Trenz Indonesia
News & Entertainment

Diary (1) Solo Ride West to East: Panas Terik, Derasnya Hujan Sampai Terjatuh Bego…!

360

Jakarta, Trenz Otomotif I #MelawanLupa Jumat (19/3) malam itu, pertemuan Trenzindonesia.com dengan Bro Jaman Sidabutar atau Opung sapaan akrab dikalangan VOID Chapter Bekasi, di kawasan Limo’s Café, Grand Galaxy City, Blok RSA 05, No. 76, Bekasi Selatan, menjadikan obrolan seputaran keinginan untuk mewujudkan impian riding Jakarta – Larantuka pulang pergi.

Dari sisi usia, diakuinya telah berumur 63 tahun. Namun demikian, Opung Sidabutar menceritakan, keinginannya untuk turing sejauh 6.000-an kilometer dan menghabiskan sebulan perjalanan bermotor tak serta merta asal nekad saja. “Kebetulan saya suka motoran, juga beberapa kali turing week-end, tentunya sudah menjadikan modal tersendiri,” ungkap Opung Sidabutar mengakui yang telah mengantongi exit-permit dari sang istri juga anak-anaknya ini.

Motoran dengan titel “Solo Ride West to East, Jakarta-Larantuka 6.000Km” ini, Opung Sidabutar mempercayakan sebagai teman perjalanannya kepada si kuda besi Kawasaki Versys X250 bernopol B-4362-NGE miliknya. “Karena untuk motor sudah ready. Tinggal sisa waktu jelang start, saya harus menjaga stamina tubuh dan kondisi kesehatan saja,” pintanya.

Mampukah Opung Jaman Sidabutar menembus Larantuka?

Inilah catatan harian “Solo Ride West to East, Jakarta-Larantuka 6.000Km” yang Trenzindonesia.com berhasil dikumpulkan dari Facebook, akun Jaman Sidabutar.

Meguni Motor Kawasaki

Hari ke 1 – Senin, 29 Maret 2021
Perjalanan ini dimulai tadi pagi, berangkat dari rumah Cikeas jam 07.00 WIB. terima kasih bagi para saudara, sahabat dan rekan komunitas yang telah berkenan memberikan support, doa, agar perjalanan ini dapat berjalan dengan baik dan lancar, khusus kepada Pak Ramly Bangun, Pak Robinson Sitepu, Meguni Motor Kawasaki dan Rumah Ban Pondok Kelapa.

Salam sehat 3M…

Dua malam di Wonosobo

Hari ke 2 – Selasa, 30 Maret 2021
Perjalanan “Solo Ride West to East: Jakarta – Larantuka 6000Km” ku sedikit tertunda, karena Crash Bar motorku disenggol pemotor lain, untuk perbaikan membutuhkan waktu hampir seharian, sehingga saya harus stay dua malam di Wonosobo, Jawa Tengah.

Beruntung menjumpai Bro Adit (VOID Chapter Jateng) yang dengan semangat ikut membantu memperbaikinya. Thank’s ya Bro Adit…

Usai perbaikan, sore harinya menyempatkan kuliner untuk icip-icip makanan khas Wonosobo, mie Ongklok. Iya mie Ongklok..!

Saking penasaran, saya pun bertanya kenapa disebut namanya mie Ongklok? “Iya karena merebusnya di ongklok-ongklok, seperti diobok-obok, Pak?” ujar Bro Adit sambil menebar tawanya. Selanjutnya, ia bilang, “Pedagang mie Ongklok ini sudah tiga generasi turun-temurun lho?”

Lumayan enak memang mie ini, untuk satu porsi mie yang dilengkapi dengan sayuran, harganya sangat bersahabat.

Bro Adit menambahkan, mie Ongklok ini hanya ada di Wonosobo, jadi para wisatawan yang singgah di Wonosobo, selain mengunjungi Dieng Plateu, mereka biasanya tak melupakan untuk makan Mie Ongklok.

Salam sehat 3M…

Nepal van Java

Hari ke 3 – Rabu, 31 Maret 2021
Perjalanan pagi hari “Solo Ride West to East: Jakarta – Larantuka 6000Km” dari kota Wonosobo, ngegas menuju Dusun Butuh yang populis dengan julukan “Nepal van Java” berada di ketinggian 1.600 mdpl ini, di lereng Gunung Sumbing.

