Jakarta, Trenz Music I Ini adalah konser kedua persembahan cinta Jodhi Yudono untuk belahan jiwanya, Violi Nurlila, yang meninggal pada 16 Februari 2017 silam.
Jika pada konser pertama tahun lalu di Balai Soedjatmoko, Solo, Jawa Tengah, mengusung judul “Cerita Buat Lila“, yang mengaduk-aduk emosi penonton, maka untuk konser kali ini Jodhi mengusung tema berbeda.

“Sepasang Kupu-Kupu Ungu“, tajuk dari Konser Nyanyian Puisi Jodhi Yudono yang akan digelar Sabtu16 Februari 2019 di Museum Tekstil Jakarta Pusat, memadukan unsur nyanyi, musik, dan puisi yang dipercantik dengan perkisahan tentang perjalanan cinta dan juga tentang dunia kain.
Yang menarik dari konser ini, karena keterlibatan musisi tekno yang memungkinkan konser kali ini diisi peragaan busana dari kain-kain koleksi almarhumah Violi. Juga ikut melibatkan beberapa sahabatnya sebut saja; Pamamitha Rusady, Ira Wibowo, Syaharani, Sha Ine Febriyanti, Harri Sabar, dan Feryanti Faisal.
Konser yang digelar pada sore hari di Taman Museum dengan hiasan kain-kain koleksi almarhumah, menjadi tontonan yang indah.

“Sepasang Kupu-kupu Ungu” adalah salah satu tradisi konser tunggal Jodhi setiap tahun yang mengangkat berbagai tema. Konser sebelumnya adalah “Betapa Cinta“, “Baduy Kembali“, “Dendang Sajak Penyair Minang“, “Aku, Chairil, dan Rendra” dan lainnya.
Siapa Jodhi Yudono
Seorang musisi yang juga penulis seni dan budaya, kelahiran di Cilacap 16 Mei 1963. Mulai menyanyikan puisi sejak akhir 80-an di berbagai kota dan negara dengan label “Nyanyian Puisi Jodhi Yudono“.
Pernah membuat album kompilasi berjudul “Satu Hati” bersama Iwan Fals, Doel Sumbang, Trie Utami dan lain lain. Sedangkan album “Angin Pun Berbisik” bersama Endah dan Reza. Selama perjalanan karir bermusik, pernah menelurkan mini album “Kata Hati” (2012). Di tahun 1993 pernah menggarap ilustrasi musik Sinetron “Lelaki Dari Tanjung Bira“.
Kini, selain bekerja sebagai wartawan di kompas.com dan menjadi Ketua Umum Ikatan Wartawan Online, ia mengisi hari-harinya menulis puisi dan novel. Sementara itu, dalam hal berkesenian, khususnya musik, Jodhi tidak saja mendendangkan puisi-puisinya di atas panggung, lebih jauh membawa karya puisi untuk di dendangkan di rumah kawan-kawannya yang tengah sakit.

“Pilihan ini saya lakukan, karena saya percaya dari puisi dan denting suara gitar punya semacam ruh sebagai terapi kesembuhan, selain sebagai penghiburan,” ungkap Jodhi serius. (ASA / TrenzIndonesia) I Foto-foto: Dok Jodhi Yudono.
