Surabaya, Trenzindonesia.com – Di tengah gemerlap industri anggrek dunia yang terus tumbuh menjadi sumber devisa bernilai tinggi, Indonesia justru dinilai belum serius menggarap potensi kekayaan hayati tersebut.
Nama Indonesia masih muncul dalam berbagai pameran anggrek internasional, namun bukan lewat dukungan negara. Kehadiran itu lebih banyak dijaga oleh individu seperti Rudy M. Mintarto, pegiat anggrek asal Surabaya yang selama lebih dari 15 tahun konsisten mengikuti pameran internasional.
Tahun ini, Rudy kembali mewakili Indonesia dalam ajang pameran anggrek internasional di Genting Highland, Malaysia, yang berlangsung pada 3-10 Juni 2026 di Resort World Awana.
Dengan area display seluas 32 meter persegi, Rudy tak hanya menampilkan anggrek eksotis Indonesia, tetapi juga membawa identitas budaya Nusantara melalui visual jaranan, tari remo, gandrung Banyuwangi, hingga elemen arsitektur candi.
“Bagi saya ini bukan sekadar pameran bunga. Ini tentang menjaga nama Indonesia agar tetap diingat dunia,” kata Rudy.
Indonesia sebenarnya memiliki salah satu keragaman anggrek terbesar di dunia. Namun potensi ekonomi dari sektor tersebut belum tergarap optimal.
Data BPS pada 2019 menunjukkan ekspor anggrek Indonesia hanya mencapai sekitar 38 ribu kilogram dengan nilai Rp 3,2 miliar. Nilai itu tertinggal jauh dibanding Thailand maupun Taiwan yang mampu menghasilkan ratusan juta dolar AS per tahun dari industri anggrek.
Menurut Rudy, persoalan utama bukan terletak pada kualitas produk, melainkan lemahnya dukungan kebijakan.
Ia menyoroti regulasi ekspor yang masih rumit, terutama terkait aturan CITES dan prosedur karantina yang dinilai belum membedakan secara jelas antara anggrek hasil budidaya kultur jaringan dan tanaman yang diambil langsung dari alam.
Akibatnya, petani kecil kesulitan menembus pasar internasional meski produk yang mereka hasilkan legal dan berkualitas.
Sementara itu, negara pesaing seperti Thailand dan Taiwan justru membangun industri anggrek secara terintegrasi, mulai dari riset, teknologi rumah kaca, koperasi petani, hingga diplomasi perdagangan.
Indonesia juga dinilai belum memiliki branding global yang kuat untuk produk anggreknya sendiri.
“Kalau ada keberpihakan regulasi, petani anggrek Indonesia sebenarnya bisa bersaing di pasar dunia,” ujar Rudy.
Penulis: Rokimdakas / Kelana Peetrson
