Trenz Indonesia
News & Entertainment

Musim Hujan + Musim Banjir, Flyover Jakarta, Mangkrak?

209

Jakarta, Tenz Corner | Hujan ekstrem mengguyur Jakarta dan sekitarnya. Banjir ekstrem pun melanda Jakarta dan sekitarnya. Berbagai wilayah tentu saja kebanjiran. Sejumlah rumah terendam. Sejumlah jalan tidak bisa dilintasi. Sejumlah gardu listrik sengaja dimatikan Perusahaan Listrik Negara (PLN), untuk mencegah bahaya berkelanjutan. Dan, para politisi asyik berakrobat politik. Antara lain, memanfaatkan isu hujan dan banjir, untuk meraih panggung politik.

Sebagai warga biasa, saya geram mencermati ulah para politisi tersebut. Reaksi mereka nyaris tidak ada bedanya dengan reaksi orang kebanyakan. Padahal, mereka adalah orang-orang yang terpilih, yang dibayar oleh negara dari pajak rakyat. Mereka seharusnya menjadi orang yang visioner, yang berpikir serta bertindak secara terencana. Hujan tentu tidak datang tiba-tiba, karena kita punya lembaga yang khusus mencermati perubahan cuaca.

Dwikorita Karnawati selaku Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut, cuaca ekstrem pertama kali tercatat pada tahun 1918, kemudian tahun 1950. Ada selang 32 tahun setelah cuaca ekstrem yang pertama. Selanjutnya, cuaca ekstrem kembali terjadi pada tahun 1979, kemudian tahun 1996. Selangnya hanya 17 tahun. Lalu, cuaca ekstrem terjadi lagi pada tahun 2002, enam tahun kemudian. Menyusul cuaca ekstrem pada tahun 2007.

Cuaca ekstrem selanjutnya hanya berjarak lima tahun yakni pada tahun 2013. Kemudian, berjarak semakin pendek, yakni cuaca ekstrem pada tahun 2014 dan tahun 2015. Yang teranyar ya tahun 2020 ini. Pertanyaan saya, adakah para politisi concern pada cuaca ekstrem tersebut? Adakah agenda nasional yang khusus menyikapi cuaca ekstrem tersebut? Bertahun-tahun, cuaca ekstrem hanya dipandang sebagai hal biasa, seakan tak peduli pada data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tersebut.

Para politisi yang asyik berakrobat politik dengan isu banjir belakangan ini, justru menunjukkan kebodohan mereka. Semakin menunjukkan bahwa mereka tidak bekerja berbasis data. Apakah karena mereka politisi yang baru duduk di Senayan? Ini datanya. Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Majelis Permusyawaratan Rakyat RI periode 2014-2019, sebanyak 45 persen adalah wajah-wajah lama. Sementara, anggota DPR RI periode 2019-2024 terpilih, sebanyak 50,26 persen merupakan petahana.

Jelas sekali bahwa selama bertahun-tahun, mereka tidak peduli pada cuaca ekstrem. Mereka tidak peduli pada akibat yang dialami warga karena cuaca ekstrem. Buktinya, baru kini para politisi itu sok sibuk dengan Pansus Banjir. Sebagai warga biasa, juga sebagai pengguna transportasi publik, saya concern pada hujan dan banjir yang berdampak pada transportasi publik. Kenapa? Karena ini menyangkut kepentingan orang banyak, orang kebanyakan, serta warga biasa seperti saya.

Di lintasan Jakarta-Bogor, ada dua infrastruktur transportasi publik, yang sedang dikerjakan: Flyover di Perlintasan Tanjung Barat dan Flyover di Perlintasan Lenteng Agung-Kampus IISIP. Di musim hujan dan musim banjir ini, saya beberapa kali mendatangi kedua tempat tersebut. Datang sebagai warga biasa. Saya melihat, para pekerja terus bekerja, meski musim hujan. Kedua wilayah itu memang tidak terkena banjir. Semoga cuaca ekstrem tidak membuat pekerjaan mereka jadi molor, lalu mangkrak. (Isson Khairul) | Foto: Google.co.id

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.