Trenz Indonesia
News & Entertainment

Era New Normal Industri Hiburan Siap! Harry Koko: Pembatalan 750 Ribu Konser Musik, Sembako Tak Selesaikan Masalah

453

Bogor, Trenz Edutainment I Fakta jika industri hiburan adalah sektor yang masih terdampak hebat akibat pandemi Corona (Covid-19) memang tak bisa dipungkiri.

Bioskop, panggung dan pentas musik, pariwisata, hiburan malam adalah beberapa jenis industri dan jasa di sektor hiburan yang masih harap-harap cemas. Apalagi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSB) Transisi di DKI Jakarta dan Tangerang Raya diperpanjang lagi hingga September 2020.

Hal inilah yang kemudian banyak menjadi sebuah dilema bagi pelaku industri hiburan. Urusan perut dan kebutuhan lainnya menunggu di belakang mereka. Mereka juga tak bisa hanya menunggu bantuan sembako saja dari pemerintah. Lantaran hidup sejatinya tak hanya bergantung pada sembako.

“Dunia hiburan tidur? Saya rasa malah tengah pingsan. Di ranah film, ada 110 film nasional dan puluhan film asing yang belum tayang di tahun ini lantaran belum kunjung dibukanya bioskop dalam masa PSBB Transisi ini,” ungkap Ketua Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI), Djonny Sjaffrudin saat berbicara dalam diskusi bertajuk “Recovery Industri Hiburan di Era New Normal” yang digelar PWI Jaya Seksi Musik Film dan Lifestyle di Jambuluwuk Resort Puncak, Ciawi, Bogor Sabtu (22/8) lalu.

Dikatakan Djonny lagi, presepsi yang salah jika menempatkan bioskop sebagai salah satu tempat yang rentan akan penularan virus Covid-19.

“Berdasarkan sebuah penelitian di beberapa negara yang membolehkan bioskop dibuka seperti di Jerman, Inggris, dan Singapura, ternyata persentase penularan di bioskop itu cuma 0,3 persen” terang Djonny.

Ia pun membantah jika sirkulasi udara dalam bioskop membuat virus Covid-19 tak beranjak alias terus berputar di dalam ruangan, pasalnya ruangan di bioskop menggunakan sistem ventilasi udara yang terus difilter, sehingga udara di dalam ruangan terus bersih. Teknik ventilasi dan sirkulasi udara ini juga digunakan di kabin pesawat untuk menciptakan udara bersih.

“Di ruang bioskop, ada dua sistem ventilasi ini dinamakan return, sedangkan di pesawat dikenal dengan hepa. Udara yang jatuh, disedot oleh ventilasi, dibersihkan, lalu keluar sebagai udara bersih. Sistem ventilasi di bioskop ini sama persis dengan yang digunakan di kabin pesawat, bedanya hanya luas ruangan. Nah, kita lihat sendiri saat ini pesawat aman beroperasi,” paparnya serius.

Selain itu, ruang bioskop selalu dibersihkan dan disterilisasi setiap dua jam atau setiap pemutaran film selesai.

“Saat menonton, penonton duduk berjauhan, tidak duduk berhadapan dengan orang lain, serta tidak membuka mulut untuk makan dan minum, bersentuhan, serta tidak berbicara saat menonton,” bebernya.

Jadi menurutnya, tak ada alasan jika bioskop belum layak untuk dibuka. Pihaknya mengaku sudah siap melaksanakan protokol kesehatan dalam bioskop.

“Katakan yang sebenarnya soal masih dilarangnya bioskop dibuka. Belum ada argumentasi yang jelas soal larangan ini,” tandasnya mendesak Pemprov DKI Jakarta sebagai pemangku kebijakan segera mempertimbangkan pembukaan bioskop.

“75 persen daerah lain di Indonesia sudah memberi izin. Kendari dan Makassar contohnya, sudah sebulan ini jalan, dan nggak ada masalah. Bioskop ini bukan sekadar industri film saja, tapi juga berpengaruh pada UMKM lainnya,” ujar Djonny.

Senada dengan Djonny, Ketua Umum Pafindo, Bagiono Prabowo menyatakan, bioskop sangat terkontrol jika dibandingkan angkutan umum seperti bus, kereta api dan pesawat terbang.

Ketua PWI Seksi Musik Film dan Lifestyle, Irish Riswoyo mengatakan, bantuan sembako saja tidak menyelesaikan masalah.

“Begitu juga jika dibandingkan dengan bandara, stasiun, pasar dan mal. Karenanya GPBSI mengharapkan kami ikut diajak diskusi mengenai penerapan protokol kesehatan di bioskop,” ucap Bagiono yang juga menjadi pembicara dalam diskusi.

