Trenz Indonesia
News & Entertainment

Hari Lahir Soekarno, 6 Juni 1901

177

BOGOR, Trenzindonesia | Hari lahirku ditandai oleh angka serba enam. Tanggal enam bulan enam. Adalah menjadi nasibku yang paling baik untuk dilahirkan dengan bintang Gemini, lambang kekembaran. Dan memang itulah aku sesungguhnya. Dua sifat yang berlawanan. Aku bisa lunak dan aku bisa cerewet. Aku bisa keras laksana baja dan aku bisa lembut berirama. Pembawaanku adalah paduan daripada pikiran sehat dan getaran perasaan. Aku seorang yang suka mema’afkan, akan tetapi akupun seorang yang keras-kepala. Aku menjebloskan musuh-musuh Negara kebelakang jerajak-besi, namun demikian aku tidak sampai hati membiarkan burung terkurung didalam sangkar….

Nama kelahiranku adalah Kusno. Aku memulai hidup ini sebagai anak yang penyakitan. Aku mendapat malaria, disenteri, semua penjakit dan setiap penjakit. Bapak menerangkan, “Namanya tidak cocok. Kita harus memberinya nama lain supaya tidak sakit-sakit lagi.” Bapak adalah seorang yang sangat gandrung pada Mahabharata, cerita klasik orang Hindu jaman dahulu kala.

Aku belum mencapai masa pemuda ketika bapak menyampaikan kepadaku, “Kus, engkau akan kami beri nama Karna. Karna adalah salah-seorang pahlawan terbesar dalam cerita Mahabharata. Kalau begitu tentu Karna seorang yang sangat kuat dan sangat besar,” aku berteriak kegirangan. “Oh, ya, nak,” jawab bapak setuju. “Juga setia pada kawan-kawannya dan keyakinannya, dengan tidak mempedulikan akibatnya. Tersohor karena keberanian dan kesaktiannya. Karna adalah pejuang bagi negaranya dan seorang patriot yang saleh.”

Bukankah Karna berarti juga ‘telinga’?” aku bertanya agak kebingungan. “Ya, pahlawan-perang ini diberi nama itu disebabkan kelahirannya. Dahulu kala, sebagaimana dikisahkan oleh Mahabharata, ada seorang puteri yang cantik. Pada suatu hari, selagi bermain-main dalam taman, puteri Kunti terlihat oleh Surya Dewa Matahari. Batara Surya hendak bercinta-cintaan dengan puteri itu, oleh sebab itu dia memeluk dan membujuknya dengan keberanian dan cahaya panasnya. Dengan kekuatan sinar cintanya, puteri itupun mengandung sekalipun masih perawan. Sudah tentu perbuatan Dewa Matahari terhadap perawan yang masih suci itu diluar perikemanusiaan dan menimbulkan persoalan besar baginya. Bagaimana caranya mengeluarkan bayi tanpa merusak tanda keperawanan puteri itu. Dia tidak berani memetik gadis itu dengan memberikan kelahiran secara biasa. Apa akal…. Apa akal Ah, persoalan yang sangat besar bagi Batara Surya. Akhirnya dapat dipecahkannya, dengan melahirkan bayi itu melalui telinga sang puteri. Jadi, karena itulah pahlawan Mahabharata itu dinamai Karna atau ‘telinga‘.”

Sambil memegang bahuku dengan kuat bapak memandang jauh kedalam mataku. “Aku selalu berdo’a,” dia menyatakan, “agar engkaupun menjadi seorang patriot dan pahlawan besar dari rakyatnya. Semoga engkau menjadi Karna yang kedua.” Nama Karna dan Karno sama saja. Dalam bahasa Jawa huruf “A” menjadi “O”. Awalan “Su” pada kebanyakan nama kami berarti baik, paling baik….

(Biografi SUKARNO, Penyambung Lidah Rakyat- Cindy Adam)

Vayireh Sitohang

Foto: Google.com

Leave A Reply

Your email address will not be published.