Trenz Indonesia
News & Entertainment

PING..! Nanggala… One Ping Only..! – 72 Jam Hampir Berlalu

308

Oleh: Gunawan Wibisono*

Jakarta, Trenz Corner I Sudah tiga hari ini Sonar Aktif terus ditembakkan ke dasar laut Bali Utara, tempat terakhir KRI Nanggala 402. Nanggala 402 hilang kontak, tetapi tetap tak ditemukan sosoknya. Padahal badannya panjang, sekitar 60 meter dan lebarnya 6 meter. Nihil! Kemana gerangan Nanggala?

Apa itu Sonar? Mudahnya, Sonar adalah sistem untuk mendeteksi obyek di bawah air dengan menggunakan gelombang suara. Ada dua macam Sonar: Pasif dan Aktif.

Ambil simplenya gini. Anda masuk ke dalam kolam renang, lalu diam dan mendengarkan seseorang yang sedang berenang di dekat Anda, jejak suaranya khas. Atau dua batu dibenturkan di dalam air, juga memiliki suara unik. Nah, telinga dan otak Anda saat itu sudah bertindak sebagai Sonar Pasif, sebagai receiver, yang menangkap gelombang suara yang merambat di dalam air.

Kalau Sonar Aktif, ini harus pakai alat lagi, yakni Anda membuat suara yang tajam, kencang dan terarah di dalam air. Saking tajamnya bila Anda di dalam kapal selam akan terdengar keras oleh telinga: PING!

Ingin mendengar suara Ping! yang mantap? (tonton film The Hunt for Red October-nya Sean Connery, pada menit ke 98 dan 100 – dialog: “Ping! Vassily, one Ping only!“)

Nah, setelah PING! dilepas, segera pakai headphone dan ikuti aliran suara tadi. Merembet ke arah mana? Dan membentur apa saja?

Jangan kuatir, peralatan Sonar modern sudah dilengkapi dengan bank data berisi jutaan data suara. Komputer akan membantu menjawab: gelombang suara tadi menabrak dasar laut (pasir, karang dan lain-lain, akan disebutkan oleh komputer) atau komputer menjawab: “gelombang menabrak obyek mirip cerutu!

Nah, bisa jadi itu adalah Nanggala!

Jangan lupa, bantuan komputer tadi hanya sebatas ‘memberi saran’, second opinion, back-up, banyak kapal masih mengandalkan ketajaman telinga manusia. Dan Juru Sonar yang hebat langsung bisa tahu obyek apa saja yang ada di depan dan berapa meter jaraknya.

Nah, Sonar aktif seperti penjelasan tadi yang terus ditembakkan ke dasar laut. Berharap sekali gelombang, akan terbelah oleh bidang sepanjang 60 meter. Itu pasti Nanggala!

Seluruh Indonsia bahkan dunia, saat ini, berharap sekali Nanggala segera ditemukan. Pasalnya, cadangan oksigen di dalam kapal akan habis 72 jam (3 hari) setelah kapal dinyatakan hilang kontak.

Jadi, bila kontak terakhir kapal adalah Rabu, 21 April, pukul 04.25WIB (bukan 03.00WIB seperti kabar sebelumnya), maka cadangan oksigen kasel dalam keadaan darurat akan habis di hari Sabtu, 24 April, pada pukul 04.25!

Bila tulisan ini saya turunkan tepat tengah malam menuju Sabtu (24/4) dinihari, secara teori, apa boleh buat, kru yang masih ada di dalam Nanggala (bila masih ada) akan kehabisan oksigen sekitar 4-5 jam lagi.

Sesungguhnya, langkah apa saja yang bisa dilakukan oleh kapten kapal untuk -memberi tahu pada dunia luar- kalau ia sedang menghadapi keadaan darurat?

Bila kasel ada di atas permukaan air relatif lebih mudah, ia akan mengirim kabar genting melalui radar. Gelombang radar secara cepat akan ditangkap kapal lain yang dekat.

Bila kasel di dalam air, karena gelombang radar tak bisa masuk ke dalam air, maka bisa dilakukan beberapa cara: membuang BBM atau melepas cairan berwarna (bisa berwarna hijau mengkilat), agar terlihat jelas di atas permukaan laut atau bisa juga mengirim ‘tembakan’ Sonar Aktif secara terus menerus. Gelombangnya yang kuat pasti bisa ditangkap kapal terdekat.

Sebetulnya, di setiap kapal selam selalu membawa pelampung darurat (buoy). Pelampung ini biasanya ditaruh di bagian atas kapal (depan dan belakang), yang bila keadaaan darurat di dalam air akan ‘menembak’ ke atas menuju permukaan air dengan cepat.

Pelampung ini bekerja secara otomatis bila kapal mengalami kebocoran dan banjir atau ada kebakaran. Prinsip kerjanya mirip air bag di dalam mobil yang akan menyebul keluar bila mengalami benturan keras.

Antara kasel dan pelampung tadi terhubung kabel baja, dan antena di atas pelampung akan mengirim sinyal darurat. Beberapa malah lebih canggih, karena bisa melakukan sambungan telepon.