Sedangkan dari sisi industri musik yang juga merasakan dampak dari pandemi Covid-19, CEO Deteksi Production Harry ‘Koko’ Santoso mengungkapkan, sejak April hingga Agustus 2020 ini ada sekitar 750 ribu konser musik yang batal digelar. Industri musik juga nyaris tak berkegiatan.

“Kami tidak ingin terjebak dengan kondisi ini. Protokol kesehatan itu bukan sekedar pake masker, jaga jarak dan lainnya, tapi harus ada jalan keluarnya juga,” timpal Hary Koko.

Mengenai ratusan ribu pembatalan konser musik. “Pengertian konser itu tak hanya konser besar, tetapi seperti musisi yang tampil di café, hotel atau mereka yang tampil di panggung pernikahan itu juga konser namanya. Makanya catatan ada ratusan ribu konser yang batal dan mereka tak cukup hanya menerima bansos sembako ya?” seloroh Hary bersedih.

Senada dengan Hary Koko, CEO PT Media Musik ProAktif Agi Sugianto juga mengungkapkan kerisauannya. Selaku produser yang menaungi beberapa artis ternama seperti Trio Macan, ia akui dalam kondisi seperti ini  kita harus pintar-pintar mensiasatinya. Jika tidak, maka industri musik akan semakin tiarap.

“Kerisauan saya sebagai produser musik sama seperti apa yang dirasakan pak Djonny, jadi kita harus pintar mensiasati agar bisa bertahan. Penghasilan utama artis saya 80 persen berasal dari hasil konser. Jadi kalau mereka tidak ada konser, ya nggak ada pemasukan. Meski kita sudah mensiasati dengan cara digital, tetapi tetap saja 70 persen hasil digital tergantung dari hasil konser artisnya. Jadi, saya berharap masalah ini cepat selesai, dan dunia hiburan khususnya industri musik bisa kembali bergerak,” terang Agi.

Dari sisi musisi, Roy Jeconiah eks vokalis Boomerang, kini vokalis Jecovox menyatakan, setidaknya tiga kali dalam sebulan undangan manggung datang.

Dan dengan adanya pandemi ini, sudah enam bulan dirinya tak menerima job manggung. Ia pun mensiasatinya dengan menggelar konser virtual berbayar.

“Selama era New Normal ini saya sudah melakukan kegiatan bermusik kembali, yaitu dengan melakukan konser virtual berbayar. Seniman ini harus dihargai, karena itu profesi. Jadi meskipun konsernya virtual harus tetap berbayar dan tidak lagi berbentuk saweran donasi,” ucapnya.

Ia berpendapat, yang paling mendesak untuk saat ini perlu adanya cetak biru bagi show musik dalam skala apapun.

“Ini semua harus ada ujungnya, ada cetak biru bagi industri musik,” tandasnya.

Ketua Umum PARFI, Alicia Djohar pun mengaku jika pihaknya tak berdiam diri. PARFI sudah menginisiasi dan memfasilitasi pekerja seni dan film untuk bekerja sama dengan pemerintah daerah dalam mensosialisasikan aturan dalam era New Normal ini.

“Silakan ajukan pada kami, kita fasilitasi untuk berkoordinasi dengan Pemda-Pemda masing-masing,” ucap Alicia.

Ketua PWI Jaya, Sayid Iskandar mengaku mengapresiasi langkah yang dilakukan PWI Seksi Musik Film dan Lifestyle yang bekerjasama dengan Jambuluwuk Resort Puncak, GPBSI, Warner Music, Pafindo, Nagaswara, Musik ProAktif, Balihai, Keith Rustam, Sandec Sahetapy, Bogor Rain Cake, PT. STI, Deteksi Production dan PT. Bromo Noto Negoro ini.

“Saya bangga dengan acara yang diinisiasi PWI Jaya Seksi Musik Film dan Lifestyle ini, apalagi yang hadir  narasumber hebat yang memang kompeten dibidangnya masing-masing. Terima kasih buat para narasumber yang sudah hadir, semoga diskusi ini menghasilkan banyak manfaat bagi kita semua,” ujar Sayid.

Sebagai penutup, Ketua PWI Seksi Musik Film dan Lifestyle, Irish Riswoyo menyebut, hasil dari diskusi ini akan dibawa kepada stakeholder dan para pemangku kebijakan yang berwenang dalam industri hiburan.

“Semoga akan berpengaruh dan mampu menggairahkan kembali industri hiburan yang kini tengah prihatin. Semoga pula ada solusi terbaik agar para pekerja seni dan pengusaha hiburan bisa segera beraktifitas kembali di era New Normal ini. Bantuan sembako saja tidak menyelesaikan masalah,” tegas Irish kepada Trenzindonesia.com menutup obrolan sambil mengajak menikmati organ tunggal dengan biduan Lina Geboy yang mendendangkan Mujair Geboy. Tarik maaang….. [Foto-foto: Budy Santoso/KPL, Agus Blues Asianto/FORWAN].

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.