Selesai explore dan swafoto, saya pun melanjutkan perjalanan menuju Magelang dan berakhir di puncak Telomoyo. Telomoyo yang memiliki ketinggian 1.300 mdpl, satu-satunya gunung di pulau Jawa yang bisa dijelajah menggunakan sepeda motor maupun mobil pribadi. Meskipun demikian, untuk berada di Telomoyo membutuhkan skill berkendaraan yang mumpuni, karena jalanannya cukup terjal, ditambah beberapa tikungan yang memiliki sudut cukup sempit ini. Bahkan terkadang menjumpai jurang di kiri-kanan jalan yang cukup dalam, tentunya sangat mengganggu konsentrasi berkendaran.

Telomoyo yang berhawa sejuk, sesekali kabut turun, mampu membayar lunas rasa letihku berkendaraan.

Menikmati keindahan Telomoyo pun harus disudahi, kembali mengaspal menuju Boyolali, melintas Salatiga dan Surakarta masuk Salatiga, dan Surakarta menyusuri lereng Lawu untuk melihat keindahan Telaga Sarangan. Namun kendati Telomoyo – Telaga Sarangan hanya berjarak ±133km, namun saya memasuki Sarangan sudah pukul 21.00WIB. Pilihannya dan memutuskan untuk bermalam di Sarangan yang berhawa sejuk dan dingin, menjadikan terasa nikmat untuk beristirahat malam.

Karena saya baru kali pertama, sekedar informasi kalau untuk menuju ke obyek wisata telaga Sarangan jalannya berliku-liku dan menanjak, sesekali harus menembus kabut tebal, beruntung jalanan yang lebar dan beraspal mulus, ditambah marka jalan yang cukup jelas, sehingga sangat membantu pengendara melintas disini.

Malam semakin larut, biar esok pagi stamina fresh. Bobo dulu ya? Keseruan ceritanya nanti disambung lagi ya…?

Salam sehat 3M…

Telaga Sarangan

Hari ke 4 – Kamis, 1 April 2021
Setelah puas disuguhi keindahan panorama seputar Telaga Sarangan yang konon luasnya sekitar 1,285 m² ini, danau nan mungil dan cukup indah didukung udara yang sejuk, juga perbukitan nan hijau. Oh iya, untuk suhu udara malam hari mencapai 16°, bisa dibayangkan gelisah tidur tanpa selimut atau sleeping bag.

Di pinggir danau, untuk menu sarapan pagi,  nasi pecel + kerupuk. Sulit untuk menceritakan kenikmatan. Pokoknya juara deh…?

Setelah terpuaskan dengan Telaga Sarangan, sekitar pukul 12.00 WIB, saya pun mempersiapkan untuk kembali melanjutkan perjalanan. Telaga Sarangan pun saya tinggalkan untuk menuju pantai Klayar Pacitan, Jawa Timur.

Mengamati Google Maps, diarahkan untuk melintas jalan alternative, jalan kelas 3 yang berjarak ±125Km, saya mengaspal bukan lewat Ponorogo, atau juga bukan Wonogiri yang sering dilalui jalur Bus, tetapi lewat jalan alternative, yakni Purwantoro – Kiswantoro – Nawangan – Arjosari – Pacitan – Pantai Klayar, dimana kondisi jalanan cukup sempit dan terjal, lengkap dengan tikungan tajam-tajam.

Pantai Klayar

Memasuki kota Pacitan hingga ke pantai Klayar, turut menemani perjalananku guyuran hujan yang lumayan deras, karena sudah agak sore dan khawatir kemalaman maka perjalanan tetaqp terus dilanjutkan sampai ke pantai Klayar.

Menjelang pantai Klayar, ketemu tikungan ke arah kanan yang melingkar dan nanjak ditambah pengaruh derasnya hujan, konsentrasi jadi agak terganggu maka momentum ngegas juga terganggu, berujung motor yang kehilangan power terhenti dengan posisi agak miring. Yaa…. Ya… akibatnya terjatuh bego deh?

Dikarenakan memasuki pantai Klayar, arloji di pergelangan tangan kiriku telah menunjukan pukul 19.00-an, sehingga rada sulit untuk bisa menikmati keindahan pantai itu.

Beruntung tak membutuhkan waktu lama untuk mendapatkan penginapan. Selepas makan malam, istirahat sejenak, selanjutnya merebahkan tubuh di kasur.

Sampai ketemu pada perjalanan berikutnya…

Jangan lupa salam sehat 3M…

(Bersambung…)

 

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.