Trenz Indonesia
News & Entertainment

Fathul Aminudin Aziz, Pencetus Pesantren Berbasis Teknologi

62

Jakarta, Trenz News | Peran lembaga pendidikan sebagai “dapur” yang menciptakan tenaga terdidik sangat vital. Di era digital, pesantren sebagai tempat menuntut ilmu juga harus adaptif dengan teknologi.

“Kehadiran teknologi di pesantren diharapkan dapat memberikan manfaat lebih bagi para santri. Untuk itu saya membuat inovasi Menimang Pesantren, Menyemai Teknologi untuk pemahaman tentang pentingnya teknologi di lembaga pendidikan seperti pesantren,” ujar Fathul Aminudin Aziz saat penganugerahan ASN 2020 beberapa waktu lalu.

Fathul menyampaikan di pondok pesantren, para santri tak hanya diajarkan mengaji tetapi juga didorong untuk bekreasi dan mengembangkan diri. Mulai dari bercocok tanam, berwirausaha, kesenian, dan skill lainnya.

Mereka dibentuk untuk menjadi manusia kritis yang bisa melakukan berbagai profesi dalam berbagai situasi dan kondisi. “Tidak hanya menjadi ahli agama, kedepannya mereka bebas memilih apa yang menjadi passion nya dengan tetap memegang kaidah-kaidah Islam,” ungkapnya.

Di luar kesibukannya sebagai ASN di IAIN Purwokerto, Fathul Aminudin Aziz adalah pengasuh pesantren El Muslim di Pesahangan, Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Cilacap. Di pesantren ini, tidak hanya mengaji tetapi juga berlatih bertani secara intensif. Mereka juga diajak untuk terjun langsung ke lahan pertanian, yang juga berfungsi sebagai laboratorium lapangan.

Fathul meyakini pertanian dan kemampuan IT ini akan mendongkrak sektor pertanian di masa mendatang. “Harapannya, generasi petani di masa mendatang memiliki keahlian yang mumpuni, tidak asal bertani tanpa perencanaan,” ucapnya.

Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia juga tak menghentikan langkahnya untuk berinovasi. Ia menciptakan inovasi “Ngaji on The Bus” untuk mahasiswa di Purwokerto dan revitalisasi tanaman pandan, bahan baku perajin tikar masyarakat di Pegunungan Cilacap.

Sebagai ASN yang bergerak di bidang pendidikan, salah satu yang ia perjuangkan adalah pendidikan murah dan mendekatkan institusi pendidikan ke pedesaan. Alasannya sederhana, angka anak putus sekolah di pedesaan masih tinggi. Mahal dan jauhnya akses pendidikan untuk anak-anak desa menjadi penyebab utamanya.

Kedepan, Fathul akan melakukan pengembangan terhadap dunia pendidikan yang bersentuhan dengan masyarakat langsung, terutama masyarakat pegunungan dan pedesaan serta masyarakat tidak mampu. “Saya akan mengembangkan sentuhan-sentuhan itu agar ASN keberadaannya betul-betul dirasakan masyarakat,” tutupnya. (dit/ HUMAS MENPANRB) | Foto: Dok. Humas MenpanRB & Google.co.id

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.