Trenz Indonesia
News & Entertainment

Saiful SH, Kinerja Media Sosial Di nilai Mampu Bentengi Disharmonisasi

Tour Literasi Santri Nusantara

31

PALEMBANG, Trenzindonesia | Pengamat Kebijakan Publik, Saiful SH, menyampaikan cara kerja antara wartawan dan intelijen beda tipis pada tingkat penerima akhir atau user dari hasil laporan keduanya.

“Jika media mencari dan mengolah sebuah kejadian atau fakta yang kemudian disampaikan kepada publik, sedangkan dunia intelijen mencari mengolah tapi tidak untuk konsumsi publik, ” ucap Saiful dalam seminar ‘Pengembangan dan Ketahanan Media Sosial Pondok Pesantren Yang Berkelanjutan,”yang diselenggarakan di STAIDA Darussalam Oki Sumatera Selatan, Sabtu, 21 Januari 2023.

Saiful menjelaskan, profesi wartawan ataupun intelejen bukan sesuatu yang baru di Indonesia termasuk dalam dunia Islam. Kalangan santri sudah familiar dengan istilah muhabarat dan istihbaro, orang yang mengumpulkan informasi untuk kepentingan publik.

Dikatakanny, sejak zaman Rasulullah SAW kinerja wartawan dan ataupun intelejen sudah ada, sekarang di era modern ini menjadi pengetahuan yang ilmiah, saintifik dan sesuai perkembangan IPTEK. Ini bukan aktivitas mata-mata, menyebarkan keburukan orang lain, prasangka buruk dan penuh kecurigaan.

“Intelejen itu jangan dipersepsikan negatif tetapi aktivitas ilmiah sebagai dasar untuk analisa yang menghasilkan ilmu pengetahuan, yang kita semua bisa belajar. Dengan ilmu intelejen kita akan paham bagaimana mengetahui dan menganalisis ancaman kritis kepada negara, kemudian kasih rekomendasi kebijakan agar jadi tindakan dan keputusan” tegasnya.

Masih disampaikan Saiful, di era digital yang dipenuhi beragam informasi dari media sosial, ada potensi ancaman dan gangguan minor yang muncul dan berkembang dalam percakapan publik. Santri harus cerdas, memahami bahwa jaringan pengetahuan dan keilmuan yang mereka punya jadi bahan dasar menganalisa, kemudian bisa diambil tindakan dengan merujuk data, fakta dan berdasarkan ajaran Islam dan berasaskan Pancasila.

“Media sosial ini berdampak baik dan buruk, bisa dilihat dari ramainya dan keriuhan percakapan publik yang ada potensi menciptakan ketidakstabilan politik dan keamanan negara, ” ucapnya.

Oleh karenanya, Saiful juga menekankan fungsi media sosial sebagai harmonisasi dalam menjaga keutuhan NKRI.

Acara Seminar ‘Pengembangan dan Ketahanan Media Sosial Pondok Pesantren Yang Berkelanjutan’ tersebut juga turut dihadiri oleh Rektor Staida ERHAM AS ARY MM M,pd. dan para Dosen STAIDA Darussalam Tugu Mulyo. (PR/Fjr)

Leave A Reply

Your email address will not be published.