Masalahnya, sifat kapal selam adalah untuk sembunyi. Ia bisa digunakan untuk mengintai (kegiatan intelijen) atau menyerang dengan mendadak bak ninja di dalam gelap.

Karenanya, di dalam latihan perang, pelampung darurat ini oleh beberapa aturan komandan malah sengaja dilas! Disegel, agar tidak menembak ke atas.

Tindakan penyegelan ini dilakukan bisa jadi, karena kapal sedang latihan mengatasi kebakaran, menangulangi kebanjiran, atau latihan menembak torpedo.

Ingat Kursk? Kasel bertenaga nuklir milik Rusia yang meledak di bagian ruang terpedo, 12 Agustus 2000? Nah, posisi kapal tak bisa segera ditemukan karena, pelampung tadi disegel.

Kursk saat itu sedang uji coba mengisi terpedo baru Tipe 65 yang memiliki daya ledak hebat, yang bisa menenggelamkan tanker atau kapal induk dengan sekali tembak.
Masalahnya, kru yang mengelas picu terpedo ceroboh, maklum terpedo baru karena panas wadah berisi cairan pembakar roket bocor, panasnya dengan cepat menyambar minyak tanah yang memang dipakai sebagai bahan bakar torpedo. Tak ayal terpedo pun meledak. Menewaskan kru di ruang torpedo.

Letusan pertama disusul ledakan kedua yang lebih keras lagi, yang menurut penyelidikan, setara 2 ton TNT! Getarannya bahkan dirasakan oleh kapal permukaan yang berada di dekat Kursk. Seismograf, alat pencium gempa, milik Norwegia malah merekam 3 kali ledakan, terkuat setara 4,2 SR!

Tindakan cepat segera dilakukan. Pintu kompartemen langsung ditutup. Tapi karena bagian terpedo kasel jebol, mirip kaleng sarden dibelah, dengan cepat Kursk karam ke dasar laut. Sebenarnya masih ada kru yang selamat dan menanti bantuan. Kapal penolong Inggris yang kebetulan ada di dekat sana siap membantu tapi petinggi AL Rusia gengsi untuk memberi ijin. Akhirnya presiden Putin memberi lampu hijau 7 hari setelah kejadian, dan sudah terlambat. 118 kru gugur.

Kembali ke KRI Nanggala 402. Dikabarkan kasel itu juga sedang latihan terpedo SUT (bukan dari istilah SHOOT, menembak, tetapi SUT dari Surface and Underwater Target, menembak sasaran di atas dan di bawah permukaan laut).Pukul 03.46WIB KRI Nanggala 402 melakukan penyelaman. Pukul 04.00WIB dilakukan penggenangan ruang peluncur terpedo dan 04.25WIB adalah komunikasi Terakhir dengan kasel itu.

Apa yang terjadi sesungguhnya?

Apakah insiden Kursk juga terjadi pada Nanggala? Tak ada yang tahu, kasel belum ditemukan, jadi belum ada investigasi. Yang jelas, menurut pemangku kepentingan di AL, terpedo SUT pernah dilakukan sebelumnya oleh Nanggala, dan sejauh ini tak mengalami masalah.

Lalu, apa yang terjadi? Mari kita ‘menyelam’ lebih dalam. Bila kita menyimak berita yang beredar, kita bisa menangkap sinyal yang disampaikan secara melipir, ini:

TNI AL duga Nanggala ada di kedalaman 600-700 meter” (CNN Indonesia– Rabu malam, 21/4, 20.04WIB).

Mari kita telaah. Nanggala adalah kapal yang didisain untuk beroperasi di kedalaman 250 meter. Itu maksimal. Seperti speedometer mobil, kecepatan maksimal misalnya 200 km/jam, kita tak pernah menginjak gaspol. Berbahaya. Maka, kita membuat batasan sendiri.

Begitu juga kasel. Di masa damai kasel Amerika dibatasi hanya menyelam sekitar ¾ nya. Misalnya kemampuan 500 meter, maka ia hanya boleh ‘bermain’ di sekitar 375 m – 400 m saja. Inggris juga sama. Jerman malah separuh kekuatan.

Lalu, mengapa Nanggala sampai bisa masuk ke laut sedalam itu? Lambungnya pasti jebol menahan tekanan lebih 60-70 bar. Itu dua kali lebih daya tahannya. Apakah Nanggala hanyut terbawa arus, dan masuk palung laut? Karena sebab apa?

Berita kedua: “Kapal Selam Nanggala Dalam Posisi Diam, Tak Ada Suara” (CNN Indonesia, Jumat 23/4, pukul 10.45WIB).

Itu bisa berarti buruk. Tak ada yang bisa bertahan. Sebab, sisa satu orang saja, ia masih bisa mengirim sinyal: PING!

PING! Nanggala, one PING! only!” – akankah terjadi keajaiban?

 

 (*) Penulis adalah wartawan, pemerhati sejarah Perang Dunia dan teknologi militer. Lahir di Tegal, pernah ‘kabur‘ ke Belanda dan ikut mendirikan beberapa tabloid hiburan.

Tulisan tersebut diambil dari lama facebook, Sabtu, 24 April 2021 – 00.48WIB, penulis masgoenawan64@gmail.com

Leave A Reply

Your email address will not be published.