Trenz Indonesia
News & Entertainment

Kita Tak Bisa Terhindari dari Mikroplastik

287

Jakarta, Trenz Edutainment l – Dalam beberapa tahun terakhir atau setidaknya dua tahun terakhir, mikroplastik menjadi isu hangat terutama terkait dengan air minum dalam kemasan. Pada 2018, riset yang dilakukan peneliti dari Departemen Kimia, State University of New York, Amerika Serikat yang dipublikasikan oleh banyak media menemukan bahwa 93 persen air minum dalam kemasan botol plastik mengandung mikroplastik.

Hasil pengujian atas 259 botol air minum dalam kemasan dari 11 merek yang dijual di delapan negara, termasuk di antaranya Indonesia, ditemukan partikel mikroplastik berukuran antara 6,5 mikrometer hingga 100 mikrometer. Kandungan mikroplastiknya bisa mencapai 10.390 partikel per liternya.

Pada beberapa hari lalu, Greenpeace Indonesia bekerja sama dengan Laboratorium Kimia Anorganik Universitas Indonesia juga merilis laporan hasil pengujian kandungan mikroplastik pada air minum dalam kemasan. Pengujian mikroskospik ini secara khusus menyoroti kemasan galon sekali pakai yang beredar di kawasan Jabodetabek.

Hasil pengujian tersebut menunjukkan bahwa air minum dalam kemasan galon sekali pakai mengandung partikel mikroplastik berukuran rata-rata 25,57 mikrometer sampai 27,06 mikrometer. Sementara itu, kandungannya mencapai rata-rata 80 juta hingga 95 juta partikel per liternya.

Analisis konsentrasi atau beratnya menunjukkan air minum dalam kemasan galon sekali pakai mengandung paling banyak 5 mg per liter.

Laporan itu juga mengungkap bahwa orang Indonesia rata-rata mengonsumsi air minum dalam kemasan, baik itu dalam kemasan botol, galon isi ulang, maupun galon sekali pakai sebanyak 1,89 liter per hari. Itu berarti orang Indonesia terpapar mikroplastik rata-rata sebanyak 0,37 miligram sampai 9,45 miligram per hari.

Dari kedua penelitian di atas, muncul dua pertanyaan. Pertama, apa dampak paparan mikroplastik terhadap kesehatan manusia dalam jangka panjang. Kedua, adakah alternatif air minum dalam kemasan yang bebas dari mikroplastik sama sekali?

Imbauan BPOM

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada 2018 pernah merilis pernyataan bahwa belum ada studi ilmiah yang membuktikan bahaya mikroplastik bagi tubuh manusia. Komite ahli gabungan FAO dan WHO sejauh ini juga belum mengevaluasi toksisitas mikroplastik terhadap kesehatan manusia.

BPOM karenanya mengimbau konsumen tetap tenang karena keamanan dan mutu produk air minum dalam kemasan yang beredar di Indonesia sudah diatur oleh Standar Nasional Indonesia (SNI).

Pukovisa Prawiroharjo, ahli saraf dari Universitas Indonesia, yang berbicara dalam webinar yang diadakan Greenpeace, juga mengakui belum adanya uji klinis di dunia ini atas dampak paparan mikroplastik terhadap kesehatan manusia.

Itu berarti sejauh ini yang mengemuka barulah sebatas asumsi bahwa akumulasi mikroplastik dalam tubuh manusia dalam jangka panjang bisa menyebabkan gangguan kesehatan.

WHO sendiri, telah menetapkan ambang batas berbahaya paparan mikroplastik, yakni 20 miligram per liter. Jika kita melihat hasil penelitian yang menunjukkan bahwa air minum kemasan dalam galon sekali pakai paling banyak mengandung 9,45 miligram per liter, maka kandungan kontaminan tersebut masihlah di bawah ambang batas berbahaya yang disampaikan WHO.

Tak ada minuman kemasan yang sama sekali bebas mikroplastik

Dari pengujian yang dilakukan oleh Laboratorium Kimia Anorganik Universitas Indonesia, kita juga bisa mengetahui bahwa tidak ada air minum dalam kemasan yang sama sekali terbebas dari partikel mikroplastik. Artinya, mikroplastik adalah kontaminan yang mau tidak mau ada dalam air minum yang dikemas dalam wadah berbahan plastik.

Bahkan, pengujian itu juga mengungkap bahwa sumber air di alam (UI menguji sampel dari Situ Gunung, Puncak, dan Sentul) tetap mengandung kontaminan mikroplastik meskipun dalam jumlah yang lebih kecil, yakni 32,5 juta partikel mikroplastik per liter dengan ukuran rata-rata antara 19,7 mikrometer hingga 2.106 mikrometer.

Agustino Zulys, peneliti Universitas Indonesia, mengatakan bahwa kita tidak bisa terhindar dari meminum air yang ada mikroplastiknya.

