Trenz Indonesia
News & Entertainment

Ekspor Bibit Lobster Luar Biasa

1,147

Oleh: Isson Khairul*

Aturan baru yang membolehkan izin ekspor bibit lobster, baru diundangkan di Jakarta pada Selasa (05/05/2020). Rekan-rekan media, baru mengakses aturan baru tersebut di laman resmi KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan), pada Jumat (08/05/2020). Dan, pada Rabu (01/07/2020) 16:09 WIB, kompas.com melansir berita “KKP Beri Izin 26 Eksportir Benih Lobster, Susi Pudjiastuti: Luar Biasa.” (https://rb.gy/2e22yn)

Kita tahu, yang melarang ekspor bibit lobster adalah Susi Pudjiastuti, semasa ia menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan. Dan, yang mencabut izin larangan tersebut adalah Edhy Prabowo, Menteri Kelautan dan Perikanan kini. Artinya, dari Selasa (05/05/2020) ke Rabu (01/07/2020), ya sekitar 60 hari. Hanya dalam 60 hari tersebut, sudah langsung terbit izin untuk 26 eksportir benih lobster.

Luar biasa. Di masa wabah virus Corona, alangkah luar biasa cepat, proses pengurusan izin ekspor bibit lobster. Di sisi lain, itu menunjukkan, betapa antusias pelaku bisnis untuk mengekspor bibit lobster. Apakah itu juga akan cepat menggelembungkan pendapatan negara? Bacalah “Susi Kritik Harga Benih Lobster Setara Sebungkus Rokok” (https://rb.gy/7ise7k) yang dilansir tempo.co pada Kamis (25/06/2020) 16:30 WIB. Kemudian, pada Jumat (26/06/2020) 08.34 WIB, saya menulis ROKOK LOBSTER (https://rb.gy/xraixk) di facebook.

Artinya, ekspor bibit lobster tersebut, tidak dengan sendirinya bakal mendongkrak pendapatan negara. Kenapa? Karena bibit lobster itu dijual dengan harga murah, sangat murah. Padahal, kalau dibesarkan di sini, di lautan kita, kemudian dijual setelah ukurannya sesuai dengan kebutuhan pasar, harganya berkali-kali lipat.

Lobster sangat dibutuhkan dunia. Semasa Susi Pudjiastuti menjadi menteri, yang melarang ekspor bibit lobster, berkali-kali upaya penyelundupan bibit lobster digagalkan. Pada 23 Maret 2019, misalnya, ada penyelundup yang ditangkap. Ia hendak menyelundupkan 54.947 bibit lobster ke Singapura. Anda tahu nilainya? Rp 11 miliar!

Itu hanya sebagai satu contoh, untuk menggambarkan, betapa tingginya kebutuhan dunia akan lobster dan betapa mahalnya harga bibit lobster. Susi Pudjiastuti melarang ekspor, agar harga jualnya lebih tinggi lagi, setelah panen. Nah, di rezim ini, hasil laut yang mahal itu dijual murah, bahkan diobral murah sejak masih bibit.

Ke-26 eksportir bibit lobster tersebut akan mengeksekusinya segera. Susi Pudjiastuti tentu saja meradang. Ia paham banget kongkalingkong di balik terbitnya izin ekspor bibit lobster. Saya yakin, Bu Susi juga paham, siapa saja ke-26 eksportir itu dan siapa-siapa petinggi negeri ini yang berada di belakang para eksportir tersebut.

Agaknya, mereka itulah yang sudah mengadakan permufakatan jahat, untuk menyingkirkan Bu Susi. Maka, untuk selanjutnya, tak usahlah para petinggi negeri ini ngoceh lagi tentang kekayaan laut, sumber daya laut. Sangat tidak sepadan ocehan mereka dengan kebijakan yang mereka buat. Kita tahu, setelah Bu Susi tidak lagi menjadi menteri, penjarahan ikan di lautan kita kembali marak. Kini dilanjutkan dengan mengobral bibit lobster.

Sebagai warga biasa, saya bertanya: Inikah yang dimaksud dengan Indonesia Maju? Maju sebagai pengobral kekayaan laut kita?

Salam dari saya Isson Khairul
Persatuan Penulis Indonesia

(*) Sumber: https://rb.gy/mwkrz1

Leave A Reply

Your email address will not be published.