsito*, *Wahyu Wulandari*, dan *Ina Sofiyanti*, tim pendukung event menyeluruh pada sidang-sidang ‘7th General Assembly’ di Paris.
‘General Assembly’ adalah forum NGO – ICH, jaringan yang memiliki platform untuk berkomunikasi, pertukaran dan kerjasama antar organisasi penggiat budaya, yang terakreditasi oleh UNESCO. Sesuai Konvensi UNESCO forum ini secara bersama-sama, menjaga nilai-nilai warisan budaya tak berwujud (Intangible Cultural Heritage). General Assembly’ diselenggarakan setiap dua tahun sekali. Tidak kurang dari 500 orang delegasi dari 175 Negara bersidang di acara ini. (PR/Fjr) | Foto/ Dok. SENAWANGI