Jika kita mau terhindari dari mikroplastik, menurut Agustino, kita harus berepot-repot menyuling air dan kemudian menempatkan air hasil sulingan itu di wadah yang tidak terbuat dari plastik. Sebab, meskipun kemasan plastik terlihat rigit, plastik dalam ukuran mikroskopik adalah untaian-untaian polimer yang karena pergeseran dan panas bisa runtuh dan kemudian berada di dalam air itu sendiri.

Kemudian ada beberapa hal yang hilang dalam pemberitaan berbagai media terkait isu mikroplastik dalam air minum dalam kemasan. Pertama, belum ada pengujian atau penelitian tentang dampak air minum dalam galon isi ulang. Fakta ini diakui Agustino Zulys.

Meskipun demikian, dia memperkirakan galon isi ulang berpotensi mengandung kontaminan mikroplastik yang lebih banyak daripada wadah sekali pakai. Ini karena galon isi ulang mengalami penggunaan berulang-ulang, sehingga proses peluruhan plastiknya lebih banyak.

Jadi, isu mikroplastik tidak semata-mata terkait dengan kemasan galon sekali pakai yang kebetulan bahannya sama dengan kemasan botol. Tapi, ini terkait dengan seluruh air minum yang dikemas dalam wadah berbahan plastik.

Kita juga tahu bahwa kemasan galon isi ulang mengandung Bisphenol A (BPA) yang sudah jelas berbahaya bagi tubuh manusia. BPOM mengakui fakta ini meskipun menyatakan bahwa kandungan BPA dalam galon isi ulang masih di bawah ambang batas berbahaya.

Pertanyaannya, apakah kita harus menolak galon sekali pakai dan menerima galon isi ulang hanya karena galon isi ulang bisa digunakan kembali? Konsep daur ulang pun tidak terbatas pada “bisa digunakan kembali” tapi mencakup “bisa diproduksi kembali” menjadi produk baru yang sama atau produk baru yang berbeda.

Pada akhirnya, kita tidak bisa terlepas dari kontaminan mikroplastik karena bukan hanya penggunaan wadah plastik yang bisa memicu munculnya mikroplastik tapi juga bahkan sumber-sumber air yang ada di alam pun mengandung mikroplastik.

Yang perlu kita lakukan menghadapi isu ini tampaknya adalah berusaha semaksimal mungkin agar kandungan kontaminan tersebut tetap berada di bawah ambang batas berbahaya.

Tips aman mengkonsumsi air minum dalam kemasan

1. Perhatikan informasi sumber mata air yang diambil.
Ada beragam jenis air minum kemasan, mulai dari gelas, botol, hingga galon. Namun, yang paling banyak dikonsumsi adalah air mineral botolan. Air mineral yang berkualitas baik berasal dari sumber air bawah tanah atau mata air pegunungan yang mengandung mineral alami.

Seperti namanya, air mineral mengandung beragam mineral yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh, seperti kalsium, kalium, natrium, fluoride, dan magnesium. Selain sumber airnya, proses pengolahan dalam produksi air mineral juga perlu diperhatikan.

Idealnya, air mineral kemasan sudah diolah dengan teknologi canggih, sehingga kandungan mineralnya tetap terjaga dan tidak terkontaminasi oleh kuman maupun bahan kimia berbahaya

2. Cek standarisasi yang diterapkan dalam proses produksi hingga. distribusinya.Pastikan produk air minum kemasan yang Anda adalah produk air minum yang telah mendapat izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Halal oleh LPPOM MUI.

3. Perhatikan kondisi kemasannya.
Pastikan AMDK yang hendak Anda konsumsi dalam kondisi baik, tidak bocor, masih tersegel dengan rapat dan terlindungi dari paparan sinar matahari langsung.

Kemasan yang rusak bisa menandakan produk tersebut sering terpapar suhu panas dalam jangka waktu lama atau bahkan terpapar zat kimia berbahaya, sehingga kualitas air dan keamanannya tidak lagi terjamin.

Pilihlah produk dengan kemasan yang terbuat dari bahan berkualitas tinggi dan ramah lingkungan. Umumnya, air minum kemasan terbuat dari bahan plastik sekali pakai, artinya botol kemasan tidak boleh digunakan kembali meski kondisinya masih baik.

4. Perhatikan warna, rasa dan bau airnya.
Air yang aman dikonsumsi adalah air yang tidak berwarna atau terlihat jernih, tidak berbau, tidak memiliki rasa. Hindari mengonsumsi air minum yang tampak keruh atau berbau tidak sedap karena kemungkinan besar air tersebut sudah terkontaminasi kuman atau bahan kimia berbahaya yang bisa menimbulkan penyakit.

5. Cek masa kadaluwarsanya.
Tidak seperti air minum yang dimasak, air mineral kemasan memiliki masa kedaluwarsa. Sebelum membelinya, cek terlebih dahulu tanggal kedaluwarsa yang tertera pada kemasan.

Air yang sudah terlalu lama dalam kemasan mungkin saja sudah menurun kualitasnya dan tidak layak untuk dikonsumsi. Oleh karena itu, hindari membeli air minum kemasan yang sudah mendekati atau melewati tanggal kedaluwarsa.

***

Leave A Reply

Your email address will not be published.