Jakarta, Trenzindonesia.com | Singapura adalah negeri kecil yang minim sumber daya alam, tentara dan kekurangan air. Sebagai negara baru yang lepas dari Malaysia, Singapura rawan mengalami serangan darat, laut dan udara dari musuh. Lepas dari Malaysia, Singapura bagaikan anak ayam kehilangan induknya. Untuk kebutuhan mendasar warganya saja seperti air, mereka harus “mengimpor” dari Johor.
Di tengah hidup serba kekurangan, orang Singapura menolak kalah. Mereka tetap optimis mampu menjadi pemenang. Di tengah keterbatasan, Singapura mempersiapkan asset terbaiknya yaitu manusia. Maka dimulai tiga program penting dalam mengelola dan mendorong manusia berkualitas.
Pertama, prioritas kepada pendidikan agar melahirkan manusia unggul, modern dan maju. Kedua, menciptakan disiplin dengan membuat denda tinggi kepada setiap pelanggaran hukum. Ketiga menciptakan budaya negara yang bebas korupsi.
Pendidikan, budaya, dan hukum menjadi tiga kalimat sakti yang mengubah Singapura hari ini. Dengan kesabaran meningkatkan SDM melalui pendidikan hasilnya baru terlihat beberapa tahun kemudian.
Memperbaiki mentalitas SDM maka dilakukan penguatan budaya disiplin yang berdampak positif. Setiap sudut Singapura, budaya disiplin seperti menyeberang jalan dan membuang sampah di tempat sampah terjadi di negeri tersebut. Dengan hukum yang tegas, Singapura menjadi salah satu negara yang bersih dari penyakit korupsi.
Zaman berganti, Indonesia bisa mengikuti jejak Singapura. Kuncinya ada tiga yaitu pendidikan, kesehatan dan ekonomi Pancasila. Pembangunan sektor pendidikan dimulai dengan memberikan kesempatan bibit unggul melalui mekanisme Sekolah Garuda.
Target lulusannya cukup besar yaitu menembus universitas berkelas dunia yang unggul dalam rekam jejak akademis. Dibangun juga sekolah Rakyat untuk memfasilitasi masyarakat dengan akses sosial ekonomi terbatas. Pembukaan akses dan kesempatan masyarakat berpenghasilan rendah menjadi bukti negara berupaya hadir memfasilitasi aspitrasi dan kebutuhan masyarakat.
Niat baik menghasilkan manusia berkualitas tidak cukup melalui pendidikan. Maka digagas perbaikan gizi melalui program makan bergizi gratis. Segi pendidikan dikorelasikan dengan sektor kesehatan. Strateginya para siswa akan berprestasi jika kebutuhan makanan tercukupi.
Selain itu belajar lebih fokus dan diharapkan mampu berdampak kepada kesehatan tubuh. Ketika tubuh sehat, kebutuhan makanan tercukupi, maka otak yang cerdas akan semakin terlihat dalam usaha memajukan kehidupan bangsa Indonesia. Ini artinya pendidikan dan kesehatan menemukan satu tujuan yang sama.
Pendidikan cukup, kesehatan cukup, agar lengkap dicukupi melalui kebutuhan ekonomi. Tercetuslah ide koperasi merah putih. Dengan Koperasi berbasiskan pedesaan dan gotong royong, diharapkan bahan dasar makanan bergizi muncul dari inisiatif penggiat koperasi.
Dapat dibayangkan jika ke depan salah satu fokus koperasi merah putih adalah menyediakan bahan makanan dasar. Maka kebutuhan makan bergizi gratis cukup melalui koperasi merah putih. Arus makanan dari koperasi, lanjut makan bergizi gratis, diakhiri proses pendidikan berkualitas.
Maka hasilnya diharapkan mampu terjadi pada 2045 dalam program Indonesia Emas. Sebuah masa ketika bonus demografi muncul, kalangan pemimpin di Lembaga negara dan swasta dipegang anak muda bervisi unggul, maju, cerdas, dan berkarakter sesuai nilai Pancasila.
***Oleh : Inggar Saputra (Praktisi Pendidikan dan Kebangsaan
