Trenz Indonesia
News & Entertainment

Solo Ride West to East. Jaman Sidabutar: Sempat Alami Accident, Tuhan Masih Sayang

672

Jakarta, Trenz otomotif I Ternyata tak sekedar isapan jempol, adanya kutipan yang seperti ini, “You don’t stop riding when you get old, you get old when you stop riding”. Adalah seorang bapak tua, Jaman Sidabutar (63 tahun) yang nyaris sulit untuk bisa melupakan kedekatannya dengan sepeda motor.  Diakui Jaman, penggunaan motor tak sebatas sebagai alat tranportasi di dalam kota. “Iya sesekali, biasanya menjelang week-end  saya bisa menempuh beratus kilometer. Kalau anak motor bilang touring ya?” kelakar Jaman yang sempat menyusuri pantai Jawa Barat 360° sekitar 1.500km, akhir Nopember 2020 silam.

Kali ini, Jaman atau Opung sapaan populis dikalangan VOID Chapter Bekasi, komunitas motor yang diikutinya, tatkala dijumpai Trenzindonesia.com di kawasan Limo’s Café, Grand Galaxy City, Blok RSA 05, No.76, Bekasi Selatan, Jumat (19/3) malam lalu, ia menceritakan, merencanakan akan kembali turing hingga ke Indonesia Timur. “Bila Tuhan mengijinkan, saya kepingin turing sampai ke Larantuka. Mohon doanya,” ungkap Opung sambil memberikan sticker dengan titel ‘Solo Ride West to East, Jakarta-Larantuka 6.000Km’.

Rabu (31/3) pagi, pukul 06.14WIB, lewat WhatsApp menerima pesan tertulis – “Halo om.. Bagaimana kabarnya, sy sdh lakukan perjalanan dan sek sdh pada hr ke 3, masih stay di Wonosobo..”. Mengetahui sang pengirim pesan Opung Sidabutar, maka Trenzindonesia.com tak mensia-siakan kesempatan untuk bisa memperoleh informasi sepanjang perjalanan dari Cinere, kota Depok, Jawa Barat  hingga posisi terakhir berada di seputaran telaga Sarangan, Jawa Timur ini.

Sehari sebelum solo ride, Senin (29/3), Opung mendapatkan kunjungan sang mentor turing, Bro Stephen Langintan dan istrinya di kediamannya.

Dalam pesan singkat WhatsApp, turing Solo Ride dengan menggunakan Kawasaki Versys X250cc, memakan waktu satu bulan penuh, Opung Sidabutar menceritakan, start di hari Senin (29/3), pukul 07.00 pagi. “Beruntung cuaca sangat bersahabat. Kalaupun sampai kena hujan, baru dari Purwokerto sampai Wonosobo saja,” ujarnya berterus terang menghabiskan dua hari bermalam di  kota Wonosobo, Jawa Tengah.

Pasalnya, cerita Opung, karena mengalami accident dengan pemotor lain yang menghindar, hingga berujung senggolan. “Beruntung motor yang menyenggol itu hanya membentur crash bar, jadi kerusakan motorku tak terlalu parahku. Kebetulan lagi jumpa dengan Bro Adit, rekan VOID Chapter Jateng. Jadi penanganan untuk mendapatkan bengkel tak terlalu sulit, tapi iya tetap saja membutuhkan waktu sehari,” papar Opung bersemangat.

Crash bar yang melengkung akibat kecelakaan, tengah dalam penanganan.

Masih sambung Opung, “Terima kasih Tuhan dan Tuhan masih sayang, artinya kedepan saya harus lebih berhati-hati lagi.”

embari menanti perbaikan kuda besi yang bernopol B-4362-NGE, Opunjg Sidabutar melakukan wisata kuliner, salah satunya icip-icip Mie Ongklok, makanan khas Wonosobo ini, sebelum melanjutkan perjalanan menuju Desa Butuh yang terkenal dengan sebutan Nepal van Java.  Tak sampai disini saja, Opung Sidabutar kembali mengeksplor Puncak Telomoyo yang memiliki ketinggian 1.300MDPL.

Puncak Telomoyo

Hingga memasuki hari ketiga, Opung Sidabutar menutup perjalanan di Telaga Sarangan yang berada di ketinggian 1.200 MDPL, yang berjarak sekitar 16km arah barat Kota Magetan. “Selesai mengeksplore wisata di Telaga Sarangan, karena juga sudah sore, pilihannya saya manfaatkan istirahat disini saja,” timpalnya seraya menebar tawa.

Leave A Reply

Your email address will not be published.